My Love Undercover

My Love Undercover
Perkenalan



Isman tersenyum memandang langit-langit kamar, dia betul-betul jatuh cinta dengan gadis itu, Nia yang malu-malu yang terkadang membuatnya gemas, dia ingin selalu memeluk gadis itu.


Seandainya saat ini gadis itu ada dihadapannya, mungkin sudah habis dia terkam.


Sementara itu Nia membaringkan tubuhnya, membayangkan seandainya Isman betul serius dia mungkin harus tinggal selamanya di negeri ini, berpisah jauh dengan keluarganya di Indonesia.


Tapi apapun yang terjadi ia tetap harus memperkenalkan Isman pada Ibu nya, dia sudah berjanji pada Isman, tapi sampai saat ini dia belum menemukan cara yang terbaik. Besok rencananya dia mau telpon Ibunya, apa sebaiknya sekalian bilang tentang Isman, Nia masih bingung.


******


Nia sedang membereskan mejanya saat Isman menghampirinya. Sekarang sudah waktunya pulang ke Hostel.


"Sayang.. Abang tunggu kat parking ye.." bisik Isman perlahan


Nia mengangguk "Oke!" sahut Nia pendek sambil mengamati sekelilingnya takut ada yang mendengar ucapan Isman tadi.


Teman-temannya di QA tidak ada yang tahu dia pacaran dengan Isman, anak packing juga cuma Mazlan yang tahu. Ia memang masih merahasiahkan status pacaran ya dengan Isman.


Isman beranjak pergi meninggalkan Nia yang masih berbenah. Tak lama kemudian bel pulang berbunyi, setelah laporan selesai dengan tergesa-gesa Nia beranjak menuju tempat Punchcard takut ngantri terlalu panjang kalau telat sedikit, Isman pasti sedang menunggunya di tempat parkir sekarang.


"Kita nak gi mana bang" tanya Nia berbisik setelah motor yang mereka tumpangi keluar dari area Kilang.


Isman tidak menjawab, sebelah tangannya meraih tangan Nia kemudian meletakkannya di pinggangnya,


"Peluk Abang!" pinta Isman


Pipi Nia bersemu merah, baru pertama kali dia dibonceng sambil memeluk begini, Nia menurut dia memeluk Isman dari belakang


Isman tersenyum senang merasakan pelukan Nia, punggungnya terasa hangat karena dada Nia menempel di punggungnya.


" Kita nak gi mana?" Nia mengulang pertanyaannya yang belum di jawab Isman


"Kita cari makan" Jawab Isman sambil terus mengendarai motornya, hari ini ia ingin mengajak Nia makan di Kampung Pasir Putih.


"Oo.." Sahut Nia


Isman menambah kecepatan motornya, membuat Nia sedikit ketakutan dan mempererat pelukannya,


"Jangan laju-laju bang..!" Teriak Nia ketakutan


Isman tertawa senang, dia memang sengaja membuat Nia takut, biar Nia memeluk ya erat..tapi dia tak sampai hati juga membuat Nia terus ketakutan, dia memperlambat kembali laju motornya. Nia menarik nafas lega.


Isman tersenyum, sebelah tangannya mengelus jemari Nia yang masih memeluknya,


"Takut ya sayang.." goda Isman..


"Abang Ni...." gerutu Nia, "Jangan buat camtu lagi.. Ok..!"


"Ye lah.. Ye.. Lah.." jawab Isman sambil terkekeh.


Isman kini mengendarai motornya pelan-pelan sambil sesekali mengusap punggung tangan Nia, di belakang Isman Nia tersipu dengan perlakuan Isman, dia menyadarkan kepalanya di punggung Isman, begini rupanya rasanya pacaran, bathin Nia.


Tak selang berapa lama mereka sampai di tempat yang di tuju, Isman segera memesan makanan mereka, Nia memang sedang tidak mood makan dari pagi tadi cuma memesan segelas Teh Tarik sementara Isman memesan Tom Yum.


Melihat Isman sudah selesai makan, Nia mengeluarkan Handponenya, "Bang, aku mau telpon Ibu sekarang ya.."


Isman nampak terkejut, hari itu dia minta Nia memperkenalkannya pada Ibunya Nia, tapi hari ini kayaknya dia jadi merasa bingun sendiri, apa yang harus di obrolin nanti..


