
" Sebentar ya. " ujar Stella dengan melihat siapa yang menghubunginya ternyata kekasihnya yang tak lain Rafi dan mulai menjauh dari mereka.
" Siapa sihh yang nelpon, kok sampai ngejauh segala dari kita. " ujar Mutiara dengan sedikit aneh melihat gelagat sahabatnya itu.
" mungkin dari ortunya kali, dahh mendingan kita makan. " ujar Anjel sambil memakan makanannya yang baru saja tiba.
" Baiklah. " ujar Mutiara yang langsung memakan makanannya.
Sedangkan Stella masih berdiri di luar kafe sambil mengangkat telpon dari Rafi dan terdengarlah suara Rafi yang terdengar sedang kesal.
📱 : Halo kak. " ujar Stella yang langsung mengangkatnya.
📲 : lagi dimana ? " ujar Rafi dari seberang telpon yang terdengar seperti orang kesal.
📱: lagi di mall, sama Anjel, Mutiara trs sekarang kita lagi makan, ada apa ? " ujar Stella yang menjelaskan agar kekasihnya ini tak marah.
📲 : tapi kenapa gak angkat telpon kakak ? " ujar Rafi yang sedikit kesal karna kekasihnya ini tidak mengangkat telponnya tadi.
📱: Maaf kak, tadi Stella lagi belanja mungkin gak kedengaran. " ujar Stella dengan meminta maaf agar kekasihnya ini tak marah.
📲 : Hmm ... lain kali di angkat dan inget jangan pulang malam - malam. " ujar Rafi yang mencoba menghilangkan kekesalannya agar kekasihnya tak takut kepada dirinya.
📱: iyaa kak, kakak kapan balik lagi ke Jakarta ? " ujar Stella yang mencoba bertanya tentang kapan kekasihnya ini pulang.
📲 : mungkin dua hari lagi, setelah urusan ini selesai kakak pasti pulang dan jaga kesehatan mu disana. " ujar Rafi yang sebenarnya telah rindu berat.
📱: siap kak, kakak juga jangan lupa makan dan jangan kerja terus sampai lupa jaga kesehatan. " ujar Stella yang memberikan ultimatumnya.
📲 : Siap, nyonya Rafi. " ujar Rafi dengan terkekeh.
📱: Masih calon. " ujar Stella yang sudah merah merona.
📲 : sebentar lagi pasti di halalin, ya sudah kakak matiin ya, kakak ada rapat soalnya. " ujar Rafi.
📱: iyaa kak, assalamualaikum. " ujar Stella.
📲 : waalaikumsalam. " ujar Rafi dari seberang dan panggilan pun terputus.
" Aku pasti akan menunggu mu kak, I love you kak. " ujar Stella dengan tersenyum dan kembali lagi menghampiri kedua sahabatnya.
Setibanya di bangkunya, Stella langsung memakan makanannya dengan diam sambil melirik Mutiara yang sedang meliriknya juga dan pandangan mereka pun beradu.
" Ada apa ? " ujar Stella dengan mengelap mulutnya dengan tisu.
" Kenapa tadi kau angkat telpon menjauh dari kita ? ada yang kau sembunyikan ? " ujar Mutiara dengan menatap menyelidik.
" Tidak, tadi itu telpon dari mama ku dan takut kalian terganggu makanya aku menjauh. " ujar Stella dengan tenang agar tak di curigainya dan dia akan terus menutupi hubungannya dengan kakak pertama sahabatnya sampai waktu yang tepat baru dirinya akan memberitahukannya.
" Ohhh. " ujar Mutiara dengan membulat dan langsung kembali memakan makanannya begitupun dengan Stella yang lega karna sahabatnya percaya.
" Habis dari sini mau kemana lagi ? " ujar Anjel yang mengelap sisa makanan di mulutnya dengan tisu.
" Nonton yukk ? " ujar Mutiara dengan cepat.
" Stel, lo gimana ? setuju gak ? " ujar Mutiara dengan menatap Stella.
