
“Luna?”
Brandon berdiri terpaku ketika seorang perempuan membukakan pintu unit apartemennya. Salivanya tertelan dan
hampir saja tas berisi kue di genggamannya merosot. Matanya mengerjap berkali-kali. Perubahan Luna terkesan cepat dan ini benar-benar mengejutkannya.
“Masuklah, Bran,” pinta sosok yang sekarang sudah tidak bisa disebut sebagai gadis lagi.
Wanita itu meraih tas yang dibawa Brandon, lantas berjalan menuju meja makan dan membukanya di sana. Matanya berbinar-binar. “Wow! Aku sangat jarang mendapatkan bingkisan seperti ini!”
Brandon berjalan menghampirinya dengan isi pikiran yang masih berkecamuk. “Luna?”
“Iya?”
Luna menoleh dan mendapati pria itu merunduk dengan kedua tangan memegangi bagian dari tubuhnya yang kini
menyembul di balik baju terusan putih bermotif floral yang dikenakannya. Pria itu mengusapnya sejenak, lalu mendongak.
“Apa ini ….” Brandon bertanya ragu-ragu.
Wanita itu tersenyum. “Kau pikir aku tidur bersama siapa lagi selain denganmu waktu itu?” balasnya.
Mulut Brandon menganga. Sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi bahkan terlihat di depannya.
“Aku hamil anakmu, Bran,” imbuh Luna.
Saliva Brandon terteguk sempurna. Bagaimana bisa? Secepat ini? Bahkan dia hampir lupa bagaimana waktu itu dia melupakan sosok Clara dan bercumbu dengan wanita lain selain istrinya. Dia mematahkan janjinya lagi untuk setia.
“Aku ….”
“Kau tidak suka?” tanya Luna.
Pria bermata merah itu menatap Luna, lantas mengecup perut buncit wanita itu sebelum akhirnya berdiri. “Kau suka?” balasnya retorik.
Luna tersenyum semringah. Kedua tangannya merangkul pundak pria tersebut. Mata hijaunya tampak bersinar sangat terang. “Bahkan tanpa ikatan itu, aku pun sudah senang,” katanya.
Brandon menghela napas seraya tersenyum. Dia meraih dagu wanita itu dan mengecup ranumnya, ******* habis
isinya selama sekian menit. Lima bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi mereka berpisah dan berita kehamilan ini membuat jantung Brandon berdetak tak karuan.
Dia bahagia. Sangat bahagia. Meski ada sisi di mana dia merasa bersalah karena telah merusak janji sucinya pada
Clara.
“Terima kasih, Bran,” lirih Luna usai melepas sentuhan manis pria di depannya. Pagutan Brandon tak jua lepas dari pinggangnya. Kedua mata mereka bertemu. “Bagaimana kabarmu?”
Brandon mengangguk. “Kau bisa lihat sendiri, aku jauh lebih baik sekarang,” jawabnya. “Terima kasih.”
Senyuman Luna tidak pernah pudar. Wanita itu memang tulus mencintai Brandon, bahkan sukarela mengandung
“Oh, jadi, kau sudah periksa?” tanya Brandon kemudian seraya melepas pagutannya. Tangannya mengusap perut
buncit Luna.
Luna mengangguk. “Kehamilan Elf biasanya hanya sekitar 4 bulan, tetapi karena aku hamil bersama seorang dari
ras manusia, maka bulan ini atau bulan depan adalah hari di mana aku akan melahirkan,” jawabnya. “Begitulah kata dokter.”
Kali ini, Brandon kembali terpaku. Membuat Luna yang menatapnya sedikit frustrasi.
“Ada apa dengan reaksimu?” tanya wanita itu.
“Kenapa cepat sekali?” balas pria berambut cokelat itu. “Kita bahkan belum bulan madu!”
Luna lantas mengibaskan tangannya. Dia kembali berfokus pada kue yang dibawa pria itu dengan memindahkannya ke piring.
“Kau ingin istrimu melihat suaminya berkencan dengan selingkuhannya yang sedang hamil tua?” tanyanya kemudian, mencolek krim kue lantas ******* habis jemarinya yang penuh topping itu. “Makanya aku tidak mengabarimu soal hal ini. Aku takut beritanya menyebar sampai ke telinga istrimu.”
Brandon menghela napas. Dia duduk di kursi yang berdekatan dengan Luna. “Setidaknya, kirim aku pesan,” katanya. “Aku harus mengurusmu, merawatmu. Aku bertanggung jawab dengan hal itu karena aku ayah dari bayimu.”
Luna terdiam. Dia menatap pria yang menatap lurus padanya. Entahlah, sorot mata Brandon antara mengutarakan
ketulusan atau iba, Luna tidak bisa menebaknya. Sulit sekali!
“Aku baik-baik saja, Bran,” ucapnya. “Aku juga sudah menyerahkan pekerjaanku pada Neoma. Dia kaki tanganku
dan aku sangat memercayainya.”
“Lalu bagaimana kalau kau tiba-tiba melahirkan? Sendirian? Kau pikir aku tega?”
Luna tersenyum. Tangannya menyentuh rahang pria itu dan mengusapnya dengan lembut. “Kalau kau ingin, kau
bisa menemaniku sampai hari itu tiba.”
“Tentu saja!”
“Hm?” Luna sedikit tersentak.
“Tentu saja aku akan menemanimu! Aku ….”
Brandon sontak meneguk liur pahit. Pita suaranya tercekat seketika dan membuatnya urung melanjutkan ucapannya.
Aku mencintaimu, Luna.
***