
Sham terlihat gelisah, banyak tanda tanya dalam kepalanya. Melihat Nia dan Isman nampak akrab membuat hatinya penuh kecemburuan karena dia benar-benar menyukai Nia, dia tidak rela seandainya benar Nia memang pacaran dengan Isman.
"Malam ini aku kena pastikan!" tekadnya dalam hati, kemarin malam dia nggak punya kesempatan bicara dengan Nia, situasi tidak memungkinkan dan malam ini Nia terlihat agak santai, pekerjaannya tidak terlalu banyak.
Sham menghampiri Nia yang sedang duduk di depan meja chekingnya.
"Kau buat ape?" tanyanya kemudian.
Nia menoleh ke arah datangnya suara kemudian dia tersenyum,
"Saje, tunggu PCB datang" jawabnya.
Sebetulnya dia tengah memikirkan kejadian kemarin malam, nggak tahu kenapa dia nggak bisa berhenti memikirkannya.
Sham mengambil posisi duduk di meja chekingnya Nia, dia menatap Nia
"Nia.. apa yang kau buat semalam dengan Isman kat tangga tu?" Hisham bertanya, dia tidak bisa menahan diri lagi.
Nia terperangah mukanya memerah, dia tidak menyangka Sham akan bertanya seperti itu tanpa basa-basi.
"Maksud Abang apa?" Nia balik bertanya, berusaha menutup rasa gugupnya "Tuh kan.. benar, ada orang yang melihat" rutuknya dalam hati.
Sham mengernyitkan dahi nya "Tak kan Kau tak paham!" jawabnya
"Aku tengok Kau keluar dari pintu kecemasan tu, beriringan dengan Isman" lanjutnya
"Kau buat ape kat sana?"
"Eh.. Aku.., iisssh.. Abang ingat aku buat ape?!" Nia melotot, dia kesal juga dengan cara Sham bertanya, ini orang bertanya apa nuduh sih.
"Tu lah.. Abang tanya, tak elok berduaan dengan laki-laki kat tempat tertutup macam tu!" jawab Sham
Nia mendelik tambah kesal, orang ini rupanya benar-benar menuduh dia berbuat yang tidak-tidak rupanya.
Bruuk! Nia memukul meja, "Hati-hati kalau bicara!"
Nia beranjak meninggalkan Sham yang terbengong-bengong tak menyangka Nia akan berkata begitu, bukan jawaban yang dia dapat tapi kemarahan gadis itu.
Sham garuk-garuk kepala "Aku tersilap cakap ke?" tanyanya dalam hati, ia bingung dengan sikap Nia.
Nia mengomel dalam hati, "Seenaknya aja dia ngomong, emang aku cewek apaan!" lagian kejadian semalam bukan keinginannya, dia justru pihak yang di rugikan.
"Lagian ngapain sih cowok itu ikut campur urusan orang!" gerutunya, tanpa sadar Nia berjalan ke area Packing.
"Duduk kat sini!"
"Eh..!" Nia terkejut saat Isman menarik tangannya menyuruh ya duduk di kursi yang tersedia, dia baru sadar sudah berada dia area packing sekarang.
"Apa hal dah jadi?" tanya ya kemudian.
Tadi sebenarnya Isman melihat dari kejauhan Nia sedang bicara dengan Sham, tapi tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dia fikir hanya urusan kerjaan, tapi melihat raut muka Nia yang nampak kesal, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Nia merengut "Ekor kejadian semalam, dia nampak kita keluar beriringan dari pintu tu, dia fikir kita buat macam-macam!" jawab Nia.
Isman mengepalkan tangannya, Ia jadi merasa bersalah gara-gara dia gadis itu yang kena tuduh macam-macam
"Salah Abang, biar Abang clearkan ye!" Isman bermaksud menghampiri Sham yang masih berada di area QA, tapi tangannya di tarik Nia.
Nia menggelengkan kepala "Tak payah, biar je!"?
"Tapi...."
Belum sempat Isman menyelesaikan bicara ya, Nia menarik Isman kebalik tumpukan dus PCB yang sudah di packing. Isman terkejut, belum sempat dia berfikir Nia sudah mendaratkan kecupan di bibirnya.
