
Semenjak kejadian itu, ada yang berubah dalam hidupnya Nia merasa hidupnya hampa dan kosong, Dia telah kehilangan dirinya, harga dirinya yang telah di renggut begitu saja oleh Sham.
Nia menjadi tidak begitu bersemangat menjalani hidup, hanya mencoba bertahan tanpa harapan karena harapan dan impian yang dia bangun bersama Isman kandas begitu saja, dia
Hari ini seharusnya Isman sudah kembali dan masuk kerja seperti biasa tapi belum juga ada kabar dari Isman, Nia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Isman saat ini.
Di relung hatinya yang paling dalam Nia merindukan Isman tapi peristiwa itu membuatnya takut untuk berhadapan dengan laki-laki itu.
Nia melangkah gontai menuju kantin, jam pergantian shift masih setengah jam lagi. Nia kemudian duduk sendiri di barisan paling ujung dengan posisi menghadap pintu lift.
"Deg!"
Sesaat jantung Nia seperti berhenti berdetak, dari pintu lift muncul sesosok orang yang di rindukannya, Isman yang selama ini selalu bermain dalam fikirannya.
Isman tersenyum menatap Nia dari kejauhan, ingin rasanya menghampiri Nia saat ini, tapi dia mengurungkan niatnya karena bukan saat yang tepat berbicara pada Nia di tempat ini. Dia sebetulnya ingin menjelaskan kenapa selama ini dia tidak bisa menghubungi gadis itu.
Nia tidak membalas senyum Isman, gadis itu malah menundukan kepalanya menghindari tatapan Isman, dalam hati Nia campur aduk antara perasaan rindu, kesal dan juga sedih.
Dia merindukan Isman, ingin sekali rasanya dia memeluk Isman tapi sekaligus merasa sedih dengan keadaannya saat ini.
Nia bergegas turun dari kantin, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, malu seandainya orang-orang di kantin melihat dia menangis.
Di tangga darurat Nia melepaskan tangisnya, rasa sesak di dadanya yang berusaha dia tahan dari tadi. Nia tidak tahu Isman yang penasaran dengan sikap Nia mengikutinya.
"Sayang.. maafkan Abang, janganlah marah..!" Isman memeluk Nia, fikirnya Nia marah dan kesal karena selama seminggu dia tidak menemuinya.
Nia semakin terisak, Dia memang merasa kesal Isman tidak menghubunginya tapi yang membuatnya menangis adalah keadaan dirinya, dia merasa sudah didak pantas untuk Isman.
"Sayang, masa dalam perjalanan balik kampung tu, handphone abang hilang, nomor kontak tu semua ada kat handphone, Abang tak boleh nak call sapepun!" lanjut Isman.
"Sayang.. janganlah macam ni?" pujuk Isman.
Nia terdiam sesaat, dia faham sekarang kenapa Isman tidak menghubunginya selama ini. Namun perasaan bersalah dan ingatan tentang peristiwa itu membuatnya kembali terisak.
"Hei.. dah lah tuh, ni kan abang ada! Abang tahu.. Ayang rindu Abang kan?" goda Isman.
Ingin rasanya Nia menangis meraung-raung mendengar ucapan Isman. Bagaimana Dia harus menjelaskan semua ini pada Isman, bagaimana menjelaskan keadaan dirinya.
"Saayang.. dah lah tuh!" Isman mengecup kening Nia, kemudian bermaksud men***m bibir Nia.
Tapi Nia menolak, dia memalingkan mulanya dan mendorong tubuh Isman, tanpa pamit Nia langsung keluar menuju area tempat kerjanya, meninggalkan Isman yang tertegun kebingungan dengan sikap Nia.
Dalam hati Isman bertanya-tanya kenapa Nia sikapnya jadi aneh begitu, apa Dia masih marah padanya? Sepatah kata pun Nia tidak berbicara padanya.
*****
Sham sedang di area PC saat melihat Nia keluar dari pintu darurat dengan menyeka air matanya, tak lama dia juga melihat Isman keluar dari pintu yang sama.
