
Setelah keluar dari ruangan neraka, alias ruangan bosnya. Ayana masih kesal dengan sikap Arsen yang gak tau diri itu.+
"Woy... Kisut amat tu muka," tegur Sintia.
"Iya nih, kenapa lo? masa abis pacaran sama si bos muka lo kisut. Oh, atau Jangan-jangan lo gak dapat jatah ya... Hahaha,"ejek Risa yang tertawa puas.
Kedua sahabatnya ini memang sangat senang menjahili Ayana, apalagi kalau tentang menjodohkan Ayana dan Arsen. Mereka pasti akan terus mengejek dan menertawakan Ayana sampai puas.
"Brisik lo pada, gue tuh lagi kesel sama si muka tembok," ucap Ayana kesal.
"Lah, emang kenapa?" tanya Risa.
Ayana menghembuskan napasnya kasar "Masa gue di suruh ke ruangannya cuman buat beliin dia jus disebrang kantor itu. Udah gitu ya, dia gak bilang makasih lagi sama gue. Kan kesel gue jadinya," jawab Ayana.
"Gila ya si bos, ada-ada Aja deh permintaannya," ucap Risa.
"Itu belum seberapa, yang lebih parah lagi dia minta jus nya gak terlalu manis, airnya gak banyak, gak pake susu, dan gak pake lama," jelas Ayana.
"Wahh... Kayaknya si bos emang sengaja deh Ngerjain lo, Iya nggak?" ucap Sintia.
"Tau ah, Pusing gue," keluh ayana.
Ayana memijat kepalanya yang pusing karena memikirkan Arsen yang selalu aneh dan menyebalkan. Dan tiba-tiba nenek sihir ehh... Maksudnya Dini sekretaris Arsen datang lagi ke meja kerja Ayana.
"Eh Ayana, lo dipanggil lagi sama pak Arsen ke ruangannya sekarang," ucap Dini to the point.
"Duh... Kenapa lagi sih dia manggil gue?" ucap Ayana frustasi.
Baru saja Ayana bernapas lega, tapi tiba-tiba Arsen memanggilnya lagi ke ruangan neraka. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Arsen si makhluk menyebalkan itu? Apakah dia belum puas melihat Ayana pusing tujuh keliling?
"Kayaknya si bos masih kangen deh sama lo," goda Sintia.
"Ciee ciee... Calon masa depannya pak Arsen," tambah Risa.
"Berisik lo kampret," ucap Ayana kesal melihat kedua sahabatnya yang selalu mengejeknya.
"Bwahahaha," Kedua sahabatnya tertawa ngakak.
Ayana pergi meninggalkan kedua Sahabatnya yang gak punya akhlak itu. Karena saking kesalnya, ia langsung masuk keruangan bosnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu itu gak punya sopan santun ya, main masuk aja gak ketuk pintu. Sana keluar ulangi lagi," ucap Arsen kesal.48
Ihh, ribet banget sih ni orang, batin Ayana kesal.
Ayana terpaksa keluar lagi untuk mengulang perintah dari bosnya. Orang seperti Arsen memang susah untuk diajak kerja sama apalagi berkompromi. Lihat saja sekarang, sebenarnya Arsen itu tau kalau Ayana sedang kesal padanya tapi hal inilah yang disukainya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak, bapak manggil saya?" tanyanya dengan terpaksa.
"Sini kamu," Perintah Arsen.6
Ayana berjalan ke arah meja kerja Arsen tapi ia tidak mau duduk karena ia tidak diperintahkan. Bagi siapa yang berani melanggar perintah Arsen, maka bersiaplah untuk mendapat ceramah dan siraman qalbu yang panjang kali lebar dan tinggi.
"Tolong kamu tulis nomor handphone kamu, di handphone saya sekarang," Perintah Arsen.8
"Kenapa tadi gak sekalian sih pak?" ucap Ayana sedikit kesal.
"Suka-suka saya lah, Saya kan bosnya. Lagipula, kamu lupa apa sama peraturan perusahaan ini?" tanya Arsen26
"Gak pak," jawab Ayana.
"Coba kamu sebutkan pasal satu," perintah Arsen.
"Isi dari pasal adalah bos selalu benar sedangkan karyawan selalu salah, jadi karyawan harus menerimanya," jelas Ayana walaupun terpaksa.92
"Hmm... Itu kamu tau, jadi kamu gak usah banyak komen," ketus Arsen.
"Nih orang lama-lama cerewet banget ya? Dulu irit banget kalo ngomong, sekarang cerewet nauzubillah kayak emak-emak," gumamnya pelan.
Sambil menulis nomor handphonenya, sekalian juga Ayana mengumpat kata-kata manis untuk bosnya. Ia tidak peduli dengan semua sumpah serapah yang telah ia ucapkan dalam hatinya untuk Arsen walaupun itu calon suaminya. Toh mereka itu hanya dijodohkan dan tidak saling mencintai.1
"Udah saya tulis dan saya simpan nomor saya dihandphone bapak," ucap Ayana.
"Yaudah, sana kamu kerja lagi," ucap Arsen dengan nada mengusir.
"Gak ada lagi yang lain pak?" tanya Ayana memastikan.
"Gak," jawab Arsen.
"Bener nih?" tanya Ayana.
"Hmm." Arsen hanya berdehem.
"Yakin?" tanya Ayana lagi.
"Hmm." Arsen hanya berdehem lagi.
"Bagus deh, kalau gitu saya permisi pak," pamit Ayana.
Setelah itu, Ayana keluar dari ruangan Arsen dengan perasaan yang lumayan baik karena Arsen tidak menyuruhnya lagi melakukan sesuatu. Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12 siang. Ayana dan sahabatnya bersiap untuk pergi makan siang bersama, tapi tiba-tiba handphone Ayana bergetar tanda ada pesan masuk.
