
Nia terdiam, tubuhnya menjadi kaku dadanya berdegup kencang saat Isman mencium bibirnya tiba-tiba, perasaannya campur aduk antara marah dan penasaran, dia kebingungan dengan keadaan saat ini.
Isman merenggangkan pelukan dan menghentikan ciumannya, dia menatap bola mata Nia,
"Aku sukakan engkau Nia!" bisiknya lembut
Nia tersentak, spontan dia mendorong tubuh Isman dari tubuhnya,
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Isman, Nia marah atas perlakuan Isman padanya, tanpa bicara Nia kemudian keluar dari pintu darurat menuju area QA, wajahnya masih memerah karena marah, Ia tidak menyangka Isman yang pemalu berani berbuat seberani itu.
Isman mengusap pipinya, tamparan Nia membuat dia sadar atas kelakuannya barusan yang sudah lancang mencium bibir gadis itu.
Duuk!
Isman meninju tembok di hadapannya "Shit" dia menggeram,
"Bagaimana ni, mesti lah dia marah" gerutunya dalam hati.
Nia menelungkupkan mukanya diatas meja, dia berusaha menenangkan diri, tangannya mengusap bibirnya yang tadi dicium Isman, pipinya kembali memerah. Baru kali ini dia merasakan rasanya dicium seorang cowok.
"Aaargghh!... Kenapa aku diam saja tadi!" gerutu Nia, kesal dengan sikapnya tadi yang seperti pasrah saat Isman ******* bibirnya.
Nia yang sedang sibuk dengan pertentangan batinnya tidak menyadari Isman memperhatikannya dari tadi.
Isman terlihat serba salah, bingung harus berbuat apa, namun akhirnya dia memutuskan harus bersikap gentle, dia harus minta maaf pada Nia, dia tidang ingin gadis itu jadi membenci dan memusuhinya.
Isman menghampiri Nia yang masih telungkup di mejanya, dia mengangkat sebuah kursi dan meletakannya di samping Nia. Menyadari kehadiran seseorang di sampingnya, Nia mengangkat kepalanya.
"Kau..!!" desis nya, dia tidak menyangka Isman masih berani menghampirinya setelah kejadian tadi. Isman tersenyum kecut, dia tahu Nia pasti masih marah.
"Maafkan ye, Aku tak leh kawal perasaan tadi" ucapnya
Hisshh, Nia mendesis lalu membuang muka tidak mau melihat Isman, masalahnya nggak tahu kenapa dadanya jadi deg-degan nggak karuan.
Nia akui, Isman cukup tampan dengan tubuh atletisnya, pantas banyak budak-budak QC yang mencari-cari perhatian cowok itu.
Dia dengan Isman tidak begitu akrab, mungkin karena dulunya beda shift jadi jarang bertemu, kalau pun bertemu hanya sekilas-sekilas saja saat pertukaran shift.
Nia masih diam, menyadari itu, Isman mengulangi permintaan maafnya.
"Nia, Aku betul-betul minta maaf," ucapnya memelas.
"Aku betul-betul sukakan engkau Nia, Aku lost control tadi" lanjutnya.
Mendengar ucapan Isman, sikap Nia mulai melunak. Dia melihat kesungguhan dari ucapan Isman, dipandanginya Isman yang sedang tertunduk penuh penyesalan.
"Oke fine, janji kau tak buat camtu lagi!, kena permit dahulu tau!" ucap Nia keceplosan.
Isman mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Nia, membuat dia tersadar atas ucapannya barusan, dia menepuk jidatnya "Hadeuuh.kenapa aku ngomong gitu"
Isman tersenyum melihat Nia menjadi salah tingkah,
"Oke, lain kali aku permit lah" goda Isman membuat Nia tambah salah tingkah.
Nia membuang muka sambil menggerutu "Siapa pula yang nak bagi kau tu permit!"
Isman masih tersenyum memandang Nia, gadis itu selalu membuatnya penasaran, membuatnya ingin selalu dekat dengannya.
"Kau, macam ni nampak cute lah" gumamnya.
Nia menoleh kearah Isman, dia tak jelas dengan apa yang Isman gumamkan.
"Eh, takde lah.. Aku nak berkawan dengan Kau, boleh?" Isman balik bertanya.
