
Clara membawa nampan berisi sepiring camilan dan juga teko berisi teh dengan beberapa cangkir ke sebuah gazebo di halaman belakang mansion Owen. Ada beberapa anak tengah bermain dan berlatih di sana. Baru kali ini Clara melihat mereka semua, termasuk Elliot yang tengah melatih beberapa anak di lapangan tembak.
Pemuda itu melirik ke arah gazebo dan melihat Clara menatapnya. Dia mendengkus, tampak berbicara sejenak
dengan salah seorang pemuda, sebelum akhirnya berjalan menuju gazebo.
“Apa masih kurang bercumbu dengan ayahku?” sarkas pemuda bermata biru safir itu.
Clara tidak menimpali. Dia menuangkan secangkir teh dan menyodorkannya kepada Elliot yang duduk di seberangnya. Pemuda itu menyesapnya sejenak.
“Tidak buruk juga,” ucapnya.
“Apa itu sudah membayar semua kesalahanku di dapur tadi?” tanya perempuan berambut cokelat itu.
Elliot menatap Clara. Menyelisik rupa wanita cantik tersebut, lalu mendengkus. “Belum semuanya,” jawabnya sembari menyilangkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain. Netranya yang memesona memandang ke arah anak-anak yang sedang berlatih.
“Apa mereka saudaramu?” tanya Clara berusaha memancing obrolan.
Pemuda itu menoleh dan mengangguk. “Ini hanya sebagian,” jawabnya. Sekian detik selanjutnya, Elliot mengembuskan napas panjang. “Kau tahu, sulit rasanya berjuang tanpa seorang ibu di sini.”
“Hm?” Clara mengernyit, terlebih ketika pemuda itu menyeringai padanya. “Elana. Apa dia adalah ibumu dan anak-anak itu?” tanyanya ragu.
Elliot mengangguk. “Ibu melahirkan banyak keturunan bersama Ayah,” jawabnya, lalu tertawa picik. “Ayah bilang dia mencintai Ibu, tetapi dia sama sekali tidak memikirkan kondisi Ibu waktu itu.”
“Apa maksudmu?”
Pemuda itu memandang lurus ke arah perempuan di seberangnya. “Apa Ayah tidak pernah memberitahukan hal ini
padamu?” balasnya retorik. “Soal ritual sesat itu?”
Clara terdiam. Ritual pemangku segel phoenix. Dia hanya tahu soal ritual yang digunakan untuk melestarikan
keturunan Werewolf dan juga pemilik segel Phoenix.
“Ritual itu untuk menyelamatkanku—”
“Menyelamatkanmu?” potong Elliot. “Kau harus berhati-hati dengan ‘pria itu’ kalau kau tak ingin binasa karenanya seperti ibu kami.”
Saliva Clara terteguk sempurna. Baru kali ini dia mendengar hal yang berbeda secara langsung dari mulut keturunan Jasper sendiri.
Ucapan itu menggetarkan hati Clara seketika. Dia pun teringat dengan sosok Brandon Hover, suaminya yang nyata dan ditinggalkan olehnya. Melihat bagaimana raut wajah Elliot detik ini, tidak ada sirat penipu di sana. Dia masih muda dan amat inosen. Apalagi ketika tiba-tiba sorot mata Elliot berubah sendu.
“Kau masih punya kesempatan untuk kembali. Jadi, sebelum semuanya terlambat—”
“Lalu, apa yang kalian lakukan di sini kalau kalian membencinya?” potong Clara.
Elliot menghela napas panjang. Jemarinya memainkan pegangan cangkir di hadapannya. “Aku bisa saja pergi,” ucapnya. “Tapi bagaimana dengan mereka?”
Elliot mengarahkan pandangannya pada beberapa anak kecil yang tengah bermain. Mereka begitu polos dan tidak tahu apa yang terjadi dengan masa depan mereka. Pemuda itu kembali menatap Clara.
“Tidak ada yang bisa diuntungkan dari ritual itu,” ujarnya. “Itu hanya akan menguntungkan dirinya saja.”
“Kau pernah mencoba berbicara dengan ayahmu?” tanya Clara.
“Dia tidak akan pernah mau mengerti.” Elliot menjawabnya dengan muka masam. “Dia hanya ingin memanfaatkan
orang-orang yang bisa dipengaruhi olehnya.”
“Lalu untuk apa dia membiarkan kalian di sini?”
“Membalas dendam?”
Clara tersentak. “Apa maksudmu?” selisiknya.
Elliot terdiam. Namun, pandangannya terarah pada sesuatu yang menarik atensi, sebelum akhirnya dia bangkit dari
kursi setelah tersenyum penuh arti pada Clara. “Kau akan tahu sendiri nanti,” ucapnya.
Sampai akhirnya, seorang pria menghampiri mereka.
“Aku harus kembali latihan,” ucap Elliot, lalu pergi dari sana.
Clara hendak berbicara, tetapi urung ketika mendapati Jasper telah berdiri di belakangnya. Lagi-lagi dia gagal menggali informasi dari anak-anak Jasper.
***