My Love Undercover

My Love Undercover
Perdamaian



Nia sedang membereskan kepingan PCB yang baru saja selesai di ceknya saat Sham datang mengantarkan satu lot PCB dengan label urgent ke hadapannya.


Sham mengambil tempat duduk di samping meja Nia


"Tolong nanti chek yang Ni ya..!" pinta Sham membuka pembicaraan, Nia menatap Sham dia mengerutkan keningnya, tumben anak ini minta tolong padanya padahal semenjak mereka pulang dari Kuala lumpur hari itu, anak itu selalu mencoba menghindarinya, padahal Nia sudah berusaha bersikap biasa padanya.


Sham menyeringai melihat Nia yang sedang menatapnya


"Kenapa?" tanyanya


Nia terperangah, "Eh, takde pape lah, ni urgent sangat ke?" Nia balik bertanya


"Urgent, tapi takpelah boleh chek lepas rehat nanti" jawab Sham sambil melihat jam di tangannya, sebentar lagi memang waktunya istirahat.


"Ooo.. ye lah nanti aku chek lepas rehat ye!" sahut Nia, sambil kembali membereskan PCB di tangannya. Sham mengangguk setuju.


Tak lama bel istirahat berbunyi, Nia memang tak berniat pergi ke kantin, tadi pagi dia sudah sarapan perutnya masih terasa kenyang. Dia memilih tetap duduk di kursinya sambil mengerjakan laporan.


"Tak nak naik kantin ke?" tanya Sham, dia juga masih belum beranjak dari duduknya.


"Tak lah, masih kenyang.." jawab Nia pendek.


"Abang kenapa tak rehat?" Nia balik bertanya.


"Tak lah, tanggung kejap je rehatnya!" jawab Sham.


Nia terdiam, dia nampak serius dengan laporan yang di buatnya. Sham memandanginya dengan perasaan yang sulit di gambarkan.


Hari ini beruntung dia punya kesempatan ngobrol dengan Nia, kebetulan Isman hari ni tengah Off, sementara Nia mengambil Overtime. Kalau Isman ada mana bisa dia ngobrol kaya gini.


"Kenapa?" tanya Nia mengejutkan Sham, Nia dari tadi memang sadar Sham sedang memandanginya.


"Eh.. takde pape!" jawab Sham gelagapan


Nia tersenyum "Nak, tanya boleh..?"


"Tanya lah.." jawab Sham


"Emm.. Kenapa masa kat KL tu Abang asyik masam je..?!" tanya Nia.


"Kau tak faham ke?" Sham balik bertanya dengan sorot mata tajam


Nia menggelengkan kepala,


"Tak faham, takpe lah!" jawab Sham


Nia mengerutkan keningnya "Abang, kita kan kawan, Nia dah anggap Abang macam abang sendiri, kalau ada pape hal tu crite lah!"


Sham terdiam sejenak "Sebetulnya Abang tak suka tengok Kau dengan Isman tu?"


"Kenapa?" tanya Nia heran..


"Sebab abang jealous lah.. faham?"


Nia terkekeh.. "Kenapa jealous, kan abang dah ada Ezan..?"


"Takde lah, takde pape dengan dia tu!" jawab Sham serius.


"Ye ke.." goda Nia.


"Abang serius lah..!" jawab Sham kesal.


Nia terdiam "Abang jangan jealous ya, Nia dah anggap abang cam abang kandung, Nia takde abang!"


Sham menunduk lesu, sepertinya tak ada harapan baginya, dia harus menerima kenyataan bahwa Nia memanng menolaknya dengan halus. Dia pasrah.


"Oke lah Nia, mulai sekarang kamu abang anggap adik ye.. pape hal, cakap lah kalau nak abang tolong, abang buatlah..!"


Nia tersenyum, hatinya sedikit lega Sham mau menerima kenyataan dan berdamai dengannya.


"Deal ye..!" sahut Nia, "First time, adik abang ni nak Tom Yam, abang belikan tak?" tanya Nia nakal, dia sengaja ingin ngerjain Sham.


Sham tersenyum, "Baiklah, nanti balik ikut kreta abang, abang belanja! tak nak ikut tak dapat lah Tom Yam tu!"


Nia terkekeh, "Oke lah.. tak takut pun!" tantang Nia.


