
pelan tapi pasti mereka membiasakan diri,..
kini qutaz yg sering menjemput misya sepulang sekolah, meski tidak setiap hari, karna qutaz punya kerja yang mengharuskan dia sering keluar kota,..
pertama kali dia menjemput misya, banyak teman teman yang bertanya.. sebab misya cukup terbuka pada teman temannya.. hampir semua sepupu misya mereka kenal,.. namun yg ini seperti baru..
misya berkata bahwa qutaz hanyalah keluarga ayah nya yang kebetulan berkunjung..
sepulang sekolah, misya segera naik motor yang telah qutaz bawa, berniat agar cepat pulang namun., qutaz selalu mengajaknya berkeliling,... meskipun... sebenarnya qutaz tak tau betul lokasi komplek tersebut..
"mau kemana sih... di depan itu jalan potong.. seharusnya tadi belok kanan.. " ujar misya heran..
"ooh.. mau jalan aja.. ng.. bukan jalan potong..
ujar qutaz pede seolah hafal tempat tersebut..
misya hanya diam dan menunggu masa dimana perkataannya terbukti,...
dan..
"tuh kan jalan potong.. "ujar misya..
qutaz hanya tersenyum malu dan memutar balik..
"ade kenal betul tempat ini,.... jadi ya pasti tau.. "ujar nya agak sombong
"iya iya... kita makan aja yuk.. "ajak qutaz
"hm.. nanti pasti di tungguin nenek soalny udh sore... nanti susah cari alasannya,.. apalagi kalo nenek tau ade pulang nya sm kakak nanti jawab apa? " ujar misya
"ooh iya juga yah.. yaudah, kita pulang aja ya.. tapi nga papa kan ade turunnya di gang depan soalny nanti nene liat gmn.. ? "
"iyah nga papa"
adik misya yang mengetahui qutaz menjemput kk mereka hanya tak menghiraukan,..
pikir mereka alah.. palingan pacaran biasa..
qutaz sering berkunjung ke rumah misya,.. namun adik adiknya biasa saja.. mereka pikir tak ada yang istimewa.. qutaz dan misya berprilaku seperti kakak beradik.. misya senang akan hal itu, karna dia sudah memiliki sosok laki laki dewasa yang siap menjadi penjaganya..
namun mereka belum sedekat itu.. bahkan misya hanya menganggap qutaz layaknya kakak.. dia sama sekali tak menganggap qutaz adalah pasangan, sekaligus kekasihnya.. dia bersikap cuek dan dingin pada qutaz,..
sementara qutaz berprilaku hangat dan sangat menghargai misya..
qutaz selalu menelfon, tapi misya selalu menolak bahkan pernah telfonnya di angkat, tapi misya tak berbicara,... paling hanya jawaban yang qutaz tanyakan..
tapi qutaz begitu antusias... dia bisa berbicara lewat telfon atau videocall hingga sejaman lebih meski hanya basa basi..
yah.. sikap hangatnya itupun sesuai situasi,... karna dia tau umur misya masih sangat kecil,.. dia juga tau, misya bukan orang yang suka di kasari.. selama ini misya selalu sendiri,.. kini dia harus menjadi tempat dimana misya merasa semua rahasianya aman untuk di ceritakan,..
pada suatu ketika, qutaz harus pergi agak lama keluar kota,..
misya hanya baru mengabari qutaz setelah malam tiba.. itupun kalau dia mau.. misya benar benar terkesan egois dan sangat cuek..
tapi qutaz masih tidak begitu peduli sikapnya pada misya masih biasa saja.. hangat dan penuh kekhawatiran...
q_"adek lagi ngapain.. ? " sambil tersenyum hangat..
m_"emg.. ng ngapa ngapain.. "jawabnya singkat..
q_"mana sih mukanya.. masa cuma tembok yang diliatin.. "
m_"ngak ah malu.. "
q_"udh makan belum? "
q_"gimana belajarnya? "
m_"udah makan kok tadi.. ya baik.. "
misya selalu menjawab hanya sesuai pertanyaan.. kadang kala qutaz kehabisan kata kata namun, dia berusaha tertawa dan membangkitkan suasana,... namun ketika qutaz sudah susah untuk berkata kata..
dia hanya bisa berkata "
"yaudah ya dek.. sehat sehat disana,... salam sm ibu, sm ade ade.. ade tidur nya jangan telat ya.. kan besok sekolah...kalau ada apa apa, atau mau beli sesuatu, bilang kakak yah dek.. "
nada bicara yang terlihat lelah tapi terus berusaha hangat..
"iya.. by.. " jawab misya singkat seperti biasa..
hingga... qutaz tak lagi mengirim pesan, atau telfon sesering dulu... hanya sesekali.. sehingga terkadang misya mulai keluar masuk ke laman chatingan nya dengan qutaz..
dia ingin sekali bertanya tapi.. entah apa yang di pikirannya dia selalu menunda hal tersebut hanya pura pura mengetik,.. lalu menghapus.. itu selalu dia ulang ulangi..
qutaz tetap menanyakan kabarnya... namun kini nadanya tak sehangat dulu... iya terlihat pasrah, namun kamu.. seakan semua yang dia katakan akan sia-sia nantinya.. jadi dia memilih lebih singkat ketika menelfon misya..
namun misya tak menghiraukan nya seakan semua baik baik saja...
ternyata di saat misya merasa dunianya baik,... qutaz sedang berusaha bangkit dengan masalahnya... misya kini memiliki banyak tempat bercerita... teman, sahabat, nenek, qutaz, meskipun dia jarang bahkan tak pernah bercerita dengan qutaz..
namun tak memiliki siapapun untuk di ajak bicara,... iya tak ingin ada yang tau masalahnya.. sebenarnya di dalam hatinya ia sangat ingin berbagi cerita dengan misya.. namun dia sepertinya tau.. bahwa misya tak akan menghiraukan cerita cerita bodohnya..
wajah qutaz berubah saat vidio call terakhir... karna qutaz lah yg selalu ingin vidio call dengan misya.. selalu minta foto,... vidio apapun tentang misya.. tapi semenjak saat itu.. qutaz tak lagi meminta sesuatu yg bahkan tidak pernah di berikan misya... ya.. vidio call, telfon, maupun foto nya satu pun..
misya merasa benar benar memiliki seorang kakak yang baik, hangat, dan selalu menanyakan misya akan keperluannya...
tapi... dibalik semua yang dia rasa.. ada sosok yang begitu kecewa.. dan tak tau harus bagaimana.. dia menjalani hari hari beratnya di perusahaan tanpa ke khawatiran misya..
lelah setelah pulang bekerja... bahkan misya tak pernah mengechat qutaz dahulu..