Sham tertunduk, perasaan bersalah terus berkecamuk dalam hatinya, dia membayangkan bagaimana perasaan Nia saat ini, pasti sangat berat baginya menghadapi semua ini. Dia tahu Nia sangat menyayangi dan mencintai Isman, kenyataan yang terjadi padanya saat ini pasti merupakan suatu pukulan berat baginya.
Semenjak malam itu Nia tidak lagi mau bicara dan selalu menghindarinya setiap Sham berusaha mendekat dan mengajaknya bicara, membuatnya kebingungan tak tahu apa yang harus di perbuat.
Sekarang Isman juga sudah mulai bekerja kembali dan nampaknya Isman pun kebingungan dan tak mengerti dengan sikap Nia padanya
"Huuh.. dasar bodoh!!" Sham mengutuk dirinya sendiri, dia kesal dengan dirinya yang tidak mampu menjaga orang yang di sayanginya, bahkan malah membuat gadis itu menderita.
*****
Nia terlihat sangat murung tak seperti biasanya yang selalu ceria, Isman betul-betul merindukan keceriaan gadis itu.
Bel istirahat pertama berbunyi,
"Sayang..!"
Isman menghampiri Nia yang menelungkupkan wajahnya di meja, Isman menepuk bahu Nia
"Nak marah tu janganlah lama-lama, Abang sedih.. tengok ayang cam ni! Ayang Ok ta?" tanya Isman, memulai percakapan
Nia tidak merubah posisinya, masih berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Abang rindu lah, Ayang tak rindu abang ke?"
Isman masih berusaha membuat Nia bicara, mengajaknya bercanda.
"Tak rindu takpe, abang cari yang lain lah..!" lanjutnya.
Nia mengangkat wajahnya mendengar perkataan Isman, di pandanginya wajah Isman lekat-lekat "Ya Allah, aku sangat merindukan mu bang!" jeritnya dalam hati.
Jika mengikuti kata hati, Nia ingin sekali memeluk Isman dan menumpahkan segala kesedihannya dalam pelukan Isman.
"Ye Bang, carilah yang lain!" ucap Nia lesu.
Isman senang Nia mau bicara, tapi bukan jawaban itu yang dia inginkan, biasanya Nia akan melotot dan berkata,
"Buat lah kalau berani!"
Jawaban ini lah yang ingin Isman dengar, bukan perkataan Nia barusan.
"Sayang.. ada apa ni, cakaplah ngan Abang?"
Isman merasa ada yang tidak beres dengan Nia, sikapnya aneh tidak seperti biasanya.
Nia terdiam menundukan wajahnya menghindari tatapan Isman, saat ini Dia bahkan tidak berani menatap sepasang mata di hadapannya itu, mata yang penuh kerinduan, mata yang penuh tanda tanya.
"Takpe lah kalau Ayang tak nak cakap sekarang, tapi Ayang jangan sedih-sedih macam ni lah.., Abang risau tau!"
Nia berusaha menyembunyikan air matanya, dia tidak ingin lagi menangis di hadapan Isman, perkataan Isman barusan seperti mencabik-cabik hatinya, Nia melihat ketulusan dari setiap perkataan Isman, Isman betul-betul menghawatirkannya.
"Abang keje lah dulu, Ayang Ok!"
Akhirnya Nia membuka mulutnya, dia tidak mau membuat Isman tambah khawatir padanya.
Isman sangat senang Nia, mulai mau lagi bicara padanya.
"Ye sayang, nanti kita cakap lagi ye!"
Isman menepuk bahu Nia kemudian meninggalkan gadis itu kembali ke area Packing, hatinya sedikit tenang Nia mau bicara padanya.
Namun dalam hatinya masih ada tanda tanya mengenai perubahan sikap Nia, apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu selama Dia meninggalkannya balik kampung.
Tapi tak apa lah, mungkin Nia butuh waktu untuk saat ini, fikirnya.