
tibalah saat dimana pernikahan itu akan dimulai,
misya berangkat bersama ibunya, mereka berdua pergi ke kota berjalan menuju tempat yang sudah di persiapkan,...
di sana telah bersiap juga ayah, qutaz, teman teman ayah, dan beberapa teman qutaz,...
ini hanya lah pernikahan yang bisa di bilang cukup singkat dari banyaknya resepsi pernikahan lain.. karna nanti sore misya akan pergi les wajib di sekolah,...
setelah akad selesai,... semua terhening,...
qutaz meletakkan tangan nya di atas kepala misya dan mulai berdoa,..
misya tak begitu mengerti banyak,.. dia hanya mengikuti langkah demi langkah,...
dengan acara nikah yang begitu sederhana,... namun hari itu begitu istimewa.. mungkin bagi misya saat itu,... tidak ada yang istimewa.. hanya pernikahan sederhana yang harus dia ikuti,...
selesai acara ibu pulang terlebih dahulu,.. beberapa teman ayah juga telah pergi,... tinggal ayah, qutaz, dan misya...
ayah memberi waktu untuk qutaz dan misya saling berbicara,... ya.. mereka tak pernah sekalipun berbicara...
saat itu di sebuah ruangan sunyi, mereka mulai berbincang ringan,.. misya tak terlalu banyak bicara,.. karna ini pertama kalinya dia mencoba berinteraksi dengan laki laki asing..
qutaz mengeluarkan hadiah yang di berikan untuk misya... ada beberapa hadiah yang katanya dari ayah,...
misya sangat kaku pada hari itu,... dia masih bingung atau tidak percaya.. namun semua berjalan begitu saja..
perlahan semua terlihat biasa.. qutaz meneteskan air mata, seolah itu mewakilkan semua perasaanya.. perasaan yang tak di mengerti misya...
dia hanya diam membisu melihatnya.. misya selalu menginginkan seorang abang,.. dan.. misya bisa menganggap qutaz itu abang nya saja... tak terlalu berat..
setelah itu, misya menelfon ibu mertuanya.. ibu mertuanya tak banyak bicara,... tentu saja dia menangis seolah tak percaya,... karna ini permintaan misya... jadi qutaz dan org tuanya merahasiakan pernikahan ini dari keluarga besar qutaz,...
awalnya ibunya hanya menganggap pernikahan itu candaan belaka,.. karna qutaz memang selalu bercanda, namun kalo ini ibunya tak dapat membantah saat mendengar suara misya dari telfon qutaz,... misya berkenalan dan berencana untuk bertemu orang tua barunya..
setelah telfon itu mati, qutaz menanyakan nomor telfon misya.. kala itu misya tidak membawa handphone nya.. dan dia tidak hafal.. jadi setelah pulang nnt qutaz akan meminta nomor misya lewat ibu misya,...
begitu banyak perbincangan yang hanya lewat di telinga seolah basa basi, tapi karna keadaan agak tegang itu menjadi menyenangkan..
misya awalnya memanggil qutaz dengan sebutan "saudara" haha.. sangat menggelikan.. sepertinya misya sangat gugup
qutaz tertawa ringan dan berceloteh
"haha kok saudara.. panggil kakak saja.. nanti kakak akan memanggil misya dengan sebutan adik"
seolah misya langsung paham,.... ia memang ingin memiliki kakak... karna dia anak sulung sm seperti qutaz.. tapi panggilan itu seolah membuat lidahnya kelu,.. tapi dia yakin lama lama akan biasa saja..
perbincangan itu berlanjut... qutaz menanyakan apakah misya memiliki riwayat penyakit,...
karna qutaz sendiri sering merasa sakit pada bagian dada... semenjak latihan karate..
qutaz juga tidak terlalu dekat dengan perempuan.. jadi dia merasa sedikit kaku,..
tangan mereka dingin dan berkeringat.. seakan menandakan gugup yg sangat berat..
tiga jam adalah waktu yg sangat panjang untuk berkenalan... namun mereka masih saja basa basi yang tak menjunjung arti,...
qutaz pergi ke bawah untuk mengambil makanan.. namun misya menolak untuk makan.. dia sangat malu,... posisi duduk saja tak berubah apalagi untuk mencicipi makanan di depan qutaz...
aneh.. hari itu terasa sangat aneh...
setelah perbincangan selesai... misya akan pulang bersama ayah..
saat akan pulang.. ayah menyuruh misya bersalaman dengan qutaz.. misya tak bisa mengelak meskipun mau.. karna iya tau skrg sudah berbeda... mereka bersalaman dengan sangat kaku... namun tetap tersenyum..
qutaz hanya berkata" hati hati abah dan misya.. "kalau sudah sampai kabari ya..
sambil tersenyum halus..
entah kenapa misya merasa lebih dekat saat misya tersenyum.. seakan mereka saling mengetahui satu sama lain meskipun itu mustahil...
di dalam mobil ayah bertanya.. "gimana tadi kenalannya?" dia baik ngak? "
"ah.. biasa aja.. kaya cowo pada umumnya.. "
jawab misya meremehkan..
"tapi kalian ngak keliatan beda jauh kok umurnya.. entah dia mukanya yg keliatan lebih muda.. atau misya yang keliatan lebih tua.. hahaha" sahut ayah bercanda..
"yee tua itu.... kaya om om"..
lagi lagi misya berbicara dengan nada yang seolah meremehkan.... padahal dia tau persis apa yang dia rasa.. setiap qutaz menatap dan berbicara, dia ingin lari dan memalingkan wajah tapi serasa begitu sulit... biasanya dia sangat benci melihat laki laki tampan yang suka menggoda teman temannya.. hingga rasanya semua lelaki sama saja.. suka mengganggu wanita..
namun setelah berbincang dengan qutaz dia tau, ada sesuatu yang berbeda, qutaz begitu menjaga pandangannya kepada wanita.. bahkan saat mereka bertemu untuk masa pengenalan bersama ayah ibu, qutaz hanya tertunduk dan seolah tak peduli pada kehadiran misya,...
tapi di tempat tadi,.... setiap kata yang qutaz ucapkan seakan mengandung makna dengan tatapan lembut yang mendalam,...
entah kenapa misya sulit untuk menerima bahwa dia mulai tertarik pada qutaz..
terus menghindar dan menghindar..
qutaz juga tidak bisa di bilang sudah suka pada misya,.. pada awalnya semua butuh pembiasaan.... dan itu tidaklah gampang.. mereka melewati rintangan.. satu sama lain tak mengetahui keadaan... dan yang mereka ingin tau adalah kesempurnaan... akan kah mereka mau menerima kekurangan?
tak ada yang tau... awal ini memang begitu indah... tapi akan kah bertahan selamanya?
bagaimana cara mereka bersikap dewasa pada setiap masalahnya ?
tak ada yang tau.. kecuali diri mereka sendiri..