"Ini, Abang sudah mencurinya, aku ambil balik sekarang, Aku nak lebih, tak nak sekedar kawan!"
"Nia..." Isman tak bisa berkata-kata, mendapatkan durian runtuh belum apa-apa, ini lebih dari itu. Isman memeluk Nia dengan bahagia, dipandanginya wajah gadis itu penuh sayang, dia berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan nya.
"Nia, boleh tak.." Isman mengerlingkan matanya, dia masih ingat perjanjian malam tadi.
Nia menggangguk kemudian menunduk malu. Sebetulnya dia sedang mengutuk diri sendiri, kenapa dia bisa berbuat sejauh ini, kenapa dia jadi error begini, ini seperti bukan dirinya.
Isman sudah tak sabar lagi, karena sudah dapat lampu hijau dia kini berani mendaratkan kembali bibirnya di bibir Nia, Nia membalasnya dengan mesra.
"Ehmm.."
Suara deheman kecil, membuat mereka terkejut, spontan Nia mendorong tubuh Isman menjauh darinya, pura-pura tidak terjadi apa-apa, dia berlalu meninggalkan Isman yang salah tingkah menuju ke area QA.
Isman sudah menduga yang datang adalah Maslan temannya. Dia menghampirnya Maslan, cowok itu tampak menyeringai
"Good Job!" guraunya, dia mengangkat jempol "Aku yakin sekarang kau memang jantan!"
"Sssttt...!!, Kau tadi nampak apa?" tanya Isman sambil berbisik,
"Takde, Aku tutup mata tadi!" goda Maslan. "Aku dengar je.."
"Sssttt... Diam!" Isman meminta Maslan tutup mulut, dia mendengar langkah kaki menuju kearah mereka, ternyata orang itu Sham.
Sham memandang Isman dengan tatapan kesal, Isman balas mentap dengan dingin, Isman nggak tahu kenapa Sham menatap ya dengan tatapan seperti itu.
"Aku nak cakap berdua dengan Kau!?" Sham membuka suara memulai percakapan
"Oke, nak cakap apa? cakap lah!" jawab Isman dingin.
Sham belum menjawab pertanyaan Isman, dia melirik ke arah Maslan. Maslan paham dengan isyarat mata Sham,
"Oke.. Oke.. aku pergi!" ucapnya sambil belalu.
"Cepatlah, Kau nak cakap apa?" tanya Isman tak sabar
"Kau..jangan dekat-dekat awe itu lagi! Kau tak layak dengannya!" Hisham langsung bicara tanpa basa-basi
Isman terkekeh mendengar ucapan Sham, membuat Sham tercengang dengan sikap Isman
"Siapa? Nia?" tanya Isman sambil tersenyum, membuat Sham tambah jengkel.
"Ya! Aku suka dia!" jawab Hisham tegas.
Isman masih tersenyum, "Kau suka dia, kau ingat Kau seorang je suka kan dia? Aku pun sama suka kan dia!"
"Kau tak sesuai bersamanya!"
"Kau ingat kau sesuai ke?" Isman mulai kesal, terpancing dengan kata-kata Sham.
Sham menyeringai "Ye lah, Aku lagi sesuai!"
Isman kembali terkekeh, dia memuji sikap Sham yang percaya diri, cuma sayang sekali dia kalah satu langkah darinya, Sham tidak tahu sejauh mana status hubungannya dengan Nia sekarang.
"Oke.. kita tanding secara jantan ye, tengok nanti Nia pilih siapa?!" Isman tersenyum penuh arti
Sham geram juga melihat Isman yang percaya diri, terang-terangan mengajaknya bersaing untuk mendapatkan Nia
"Oke fine!" Jawab Sham tegas,
Isman tersenyum geli, sebetulnya tidak perlu begitu pun sudah jelas Nia di pihaknya, Kejadian barusan membuktikan gadis itu tak ingin hanya sekedar berkawan dengannya, dia telah jelas memilihnya dan dia sudah memiliki hati gadis itu.
Namun ia sengaja ingin mempermainkan Hisham, ingin melihat sejauh mana cowok itu berusaha mendapatkan hati gadis itu.