My husband is a CEO

My husband is a CEO
4. Minum Jus



Hari senin adalah hari yang paling dibenci semua orang, tak terkecuali bagi Ayana sendiri. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk dan harus selesai tepat waktu. Tau sendiri kan kalau pekerjaannya tidak tepat waktu, maka  bersiaplah untuk mendapat doorprize dari Arsen yang terhormat.+


Sementara diruang ceo, Arsen juga "berpacaran" dengan semua berkas-berkasnya. Walaupun pekerjaannya menumpuk, tapi ia sudah terbiasa dengan semua ini. Sejak kecil, Arsen sudah mulai mengenal dan belajar tentang dunia perusaan dari keluarganya sendiri. Karena merasa pusing, Arsen menelepon Dini sekretarisnya.


"Hallo pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dini.


"Tolong kamu panggilkan Ayana keruangan saya sekarang," perintah Arsen.


"Baik Pak." Dini menutup teleponnya.


"Kok tumben banget pak Arsen manggil Ayana keruangannya jam segini?" gumamnya


Tanpa menunggu lama, Dini langsung pergi ke meja kerja Ayana untuk menyampaikan perintah dari bosnya. Sampai di sana, Dini melihat Ayana yang sedang sibuk dan banyak kertas bertumpuk di meja kerjanya.


"Ayana, lo dipanggil sama pak Arsen sekarang di ruangannya," ucap Dini to the point.


Ayana sedikit terkejut karena Dini tiba-tiba saja datang ke meja kerjanya apalagi menyampaikan pesan kalau bos killer memanggilnya. Ayana juga menatap bingung ke arah Dini.


"Gue? Kok tumben banget, ada apa emangnya?" tanya Ayana.


"Mana gue tau, udah deh cepetan lo keruangan pak Arsen sekarang. Ntar kena marah tau rasa lo." jawab Dini terlalu ngegas.


"Ck, Iya iya" ucap Ayana terpaksa.


Setelah itu, Dini langsung pergi meninggalkan Ayana dan kembali ke meja kerjanya sendiri. Ayana dan kedua sahabatnya memang tidak pernah dekat ataupun akur dengan Dini. Karena menurut mereka, Dini adalah sekretaris yang kecentilan dan selalu cari perhatian ke Arsen. Apalagi Dini itu orangnya cerewet, makanya mereka memanggil Dini dengan sebutan nenek sihir.


"Eh, kenapa nenek sihir datang ke meja lo?" tanya Sintia kepo.


"Gue dipanggil sama muka tembok ke ruangannya." jawab Ayana.


"Buset, demi apa si bos manggil lo segala? Jangan-jangan, kalian mau pacaran ya," ejek Risa.3


TUH KAN, MULAI DEH KEDUA SAHABATNYA YANG NGGAK INI MENGEJEKNYA.


"Sembarangan lo. Udah deh, gue cabut dulu, ntar gue kena semprot lagi sama dia kalo kelamaan datang ke ruangannya," ucap Ayana dan beranjak dari duduknya.


Ayana berjalan ke ruangan bosnya yang tukang nyuruh orang seenak jidatnya. Sampai didepan pintu yang bertuliskan CEO, ia mengetok pintu tersebut terlebih dahulu .


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, Bapak manggil saya?" tanya Ayana saat sudah didalam ruangan Arsen.


"Hmm." Arsen hanya berdehem tapi matanya fokus ke laptopnya.


Emang kampret ya ni orang, batinnya.7


"Ada apa ya pak?" tanya Ayana walaupun terpaksa karena ia sebenarnya masih kesal dan jengkel pada Arsen.


"Tolong kamu belikan saya jus di sebrang kantor," perintah Arsen dan kali ini matanya sudah menatap Ayana.1


"Hah, gak salah pak? Bapak kan bisa minta buatin jus sama OB kantor kita," ucap Ayana sedikit protes.


"Saya maunya jus yang disebrang kantor," balas Arsen.


"Bapak kan bisa nyuruh sekretaris bapak, kenapa harus saya sih?" ucap Ayana bermaksud untuk mengelakkan perintah dari Arsen.


"Saya maunya kamu yang beliin," ucap Arsen dengan muka datarnya.1


Ihh nyebelin banget sih ni orang. Kayak bumil lagi ngidam aja, batinnya.8


"Udah deh... Daripada kamu komen aja, Mendingan kamu beliin jus saya sekarang," Perintah Arsen.1


Niatnya mau mengelak dari Arsen, malah Arsen semakin ngegas dan kekeuh agar permintaannya dituruti. Mau tidak mau Ayana harus menerimanya karena kalau tidak, Arsen pasti akan mengeluarkan kalimat keramatnya yaitu potong gaji.2


"Iya iya, duitnya mana pak?" ucap  Ayana sambil menyodorkan tangannya untuk meminta uang.


Arsen merogoh dompet di saku celananya. Awalnya Ayana berpikir kalau Arsen akan memberikan uang berwarna merah karena mengingat kalau bosnya ini kan kaya, apalagi jabatannya sebagai CEO.