"Eng.. Abang mesti cakap apa nanti ye.." Isman mengusap tengkuknya, keringat dingin mulai keluar, dia merasa neurves..


Nia tersenyum melihat tingkah Isman, kemaren aja dia sok-sok an minta di kenalin, sekarang dia malah kelabakan..


"Takpe, sapalah sekejap.. kenalan diri abang je dulu!" Jawab Nia.


"Ok.. Ok.." sahut Isman, dia berusaha mengumpulkan keberanian ya.


Nia berhenti berbicara ia kemudian menyerahkan HP nya pada Isman. Dengan ragu Isman menerimanya Ia kemudian menempelkan Hp itu di telinganya..


"Assalamualaikum.." Isman memulai percakapan dengan Ibunya Nia, "Saya Isman Makcik..saya kawan Nia!"


Nia memperhatikan Isman yang sedang ngobrol sama Ibunya, wajah Isman terlihat serius, sedikit tegang.


"Oh.. saya berasal dari Trengganu.."


"Mmmm.. Ye.. Makcik.,


"Baik Makcik.."


"Terimakasih.. "


"Bye.. Assalamualaikum"


Isma menyerahkan kembali Handponenya pada Nia, Ia menarik nafas lega, senyum sumringah tersungging di bibirnya.


Nia melanjutkan bicara ya sebentar, kemudian mengakiri percakapannya


"Iya Bu.. Baik... Assalamualaikum."


Isman segera bertanya pada Nia setelah Nia menutup telponnya, dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan di telpon


"Ibu cakap apa..?" tanya nya penasaran


Nia tersenyum nakal, tak langsung menjawab. Dia sengaja ingin membuat Isman penasaran.


"Sayang, cerita lah!" Isman menggengam jemari Nia,


"Hmmm..." Nia tidak melanjutkan kata-katanya membuat Isman semakin penasaran. Isman menahan nafas.


"Dia kirim salam kat abang!" lanjut Nia.


Isman melongo, "Itu je?" tanyanya "Pastu tadi yang panjang-panjang tu cerita apa?"


"Oh, cerita pasal Aku kat sini bang, tadi Ibu cakap apa pada Abang?" Nia balik bertanya


"Mmm...Takde pape, Ibu minta tolong Abang jaga kan sayang ni, sebab sayang Abang ni degil, itu Ibu cakap tadi.." jawab Isman sambil terkekeh..


"Degil?, betul kah Ibu cakap macam tu?" Nia tak percaya dengan apa yang dikatakan Isman.


"Tak, lah.. Sayang Ni, baik hati.. Nakal sikit ada lah..!" goda Isman. Nia memonyongkan bibirnya


"Takpe, Nakal pun pada Abang je.. Ye kan?" lanjut Isman.


"Hmmm.. Ye lah tuh..!" Jawab Nia tersipu.


"Jom, balik..!" Isman mengajak Nia pulang, hari sudah mulai gelap saat mereka meninggalkan tempat itu, sebentar lagi sudah masuk waktu magrib.


Sepanjang jalan, mereka tak banyak bicara, Isman asyik dengan hatinya, hari ini dia betul.- betul gembira bisa berkenalan dengan Ibunya Nia.


Sementara itu Nia pun sama, dia senang karena Ibunya mengijinkannya punya teman dekat, dengan syarat harus bisa jaga diri.


Nia mempererat pelukannya pada pinggang Isman, kembali menyadarkan kepalanya di punggung Isman, hari ini sudah yakin dengan hatinya, sudah 99 persen menerima Isman. yang satu persen nya ketentuan dari Allah.


Nia sadar, sekarang ini Ia hanya coba menjalani kisahnya dengan Isman, bukannya mudah untuk betul-betul melangkah ke jenjang pernikahan, banyak rintangan dan hambatan di depan nanti, sanggupkah dia dan Isman melewati ya.? Semoga saja.


"Sayang, dah sampai!" ucapan Isman membuat Nia tersadar dari lamunannya, ternyata mereka sudah sampai di depan Hostel yang Nia tempati.


Nia segera turun dari boncengan, malu kalau di lihat teman-temannya, pasti mereka akan menggoda ya habis-habiskan nanti.


" Bye sayang..!" Isman pamit pada Nia yang masih berdiri " Nia mengangguk, setelah Isman pergi Nia bergegas masuk kedalam Hostel nya.