My Love Undercover

My Love Undercover
Rencana Yang Gagal



Di bilik 33


"Ni, kita jalan ke KL yuk" ajak Iren, teman satu bilik Nia


"Kapan sama? Siapa?"


"Kamu kenal Bang Sham yang anal PC itu kan? Dia yang ngajakin!" jawab Iren


"Oh, Sham yang itu maksudnya? tanya Nia


"Iya, naik kereta dia!" sahut Iren "Kamu ikut ya.. temenin aku!" pintanya


"Cie.. nggak seru dong, masa dating di temenin!" goda Nia.


"Ih.. siapa lagi yang dating, aku temenan aja sama dia" Iren merengut, dia memang hanya menganggap Hisham sebagai abang.


"Bener nih aku boleh ikut?" tanya Nia sambil cengar-cengir,


"Ajakin cowok aku boleh nggak?"


"Iya ajakin aja, kereta ya muat empat orang kok!" jawab Iren sungguh-sungguh.


"Iya, makanya aku ajak kamu biar ada temen masa pergi berduaan, nggak seru!" sahut Iren


"Siap Bos!!" sahut Nia girang, kapan lagi ada kesempatan jalan-jalan gratis kayak gini, sudah lama dia pengen tahu Kuala Lumpur.


Sekarang dia harus telpon Isman.


"Bang.. Boleh ye.." bujuk Nia,


"Bila masa nak pergi?" tanya Isman sambil menghela nafas,


"Off nanti!" sahut Nia


Isman terdiam, bimbang. Off nanti dia dah di plan kan untuk overtime, tapi nggak mungkin mengizinkan Nia pergi tanpanya, Sham bisa saja ngambil kesempatan mendekati Nia nanti.


Melarang Nia pergi juga bukan Ide bagus, gadis itu nampaknya ingin sekali pergi.


"Oke, Abang ikut!" sahut Isman kemudian, dia memutuskan ikut pergi, mending di marahi leadernya daripada membiarkan Sham mendekati Nia. Isman merasa ini juga sebetulnya cuma taktik Sham mendekati Nia melalui Iren teman se-bilik nya Nia.


"Makasih Abang sayang.." goda Nia..


"Mmmmuuuachh"


Isman tersenyum sendiri, dia merasa hidupnya ceria kembali dengan kehadiran Nia di sisinya.


****


Sham terlihat menekuk mukanya kesal, gagal deh rencananya kali ini untuk mendekati Nia, dia fikir Isman nggak mungkin ikut mereka ke Kuala Lumpur, soalnya sudah ada jadwal seharusnya dia overtime hari ini, siapa sangka dia membatalkan overtimenya demi mengawal Nia yang ikut ke Kuala lumpur menemani Iren.


Sham memacu mobil ya dengan kecepatan tinggi, kesal betul dia hari ini, dari berangkat tadi pagi Isman yang duduk dengan Nia di jok belakang, terus menggenggam kemari Nia, tak melepaskan sedetik pun. dia mengintip dari spion nampak Isman tengah menyeringai ke arahnya, seolah-olah sengaja memanas-manasi dia.


Dia sudah tahu Isman memiliki hubungan dengan Nia, tapi dia tidak mau menyerah begitu saja, walaupun dia sudah kalah satu langkah dari Isman tapi dia tetap tidak mau mengakui kekalahan itu, dia masih tetap berusaha mengambil hati Nia, walau harus merebut ya dari Isman bukan masalah baginya.


"Bang Sham, nanti bisa rehat sebentar tak? Aku nak pergi tandas!" tanya Iren sambil melirik Sham yang terdiam sambil menyetir.


"Oke, abang berhenti kat tempat rehat nanti ye!" jawab Sham.


Sementara di jok belakang Nia mulai merasa pusing, dia tidak terbiasa dengan AC mobil. Isman melihat Nia mulai gelisah


"Kenapa yang?" bisiknya


"Aku pening bang, rasa mual... mabuk nih!" jawab Nia


Isman faham dengan kondisi Nia, dia berusaha mengurut tengkuk Nia untuk meredakan pening dan mualnya Nia.


Isman meletakkan kepala Nia di bahunya,"Sayang, tidur je dulu, kejap lagi kita sampai rest area" bisiknya.


