My Love Undercover

My Love Undercover
Obrolan Serius



"Sayang..Masih mabuk tak?" tanya Isman sambil merangkul bahu Nia mesra.


Nia merasa malu dengan kelakuan Isman yang merangkulnya begitu di hadapan Sham dan Iren,


Sham membuang muka sementara Iren memperhatikan mereka dengan iri.


Nia melepaskan tangan Isman dari bahunya," Ish, jangan macam ni, malu sama mereka" bisiknya,


Nia merasa risi dengan kelakuan Isman yang terkadang tidak perduli dengan keadaan di sekelilingnya.


Isman nyengir, sebenarnya ia sengaja ingin memamerkan kemesraan di hadapan Sham, secara tidak langsung Isman sebenarnya ingin mengatakan pada Sham, semua sudah berakhir. Nia sekarang hanya miliknya.


Sham sendiri bukannya tidak peka dengan semua sikap Isman, tapi sampai saat ini dia belum bisa menyerah, masih berharap suatu hari nanti Nia akan berpaling padanya.


***


Sham mengerutu dalam hati, malam ini dia harus tidur sekamar dengan orang yang jadi rivalnya, sementara Isman bersikap biasa saja, seolah tidak ada apa-apa diantara mereka.


"Kau nak ikut pergi cari angin tak? tanya Isman pada Sham yang sedang tiduran di kasur, mereka baru saja sampai di kamar penginapan mereka,


"Tak lah!" jawab Sham pendek, dia membalikan tubuhnya membelakangi Isman yang baru selesai mandi, moodnya sudah hilang saat ini, cukup selama perjalanan tadi dia menyaksikan pemandangan yang menyebalkan.


Isman nyengir, baginya memang lebih baik kalau Sham tidak ikut bersama mereka, rencananya malam ini dia mau ngajak Nia jalan-jalan di sekitar tempat penginapan sambil cari makan.


Nia sudah bersiap, setelah beristirahat sebentar tadi, sekarang mabuknya sudah lumayan hilang, sekarang dia lagi nunggu Isman menjemput ke kamarnya.


Dia sudah ngajak Iren untuk pergi bersama, tapi Iren menolak ikut serta, lelah katanya, Nia paham Iren kayaknya nggak enak hati kalau ikut pergi bersama orang yang lagi pacaran.


Terdengar ketukan di pintu, sepertinya Isman yang datang, Nia siap - siap mengambil tas nya sebelum membuka pintu


"Aku pergi dulu ya" Nia berpamitan pada Iren yang baru selesai membersihkan tubuhnya, Nia membuka pintu, ternyata benar Isman.


"Jom!" ajak Isman, kemudian menggandeng tangan Nia mengajaknya berangkat. Nia menangguk mengikuti Isman.


Mereka kemudian sampai di pintu lift, setelah lift berhenti mereka masuk kedalamnya, di di dalam hanya ada mereka berdua.


Isman memeluk pinggang Nia, kemudian spontan dia mencium bibir Nia dengan penuh perasaan, nggak tahu kenapa bibir Nia seperti candu baginya.


Nia mendorong tubuh Isman, Isman melepaskan ciumamnya.


"Abang nih.. malu lah..macam mana kalau ada orang nampak nanti!" gerutu Nia.


Isman cengengesan, melihat Nia kesal, "Maaf sayang.. Abang tak tahan lah kalau dekat-dekat, mesti nak peluk nak cium"


Nia mendelik, bahaya nih kalau begini terus gerutunya dalam hati.


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai dasar, Isman kembali menggandeng tangan Nia, berjalan keluar dari penginapan.


"Bang, camne kalau nanti aku habis kontrak..?" tanya Nia serius.


Isman menghentikan langkahnya, dia belum berfikir sejauh itu, dia hanya berfikir saat ini, dia ingin Nia selalu ada di sampingnya.


Isman terdiam sesaat "bila Ayang habis kontrak?" Isman balik bertanya


"Mungkin sekitar setahun lagi" jawab Nia.


Isman melihat ada kursi kosong di area taman penginapan, dia mengajak Nia duduk disana.


"lama lagi, bagi abang masa ye.. Abang nak segera kenalan sayang kat familly abang!" Isman membuka percakapan


Nia memandang Isman ragu, benarkah Isman ingin memperkenalkan dia dengan keluarganya, sejauh mana Isman serius tentang hubungan mereka


Isman balas menatap, dia faham Nia pasti ragu dengan keseriusannya.