" Hmmm ... gimananya. " ujar Stella dengan pura - pura berpikir.
" Lama lo, pake mikir segalab kaya ulangan mtk aja. " ujar Mutiara dengan terkekeh.
" Hehehehe ... setuju gua mahh, asal jangan sore - sore ya pulangnya. " ujar Stella yang inget pesan Kekasihnya tidak boleh pulang terlalu malam.
" Siap. " ujar serempak kedua sahabatnya.
Mereka pun setelah selesai makan langsung membayarnya dengan Anjel yang membayar makanan mereka, setelah itu mereka langsung menuju bioskop yang ada di mall tersebut dan membeli 3 tiket film Action dan romantic.
" Gua beli popcorn dulu ya. " ujar Stella dan di angguki kedua sahabatnya.
Stella langsung menuju tukang popcorn yang tak jauh dari hadapannya dengan membeli 3 popcorn tak lupa membali miumannya juga dan setelah itu mereka pun masuk bersama - sama dengan memilih tempat duduk di tengah - tengah agar lebih enak nontonnya.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini senja berganti dengan sinar rembulan, ketiga gadis itu pun keluar dari bioskop setelah film yang mereka tonton selesai dan kembali ke rumah masing - masing.
Di perjalanan menunju mansionnya, Stella merasakan hawa yang sangat mencekam, terlihat jalan yang mulai sepi padahal waktu masih menunjukkan pukul 08.00 a.m dan Stella pun langsung menambah kecepatan mobilnya.
Sampai di persimpangan jalan, Stella memberhentikan mobilnya melihat seorang wanita tengah di ganggu segerombolan preman, Stella yang melihatnya ingin sekali membantunya tapi dia takut karna dia pun tak pandai berkelahi dan dia pun memutar otaknya bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan wanita itu tanpa turun dari mobil.
" Ohh iyaa, di hp gua kan ada suara sirine polisi kenapa gua gak pake itu aja ya. " ujar Stella dengan menepuk jidatnya dan mulai mengambil iphonenya di dalam tas ranselnya.
" Oke, langkah pertama keluar dari mobil, terus ngumpet di balik pohon dan hidupkan sirinenya. " ujar Stella dengan tersenyum dan mulai turun dari mobil melangkah menuju sebuah pohon rindang tak jauh dari wanita itu.
Setelah itu, Stella langsung menghidupkan sirine di iphonenya yang mampu membuat para premana itu panik dan lari terbirit - birit meninggalkan wanita yang sudah terjatuh di tanah sambil menangis.
" Mba gak papa ? " ujar Stella yang menghampiri wanita itu dan mematikan sirinenya setelah memastikan preman itu sudah jauh dari hadapannya.
" Hiksss ... tak papa, makasih ya udah nolong saya dan suatu saat nanti saya akan membalasnya. " ujar wanita itu dengan sangat berterimakasih ke Stella karna telah menyelamatkan nyawanya.
" Sama - sama mba, mari saya antarkan pulang, kalau pulang sendiri takut yang tadi terjadi lagi. " ujar Stella dengan membantu wanita itu berdiri.
" Tidak usah, ini juga sudah malam, kalau kau mengantarkan ku pulang nanti kau sendiri akan pulang larut malam dan itu sangat bahaya. " ujar wanita itu.
" Justru mba yang bahaya kalau jalan sendiri, kalau saya kan naik mobil dan mari saya antarkan. " ujar Stella dengan langsung menarik tangan wanita itu dan wanita itu hanya pasrah memasuki mobil Stella.
" Nama mbak siapa ? " ujar Stella dengan fokus menyetir.
" Annisa Orla. " ujar wanita itu dengan tersenyum.
" Mbak nisa tinggal di mana ? " ujar Stella dengan melirik sekilas.
" Di ujung sana belok kiri, rumah ketiga itu rumah saya. " ujar Anisa dengan menunjuk arah rumahnya.
" Baiklah. " ujar Stella dengan menambah kecepatannya.
Jangan lupa like end votenya 😊🙏