Nia menurut, dia berusaha memejamkan matanya menghilangkan rasa pusing dan mualnya. Isman mengusap-ngusap kepala Nia dengan sayang, dia memang sangat menyayangi gadis itu.


Sham melirik kaca spion, dia mengatupkan rahangnya, "Ah, Sial! Kenapa jadinya Aku harus menyaksikan smua pemandangan ini?" gerutunya.


Sampai di rest area, Nia bergegas menuju tandas dia sudah tidak tahan lagi ingin menumpahkan isi perutnya, Iren mengikuti dari belakang, nampak hawatir dengan kondisi temannya.


Sementara Sham dan Isman duduk di kedai menunggu dua gadis itu kembali, mereka berdua diam tak saling bicara, Isman nampak hawatir menunggu Nia kembali dari tandas, sementara Sham pun sama khawatirnya dengan Isman.


Tidak lama berselang, nampak Nia keluar dari tandas di gandeng Iren, Isman langsung berdiri menyambut Nia, mendudukannya di sebelahnya.


"Ayang oke tak?" tanya ya khawatir,


Sham memandang mereka dengan kesal.


"Wah, dia muntah banyak tuh Bang!" Iren mendahului Nia menjawab pertanyaan Isman sambil menurut punggung Nia.


"Kayaknya kamu masuk angin Nia, coba minum teh manis hangat ya!" lanjut Iren


"Biar, aku pesankan teh nya" Sham berdiri menghampiri pemilik kedai, dia sebetulnya tidak tahan juga melihat perhatian Isman terhadap Nia yang menurutnya sengaja untuk membuat hatinya panas.


"Kamu bawa kayu putih nggak Ren?" tanya Nia


"Eh, ada dalam tas ku, tapi tas nya di tinggal di mobil" jawab Iren,


"Ya, udah nggak apa-apa, nanti aja!" sahut Nia.


Dia masih merasa kepalanya pusing dan sedikit berat, kalau di gosok minyak kayu putih kayaknya pusingnya akan sedikit berkurang.


Isman masih mengurut yang tengkuk Nia, melihat pemandangan ini membuat Iren jadi malu sendiri, Isman seperti nggak perduli keadaan sekitarnya, yang ia perhatikan cuma Nia.


Iren sedikit iri dengan Nia, beruntung sekali Nia mendapatkan perhatian dari dua cowok sekaligus.


"Ini teh nya!" Sham membawa segelas teh manis kemudian menghulurkannya pada Nia.


"Makasih Bang" sahut Nia, menerima teh manis dari Sham.


"Yang, kuat lagi tak bila lanjut, KL masih jauh! Kalau tak kuat kita balik Johor je!" tanya Isman.


"Sham, takpe kan bila kita balik semula?" dia bertanya pada Sham.


"Aku tak kisah!" jawab Hisham, dia melirik Iren.


"Iya, nggak apa-apa kita balik lagi aja!" sahut Iren.


"Nggak usah balik lagi, aku nggak apa-apa ko Ren, masih kuat!" Nia menolak untuk putar balik lagi ke Johor soalnya, dia merasa nggak enak kalau rencana mereka jadi kacau gara-gara dirinya.


"Oke lah kalau macam tu! Jom kita lanjut sekarang?!" ajak Isman.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Kuala Lumpur, sepanjang perjalanan kali ini Nia memilih untuk tidur, dia berbaring di jok dengan kepala berbantal kan paha Isman. Isman terus mengusap kepala Nia sesekali mengurut pelipis gadis itu.


Isman memang khawatir dengan keadaan Nia, tubuh gadis itu sedikit demam, Isman membuka jaketna kemudian menutupi kaki Nia dengan jaketnya


Nia menggumam "Terimakasih.." ucapnya.


Nia merasa hatinya hangat, Isman ternyata sangat perhatian padanya, bahkan terkadang terlalu berlebihan, perhatian Isman membuatnya merasa tersanjung, betul menurut teman-temannya laki-laki melayu itu orangnya romantis.


Sham terdiam tidak banyak bicara, Iren yang duduk di sampingnya pun rupanya tertidur juga, tinggal lah dia sendiri dengan hati kesal melaju membawa mobilnya.


Dia merasa dirinya kini seperti supir pribadi yang mengantarkan sepasang kekasih yang sedang bulan madu.


"Hisssh..!" gerutunya dalam hati, rencananya kali ini gagal total.