
"Bang..abang marah ye.." goda Nia melihat Isman cemberut dari tadi.
"Takde lah.." jawab Isman datar sambil terus merapihkan PCB yang di packingnya.
Nia tersenyum memandangi Isman, dia semakin ingin menggodanya, wajah Isman lucu kalau lagi cemberut,
"Sini kejap!" Nia menarik tangan Isman menuju ke depan pintu lift barang, lift itu memang hanya untuk mengangkut barang saja, hanya yang berkepentingan saja bisa menggunakan lift tersebut.
Isman menurut, mengikuti Nia " Pa hal ni.." tanya Isman tidak mengerti maksud Nia.
Nia tidak menjawab pertanyaan Isman, sampai di depan pintu lift yang letaknya tersembunyi tersebut, Nia memeluk Isman bibirnya mengecup bibir Isman,
"Dah jangan marah lagi ya..!" ucap Nia, sambil melepaskan pelukannya, dia tersenyum menatap Isman.
Isman terkejut dengan kelakuan Nia yang kadang selalu spontan begitu,
"Hmm.." Isman tak menjawab, dia masih pura-pura marah, padahal hatinya sudah lumayan baikan setelah Nia menciumnya.
Nia membelalakan matanya
"Masih marah?" serunya
Nia garuk-garuk kepala, tadi dia fikir yang dia lakukan barusan bisa meredakan emosi Isman, ternyata Isman masih tak bergeming.
"Oke, masih marah takpe, tadi kan dah cakap kita ramai-ramai perginya, tak caya boleh tanya Iren!"
Nia kesal bermaksud berlalu dari hadapan Isman, dia tidak menyangka Isman masih belum bisa nerima penjelasannya soal kemarin Sham mentrakir dia dan teman-temannya makan.
Dengan sigap, Isman menarik Nia dalam pelukannya, tanpa bicara kini giliran dia yang menjelajahi bibir Nia dengan bibirnya, bila tadi Nia sekedar mengecup, kini bibir isman dengan lembutnya memainkan bibir Nia.
Nia menikmatinya.. dan sepertinya dia memang sudah ketagihan dengan bibir Isman yang slalu membuatnya jantungnya menggelepar tak menentu.
Isman mengusap punggung Nia dengan sayang.. dia melepaskan bibir Nia, melihat Nia yang sudah terengah-engah kekurangan pasokan oksigen.
"Abang tak marah lagi lah, Abang percaya pada Ayang" ucap Isman sambil tersenyum, dia gemas melihat kelakuan Nia yang menyembunyikan wajahnya yang merah di dada Isman.
Nia tidak bicara, dia terdiam sibuk menenangkan detak jantungmya
Isman mengangkat wajah Nia, sekali lagi dia mengecup bibir Nia, Isman melepaskan pelukannya,
"Dah lah tu, kejap lagi masuk keje.. nanti orang tengok!" bisik Isman,
Nia menatap Isman" Betul Ni tak marah lagi kan?Tak suka lah tengok abang monyok camtu! " goda Nia
Isman tersenyum" Tak lah.. Abang nak marah lagi lah..biar Ayang pujuk abang lagi cam tadi, boleh" Isman balas menggoda.
"Hisssh.. abang Ni!" seru Nia pelan, dia memukul lengan Isman..sambil berlalu dari hadapan Isman, takut teman-temannya Isman keburu datang.
Tadi dia sempat merasa cemburu pada Nia, kabar Nia jalan dengan Sham sampai juga ke telinga nya, bukan tanpa alasan dia cemburu, Sham terang-terangan bahwa dia menyukai Nia, sempat jadi saingannya dalam mendapatkan Nia,
Walaupun sekarang dia sudah memiliki hati Nia, tapi Isman masih merasa khawatir, takut Sham masih belum menyerah untuk mendapatkan Nia
Nia berjalan sambil tersenyum sendiri memasuki area QA, hatinya lega karena Isman tidak betul-betul marah padanya.
Kemarin, memang Sham mentraktir dia makan tapi dia tidak hanya pergi berdua dengan Sham, mereka pergi rombongan. Nia sudah menjelaskan bahwa dia hanya menganggap Sham sebagai abang angkat tidak lebih.
Untung Isman bisa mengerti, Nia sebetulnya tidak suka ada konflik dengan Isman, karena dia tipe orang yang cinta damai, cuma kadang dia memang pengen melihat respon Isman, cemburu atau tidak kalau dia jalan dengan laki-laki lain dan ternyata Isman memang cemburu.
Nia baru duduk di depan mejanya saat ada pesan masuk, ternyata dari Isman
"Yang.. Love U" bunyi pesan itu, Nia tersenyum sambil melirik ke arah packing area, nampak Isman sedang melihat ke arahnya sambil melambaikan tangannya.
Nia membalas pesan itu "Love U too"
"Nanti balik ngan abang ye..!" pesan masuk lagi
"Tak nak.." Nia membalas pesan Isman sambil tersenyum sendiri,
"Tak nak takpe... Abang cari awek lain lah yang nak.." gurau Isman
Nia mendelik, melihat ke arah Isman yang sedang tersenyum di kejauhan. Nia meleletkan lidahnya.
"Buatlah kalau berani.." balas Nia
"Tak berani lah... hehe" Jawab Isman
"Kenapa?" balas Nia
"Takut, Ayang garang lah!" jawaban Isman membuat Nia tersenyum.
"Tau pun!" balas Nia
"Nanti Abang tunggu Ayang kat parking ye!" Isman mengirim pesan lagi.
"OK" jawab Nia pendek
Nia mengakhiri chating nya, karena bel masuk sudah berbunyi.
Nia penasaran kenapa Isman mengajaknya pulang bareng, biasanya ada sesuatu yang harus di orolin, tapi Nia belum tahu tentang apa.
***