Nia terdiam, bukan dia tidak percaya dengan keseriusan Isman, hanya saja jalan kedepannya dia rasa tidak akan semudah itu, dia dengan Isman jelas berbeda kewarganegaraan.


Apa mungkin juga keluarga Isman bisa menerima dirinya, kalau menikah tentu dia harus ikut Isman tetap tinggal di negara ini, bagaimana dengan keluarganya di Indonesia juga apa mungkin mengizinkan dia tinggal di negara ini selamanya.


ah.. Nia jadi pusing memikirkannya, sementara ini Nia merasa belum seratus persen dia memberikan hatinya pada Isman, masih ada keraguan dalam hatinya.


"Kenapa diam?" tanya Isman, dia meraih jemari Nia,


"Abang nak ayang fahamkan, Abang sayang sangat-sangat, abang tak nak kehilangan Ayang."


"So Abang masa tuk berjuang kumpulkan wang ye.. Abang nak kenalkan Ayang kat Abang punya familly, camne kalau kita tunang?!"


Nia terdiam tidak menyahut, dia tidak bisa berkata-kata, benarkah orang yang di hadapannya ini menginginkan dia selalu di sisinya, sementara hatinya masih belum full untuk Isman.


Saat ini dia hanya berusaha menjalani hubungannya dengan Isman tanpa berfikir akhirnya nanti akan seperti apa.


"Family Abang boleh terima ke? bila Abang berjodoh dengan orang Indon?" tanya Nia,


Nia ragu keluarganya Isman akan menerima dia yang cuma pekerja kontrak di sini.


Isman tersenyum,


"Ayang tak tahu ye..Abang siap bagi tahu mak Abang sal Ayang lah, siap bagi gambar Ayang pulak.. , mak dah bagi restu, mak tak kisah abang menikah dengan siapa, janji abang bahagia!"


"Tu lah, abang nak Ayang jumpa langsung Abang punya family, plan nanti cuti raya, Abang ajak Ayang balik kampung abang ye!" lanjut Isman.


Nia terperangah, dia tidak tahu Isman sudah banyak buat rencana tentang arah hubungan mereka, Nia nggak tahu harus sedih atau bahagia, saat ini ada orang yang benar-benar serius kepadanya.


"Tapi abang lupa satu hal.." Sahut Nia


"My familly Bang! tak pasti lagi bagi ijin ke tak!" Nia menunduk, dia memang belum memberitahu tentang Isman pada Ibunya.


Isman menatap Nia lembut,


"Tak yah risau, abang nak berusaha, dapatkan ijin dari ayang punya family! Abang rasa kita boleh fahamkan mereka, kita start perlahan je!"


Nia terdiam kembali mencerna kata-kata Isman, mungkin kalau memang ada jodoh antara dia dan Isman semua akan berjalan lancar, tapi kalau hal yang terburuk itu bahwa dia tidak berjodoh, dia harus siap menerimanya, Isman juga harus bisa menerimanya.


"Ye, kita berusaha, selepasnya kita berserah pada takdir ye!" sahut Nia sambil menggenggam jari Isman


Isman tersenyum, dalam hatinya berdoa semoga Nia memang jodoh yang di takdirkan untuknya. Rasanya dia tidak sanggup harus kehilangan orang yang dicintai untuk kedua kali.


"Ehm.. Kenapa abang tak cari perempuan melayu? Kan ramai yang lawa?" goda Nia


Isman terkekeh,


"Masalahnya, hati Abang dah terpikat awe Indon satu ni!" Jawab Isman sambil mecubit pipi Nia.


Nia meringis,


"Ehm..kenapa Abang suka awek Indon?" tanya Nia sambil mengusap pipi yang di cubit Isman tadi.


"Abang suka awe indon kerana mereka berani cakap, open minded dan tak malu-malu macam sayang ni, berani cium abang.. ha..ha" goda Isman.


"Hiisshh.. ape lah abang ni!! Nia mecubit paha Isman mukanya terlihat memerah, ucapan Isman seperti menelanjanginnya sekarang.


Isman tersenyum, dipeluknya bahu Nia, " Tak yah malu, abang suka itu" bisiknya.


****


Jangan lupa like & commentnya ya.🙏🙏