+62852++++++
Kamu makan siang bareng saya25
" Nomor siapa nih?" batin Ayana.
+62852++++++
Ini nomor saya, bos kamu Ayana
... Maaf Pak, saya gak tau kalo ini nomor bapak. Kenapa bapak tumben ngajakin saya makan siang?...
+62852++++++
Uda gak usah banyak tanya, saya tunggu kamu diparkiran sekarang.
Ayana tidak membalas lagi pesannya.
"Emm... lo semua duluan aja deh pergi, gue masih ada urusan lagi nih," Alasan Ayana.
"Gitu ya. Yaudah deh, kita duluan ya," ucap Risa.
Ayana hanya mengangguk, setelah kedua sahabatnya pergi jauh dan merasa situasi sudah aman, Ayana langsung berjalan ke parkiran untuk menyusul Arsen.
"Lama banget sih kamu," Protes Arsen.
"Maaf pak," ucap Ayana.
"Yaudah cepat masuk mobil," Perintah Arsen.
Ayana masuk ke dalam mobil warna hitam dan Arsen mengendarainya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, tidak ada percakapan diantara keduanya. Hingga akhirnya Ayana memberanikan diri untuk bertanya pada Arsen.
"Pak, Sebenarnya kita mau kemana sih?" Ayana bertanya pada Arsen sedangkan Arsen hanya diam dan fokus menyetir.
Ni orang budeg kali ya? ditanyain malah diam aja. Dasar muka tembok, batinnya.
Setelah itu Ayana hanya diam dan tidak mau lagi bertanya, lebih tepatnya ia sangat menyesal karena bertanya pada Arsen si muka tembok.
Arsen memberhentikan mobilnya di sebuah toko perhiasan. Ayana sendiri semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya untuk apa arsen membawanya kesini.
Ayana dan Arsen turun dari mobil. Ayana hanya berjalan dibelakang mengekori Arsen.
"Kamu jangan jalan dibelakang saya, kamu itu bukan pengawal saya," ucap Arsen.
"Gapapa kok pak," ucap Ayana.
"Terserah." Arsen kembali berjalan hingga ia mendapat sebuah ide. Arsen sengaja berhenti berjalan hingga membuat Ayana menabrak punggungnya.
"Aduhh.. Sakit banget," ucap ayana sambil memegang keningnya.
"Makanya... saya kan udah bilang jangan berjalan di belakang saya. Sini jalan disamping saya," Perintah Arsen sementara Ayana hanya melotot mendengar hal tersebut. Karena tidak ada respon, arsen menarik Ayana dan merangkulnya di depan umum.
Duhh... Malu banget gue, si kampret pasti sengaja ngerjain gue dan buat malu gue, batinnya.1
"Selamat datang mas, mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan toko perhiasan.
"Saya mau cari cincin pernikahan mbak," jawab Arsen.
"Ayo kamu pilih Ayana," Perintah Arsen.
Ayana mengernyitkan dahinya bingung "Kok saya pak?" tanyanya.
"Udah deh, kamu pilih aja gak usah banyak komen," protes Arsen.
"Huh... Iya iya," ucap Ayana pasrah.
"Silahkan dipilih mbak cincinnya." ucap karyawan tersebut sambil mengeluarkan model cincin pernikahan.
"Bapak suka yang mana?" tanya Ayana.
"Terserah," jawab Arsen.
"Kalau yang ini gimana?" tanya Ayana lagi.
"Terserah," jawab Arsen singkat.15
Dari tadi jawabannya terserah, Terserah. Gue kerjain lo, batinnya.2
"Mbak, Saya mau cincin yang paling bagus dan paling mahal ya," ucap Ayana santai.
"Oh iya mbak, kebetulan kami punya model baru dan paling mahal mbak." Ucap karyawan tersebut.
"Oke, saya ambil yang itu aja mbak," ucap Ayana.
"Sebentar ya mbak saya ambilin cincinnya." Karyawan tersebut mengambil cincin yang Ayana inginkan
"Ini mbak, jadi semuanya 100 juta ya," ucap karyawan tersebut.40
Arsen langsung terkejut dan melototkan matanya karena mendengar harga cincin tersebut. Sedangkan Ayana hanya biasa-biasa saja sambil memasang muka polos tak berdosa. Yaa iyalah, yang bayar kan Arsen... Hahaha.20
Mau tidak mau, Arsen harus membayar cincin itu dan ia pun merogoh sakunya untuk mengambil dompetnya dan mengeluarkan black card. Setelah selesai membayar cincin tersebut, Arsen dan Ayana pergi.25
"Bagus ya... Gara-gara kamu, saya harus mengeluarkan uang sebanyak 100 juta hanya untuk dua cincin." Ucap Arsen kesal.7
"Lah, kan tadi bapak sendiri yang bilang terserah, Yaudah saya ambil aja yang ini," jawab Ayana santai.
"Kamu ini ya, kamu sengaja mau ngerjain saya?" tanya Arsen frustasi.
"Enggak, buat apa saya ngerjain bapak," jawabnya polos.
"Pokoknya saya gak mau tau, mulai sekarang gaji kamu akan saya potong karena kamu berani ngerjain saya," ucap Arsen.
"Hah, gak bisa gitu dong pak, mau berapa bulan itu bisa lunas kalo pake gaji saya. Lagipula kan ini cincin pernikahan kita." Ayana protes tak terima.
"Bodo amat, saya gak peduli," ucap Arsen dan langsung pergi meninggalkan Ayana.9
"Ehh, Pak. Woyy!! Duhh... Sial banget sih gue," kesalnya.