"Hei.. kamu tak takut Isman marah ke?"


"Tak lah, dia takan marah.. nanti tunggu kat parking tu ye..!" jawab Nia serius, di kepalanya sudah ada sebuah rencana, Isman pasti nggak akan marah.


"Tengok lah!"


Bel masuk yang berbunyi menghentikan obrolan mereka, Nia kembali meneruskan kerjaannya mengambil sampling PCB yang di bawa Sham tadi


Sham kemudian berlalu meninggalkan Nia, dia harus kembali ke PC office.


*****


Bel pulang telah berbunyi, Nia bergegas menuju area parking, disana Susri, Iren dan Yani sudah menunggu, Nia menghampiri mereka,


"Jom.." ajak Nia,


Nia menghampiri sebuah mobil, Sham sudah menunggu dalam sambil mendengarkan musik, dia menoleh saat nia membuka pintu mobil,


"Hai..!" sapa Sham "Berani pula kamu ni!"


"Berani lah Bang!" jawab Nia tersenyum licik..


Sham tidak menyadari di kursi belakang ada trio yang sudah duduk manis, karena dia sibuk dengan headsetnya dari tadi.


"Haai.." seru trio itu membuat Sham hampir terloncat kaget.


"Alahmak..!" seru Sham kesal, patutlah Nia berani rupanya dia bawa pengawal, tiga lagi tuh. Sham tepuk jidat, baru sadar Nia sedang mengerjainya.


"Jom..!" Ajak Nia.


Sham segera menjalankan mobilnya, "Habislah aku hari ni" gerutunya


***


Sham memperhatikan empat orang di hadapannya yang sibuk menikmati Tom Yum dan teh tarik, dia sendiri sudah selesai menghabiskan bagiannya.


Dia memandangi Nia, gadis ini memang beda dari teman-temannya sikap dan karakternya memiliki pesona yang menarik bagi setiap kaum adam, senyum manis bila dipandang.


"Ehm.." Yani berdehem, membuyarkan lamunan Hisham,


"Asyik tengok Nia je!" celetuk Yani, Nia mengangkat wajahnya melihat ke arah Yani heran.


Sham tersipu "Mana ada lah!" sahut Sham


Yani tergelak mendengar Sham sepontan menjawab karena dia merasa sedang memperhatikan Nia. Padahal ucapan Yani tadi tidak sengaja di tujukan pada Sham..


Susri dan Iren ikut tertawa melihat Sham yang kelihatan malu.


"Dah lah tu!" Nia menengahi, kasian melihat Sham di goda teman-temannya.


"Abang kalau suka Nia tu.. cakaplah!" todong Susri


Muka Sham jadi memerah, "Dia tak Nak lah Sus!" jawabnya


"Ye lah, pasti tak nak dia kan dah ada abang..!" sahut Iren menggoda Nia


Nia menyikut tangan Iren "Sssstttt!"


Iren nyengir, semetara Yani dan Susri melongo mendengar ucapan Iren.


"Yah.. kamu curang deh..!" seru Yani "Masa kita nggak di kasih tahu!"


"Iya, abang kamu yang mana sih.." tanya Susri penasaran.


Nia melirik ke arah Sham, cowok itu kelihatan sedikit tertekan dengan candaan teman-temanya. Nia bukanya tak faham dengan perasaan Sham, tapi dia nggak mau Sham terus berharap padanya.


Sham harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah memiliki Isman di hatinya dan tak ada tempat buat orang lain.


"Dahlah tu, nanti aku kenalin ya..!" sahut Nia.


Sham menatap Nia tajam, betul-betul harapan nya sekarang ini hilang sudah. dia pasrah hanya bisa dekat dengan Nia sebagai Abang dengan adiknya.


"Bang, thanks ya dah belaja kita!" ucapan Nia membuyarkan lamunan Sham


"Ye Bang, thanks ye!" sahut Iren, kita balik Hostel dulu ye..


Sham mengangguk, "Tapi tak boleh sering-sering minta belanja ye.., nanti bangkruf pula abang ni!" candanya


Keempat gadis itu tergelak mendengar candaan Sham, mereka kemudian meninggalkan Sham menuju Hostel yang tidak berapa jauh dari tempat mereka makan barusan.