My Last Love

My Last Love
melupakan luka



"misya.. ayo mandi di kali.. kita main sm sm.. "


temanku memanggil,.. namun aku hanya bisa terbaring dan pura pura tuli..


karena di depan pintu kamarku ad ibu yang menjaga.. seolah aku merasa akan mati jika melewatinya..


setelah suara panggilan itu menghilang..


tok.. tok.. tok.. misya tersenyum ceria..


iya tak tau siapa yang ada di depan pintu.. namun iya tau ibunya akan kedatangan tamu..


yang artinya.. ancaman ter minimalisir..


ibunya membuka pintu dan menyuguhi tamu yang ternyata teman akrabnya..


selesai misya mengintip pada celah pintu dan mendengar obrolan yang sepertinya memakan waktu.. dengan berani dan tak berpikir panjang melompati jendela kamarnya.. merangkak mengambil sendal dan kabur tanpa suara..


angin membelai rambutnya dan iya merasa sedang melepas penat.. seolah ini lebih baik daripada tidur..


"misya..! datang juga kamu.. dri mana saja..? kok di ketuk pintunya tidak di buka? "


"hehe.. maaf yah aku tdi tertidur sebentar tapi ibuku langsung membangunkanku untuk pergi bermain.. "


terasa mustahil tapi ia meyakinkan diri bahwa itulah yang terjadi..


di tengah senobianya bersama teman tak terasa hari mulai sore.. temannya mengajak pulang dan mereka bersiap..


"ah... sendal ku hanyut.. aku tidak bisa pulang.. nanti dimarahi.. "


iya mengejar sendal tersebut dengan keyakinan semoga dapat,krn ibunya akan murka jika tau sendal yg sudah belasan kali di belikan, iya hilangkan lagi..


tak sadar iya telah mengejar hingga jauh dari desanya..


namun dengan bangga dia pulang sambil memegangi sendal kesayangan nya..


ketika itu ibunya berdiri di depan pagar dan memegang sapu, yang di mata misya itu adalah alat pembalasan..


iya baru tersadar dengan baju basah dan kaki yang kotor mustahil untuk tidak di pukul.. lagipula ini sudah menjelang malam.,


dari jauh ibunya berteriak "misya! "


"dasar anak bandel.. di bilangin jangan keluar rumah ya jangan! "


sambil mengayunkan sapu pasa betis misya..


hingga sapu itu patah untuk yang kesekian kalinya..


"masuk sana! mandi!... awas kamu ya kalo lama mandinya ! "


dengan dengkul bergetar dia berlari memasuki kamar mandi..


dia menutup pintunya dan menangis.. nmun ia memilih melupakannya dan mengubur dalam dalam..


iya mengambil shampo dan memainkan busa untuk sekedar menghibur rasa sakitny..


hari seperti ini...


akan terus berulang.. entah sampai kapan..


yang bisa ia lakukan hanya,... mencoba melupakan luka dengan hiburan seadanya... ya.. seorang diri.. hanya dengan ibu dan dua adik yg masih balita...


akankah sesuatu yang baik menyambangi ku?


selalu berfikir dan menolak agar air mata tak terjatuh..


iya kembali ke kamar setelah bersih... menyalakan lampu dan membersihkan kasurnya untuk bersiap tidur..


iya tidur di lantai dua rumahnya.. sendiri.. dua adiknya tidur di dpn tivi yang dekat dengan kamar ibu mereka..


misya memandangi jendela sambil melihat mobil yang masih belum lelah berjalan.. "kapan ayah pulang? katanya ketika aku SMP nanti... "


"baik! aku akan terus menghitung umurku hingga nanti SMP! "


"aku harus bertemu ayah... apakah benar dia sejahat yang ibu bilang? "


sambil berucap lirih dalam hati..


"aku yakin ayah tidak akan memukulku..


dia bahkan akan melindungiku "


aku menunggu mu ayah... sedang apa kamu disana..


ketika pulang nanti jangan lupa membawakan ku hadiah..


aku sangat ingin di antar jemput ke sekolah oleh ayah.. aku lelah terus menerus memangku adikku ketika naik angkot kesekolah krn uang kita hanya sedikit.. "


sambil menatap bintang dan berharap ayahnya mendengarkan.........