"Ye lah, kita kawan!" jawab Nia.
Isman sumringah mendengarnya, dia senang karena malam ini tidak berakhir dengan tragedi, Nia masih mau memaafkannya.
Sebenarnya Isman menginginkan hubungannya dengan Nia lebih dari sekedar persahabatan, dia ingin gadis itu menjadi kekasihnya, tapi untuk saat ini persahabatan smoga menjadi awal yang baik untuk kedepannya.
'Berkawan' dalam bahasa Malaysia artinya kurang lebih 'bersahabat' dalam bahasa Indonesia, sejak malam itu Nia bersahabat dengan Isman.
Sebetulnya sebelum kejadian di tangga darurat itu, Nia menyimpan sedikit perasaan suka pada Isman, dia kadang penasaran dengan karakter Isman yang terlihat cool, berbeda dengan anak Packing yang lain yang selalu saja menggodanya saat dirinya mengantar PCB yang urgent pada mereka.
Setelah kejadian itu, Nia akhirnya bisa membuka hati sedikit demi sedikit pada Isman.
******
Flash back
Sham sedang duduk di area Packing, area tersebut terlihat remang, karena setiap waktunya istirahat lampu utama di setiap area harus dimatikan untuk menghemat energi. Dia tidak ikut naik ke kantin bersama teman-temannya.
Dia bersandar di kursi, kakinya dinaikan keatas meja Packing, dia memandang ke arah QA yang juga nampak remang-remang, dia mencari-cari Nia dengan matanya, tapi dia tidak melihat sosoknya. Mungkin sedang di kantin fikirnya.
Sudah lama, diam-diam Sham menyukai Nia, menyukai karakternya yang kadang terlihat galak padahal sebetulnya dia cukup ramah dan kooperatif.
Dia sering berinteraksi dengan Nia, karena tugasnya sebagai Production Control mengharuskan dia berhubungan dengan setiap department, termasuk dengan Nia salah satu member QA.
Kadang dia suka bertengkar dengan Nia karena masalah PCB, nggak tahu kenapa, dia suka melihatnya kesal dan marah-marah. Padahal sebetulnya dia menyukai gadis itu.
Bruk..
Sham menoleh kearah datangnya suara, dia melihat sosok Nia keluar dari pintu darurat, Nia terlihat menuju ke meja cheking kemudian duduk dengan menelungkupkan lepalanya diatas meja.
"Ada apa dengan gadis itu, apa dia sakit?" dia bicara sendiri dalam hati, mulai khawatir dengan keadaan Nia.
Dia beranjak dari duduknya bermaksud menghampiri Nia, karena di area QA nampak kosong, takutnya gadis itu memerlukan pertolongan.
Tapi dia menyurutkan langkahnya ketika melihat Isman keluar dari pintu darurat berjalan menghampiri Nia.
Sham tercengang, ada apa dengan mereka kenapa keduanya hampir bersamaan keluar dari pintu darurat, apa yang mereka lakukan? Dia mulai bertanya-tanya sendiri sambil mengepalkan tinjunya, banyak fikiran buruk di kepalanya.
Sham mengemertakan giginya, melihat Isman kini sedang bicara dengan Nia, mereka terlihat akrab.
"Apa mereka pacaran?" Tanyanya dalam hati. "Ah, nggak mungkin!" dia menjawab sendiri pertanyaannya.
"Tapi apa yang mereka lakukan berdua di dalam sana?"
Sham terlihat gelisah dengan berbagai macam pertanyaan di kepalanya, hatinya mulai terasa panas, jangan-jangan mereka memang betul pacaran, dan mereka bermesraan di tangga darurat itu.
Tapi tidak, sebaiknya dia harus memastikan apa benar mereka berdua pacaran, daripada hanya bertanya-tanya dalam hati.
"Tapi bagaimana kalau mereka memang pacaran?"
Sham kembali mengepalkan tinjunya, "*Tidak, itu tidak boleh terj*adi!" dia tidak rela gadis itu jatuh ke pelukan Isman,karena dia tahu siapa itu Isman.
"Tapi bagaimana kalau Nia juga menyukai Isman?
Aaaaarrrgghh... Sham meremas rambutnya, kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan hal ini.