"Nih." Arsen memberikan uang dengan nilai tak terduga apalagi warnanya tak sesuai dengan yang diinginkannya.


"Cuma sepuluh ribu pak?" ucap Ayana terkejut.2


"Iyalah, emangnya berapa harga jus didepan?" tanya Arsen.


"Enam ribu pak," jawab Ayana.9


"Yaudah, itu kan cukup sih uangnya. Emangnya kamu mau jus juga?" tanya Arsen.


Ayana sempat berbalik untuk segera membeli jus pesanan Arsen. Tapi tiba-tiba Arsen memanggilnya lagi.


"Eh bentar, ingat ya saya mau jus alpukat, jangan pake gula banyak alias gak terlalu manis, airnya sedikit aja, jangan pake susu dan satu lagi gak pake lama," ucap Arsen panjang kali lebar. Sekalian aja kali tinggi.9


Emang ya ni orang. udah nyuruh, pake minta yang ribet segala lagi. Kalo bukan bos gue, Udah gue cekik sekarang dia, batinnya.


"Iya Pak... Saya permisi ya pak, " ucap Ayana sambil tersenyum paksa.


Setelah keluar dari ruangan Arsen yang seperti neraka, Ayana yang awalnya pura-pura tersenyum manis langsung berubah raut wajahnya menjadi kecut.


Ayana keluar dengan perasaan marah, kesal dan jengkel yang sudah bercampur jadi satu karena bosnya yang super duper nyebelin sedunia. Setelah sampai di tempat jualan jus sebrang kantornya, Ayana memesan jus bosnya.


"Mas, jus alpukatnya satu ya," ucap Ayana


"Oke mbak," balas si penjual jus tersebut.


"Oh ya mas, jus nya jangan terlalu manis, airnya sedikit aja dan gak pake susu ya," Ayana harus mengingat amanat dari bosnya tadi.


"Ya ampun mbak, ribet amat sih," ucap penjual jus tersebut.


"Hehehe maaf mas, soalnya ini yang mesen bukan saya, tapi bos saya," jelas Ayana.


"Ohh... Gitu ya mbak. Yauda deh, saya buatin dulu ya," ucap penjual jus.


"Oh ya satu lagi mas, jangan pake lama ya Soalnya bisa marah nanti bos saya kalo lama," tambah Ayana.


"Siap mbak," balas penjual jus.


Ayana menunggu pesanan jus Arsen selesai sambil memainkan Hanphonenya. Setelah beberapa menit, jus yang Arsen pesan tadi sudah siap dan sesuai permintaannya.


"Nih uangnya mas," ucap Ayana sambil memberikan uangnya.


"Iya mbak, dan ini kembaliannya," ucap penjual jus memberikan uang kembaliannya.


"Makasih ya mas," ucap Ayana.


"Iya mbak sama-sama," balas penjual jus.


Setelah membeli pesanan dari Arsen yang seperti orang bumil alias ibu hamil, Ayana segera kembali ke kantor untuk mengantarkan jus pesanan bosnya tersebut.


Setelah sampai didepan pintu ruangan bosnya, tak lupa juga ia mengetuk pintunya.


Tok! Tok! Tok!


Ayana masuk keruangan bosnya. 


"Ini jus pesanan bapak," Ucapnya sambil meletakkan jus nya dimeja Arsen.


"Hmm." Arsen hanya berdehem.


"Si kampret bukannya bilang makasih, malah cuma bilang hmm. sukur gak gue kasih racun tadi ke jus itu," gumamnya pelan.


Ayana masih berdiri di depan Arsen sambil menatap Arsen tajam. Sedangkan Arsen sendiri, hanya menatap Ayana bingung.


"Ngapain kamu masih disini? sana cepat keluar dan selesaikan pekerjaan kamu," Perintah Arsen.1


Ayana menghembuskan napasnya kasar sambil beristighfar dan berusaha sabar menghadapi Arsen yang gak tau diri ini.


"Iya Pak," ucap Ayana tersenyum kecut.


Saat hendak berbalik, tiba-tiba Arsen memanggil Ayana lagi.


"Eh bentar, mana uang kembalian beli jus tadi?" tanya Arsen.73


What? Uang kembalian empat ribu aja ditagih? Dasar pelit, batinnya.


"Ini pak kembaliannya," ucap Ayana sambil memberikan uang kembalian tadi yang gak seberapa itu. Tapi bagi Arsen seberapapun itu, uang tetaplah uang.


"Yaudah sana kamu pergi lanjut kerja lagi," Perintah Arsen.


"Iya Pak, permisi," Kali ini Ayana tidak tersenyum sedikitpun dan hanya memasang muka datarnya karena sebenarnya ia sudah habis kesabaran menghadapi Arsen.


Dasar muka tembok gak tau diri, pelit, hobby nya nyuruh orang aja, batinnya kesal.