My Husband And My Alpha

My Husband And My Alpha
24 . JANTUNG PURE ELF



Keduanya berjalan menyusuri setiap koridor dan ruangan di dalam bangunan kuno tersebut. Piramida berbentuk


trapesium itu seolah menyimpan sejarah tersembunyi yang tidak diketahui oleh banyak ras di dunia Immortal. Namun, sejak tadi Brandon memandangi Luna yang sibuk menelisik informasi di dalam sana.


“Boleh kutanya sesuatu?” tanya pria itu.


Luna menoleh dan mengendikkan alis.


“Dari mana kau dapatkan potongan artefak itu?”


Pertanyaan Black Witcher itu membuat langkah Luna terhenti. Dia kembali menatap pria berambut cokelat tersebut.


“Mendiang ayahku yang menyimpannya,” jawabnya. “Suatu ketika, sebelum penyerangan ras Werewolf itu terjadi, ayahku memberitahuku soal jantung pure elf dan memberikanku artefak tersebut. Lalu kemudian dia meninggal dan sejak saat itu aku terus mencari informasi soal hubungan dari artefak dan jantung pure elf serta kekuatan yang


dihasilkan ketika mereka berada di orang yang tepat.


“Aku sudah pernah mencarinya, tetapi tidak membuahkan hasil. Para Werewolf terus menghalangi jalanku karena


ternyata mereka juga mengenal legenda tentang jantung pure elf itu.”


Brandon mengangguk paham. “Bagaimana bentuknya? Bentuk jantung pure elf yang kau maksud?”


Luna terdiam dan berpikir sejenak. “Aku belum pernah melihatnya,” katanya. “Tapi, menurut informasi dari ramalan kuno Wizard, jantung pure elf sebenarnya bukanlah benar-benar jantung.”


Kening pria bermata merah itu sontak berkerut. “Apa maksudmu?”


“Para Elf terbentuk dari cahaya alam, entah itu dari cahaya yang dihasilkan tanaman, bebatuan kristal, atau mangata. Bisa jadi mereka juga terlahir dari arunika dan sandyakala. Sama seperti para Fairy. Kau pernah dengan soal mereka?”


Brandon lantas terdiam. “Aku hanya pernah membacanya saja,” timpalnya. “Aku belum pernah melihat kelahiran


mereka secara langsung.”


Luna sontak menjentikkan jemari. “Kalau kita beruntung menemukan jantung pure elf, mungkin kita bisa melihat kelahiran para fairy dan elf secara langsung,” ucapnya antusias.


“Mereka ada hubungan apa?”


“Di satu sisi, mereka sama-sama lahir dari cahaya alam dan bergantung hidup pada cahaya. Kau pernah mendengar tentang serbuk Fairy?”


Brandon menggeleng. Dia sepolos itu memang.


“Serbuk itu diproduksi oleh para Fairy yang memiliki hubungan langsung dengan para Elf yang memiliki jumlah


cahaya yang lebih besar daripada Fairy,” ujar Luna. “Dan jantung pure elf yang dimaksud adalah … cahaya dari Elf yang hendak lahir ke dunia.”


Kali ini, pria itu terdiam dan tampak berpikir. “Maksudmu, aku harus memakan jantung bayi?” tanyanya ragu.


“Er … bahasa kasarnya sih seperti itu,” jawab wanita berambut blonde tersebut. “Tapi tidak dalam bentuk bayi. Jangan berprasangka dulu!”


“Apa mereka tinggal di sini?” Black Witcher itu kembali bertanya.


“Mungkin iya, mungkin juga tidak.” Luna berjalan mendahului Brandon ketika dirinya melihat sebuah tanaman yang tumbuh di puncak tumpukan emas. “Ada Elf yang terlahir di tengah kelompoknya, ada juga yang terlahir sebagai individual.”


Manik merah Brandon mengarahkan pandangan yang sama seperti Luna. Tanaman itu menarik perhatiannya. Ada sebuah titik cahaya yang dihasilkan dari cahaya matahari yang merasuk melalui celah-celah bangunan.


Pria itu mendaki tumpukan emas. Dia tidak peduli pada harta karun itu sekarang. Mungkin saja kalau dirinya terlahir sebagai pria miskin, dia juga akan membawa pulang semua emas-emas tersebut nantinya.


Sampai di puncak, Brandon mengulurkan satu tangan ke arah cahaya yang dilihatnya. “Apa ini yang kau maksud?” tanyanya menoleh pada Luna yang menunggunya di bawah sana.


Wanita itu hanya mengendikkan bahu. “Tunggu sampai agak besar sedikit,” katanya. “Ini belum tengah hari kurasa. Sinarnya akan membesar kalau matahari sudah mencapai titik kulminasinya.”


Brandon mengangguk mengerti. Dia duduk di dekat tanaman tersebut sembari menunggu. Luna akhirnya menyusulnya ke atas dan duduk di sampingnya.


“Indah, bukan?” tanya wanita itu.


orang-orang ketika membangun bangunan ini?” gumamnya. “Menyimpan harta?”


Luna ikut menyebarkan pandangan ke sekitar. “Entahlah.”


“Di dunia manusia, orang-orang kuno membangun piramida untuk dijadikan makam atas perintah sang raja sebelum dirinya meninggal dunia. Tapi, di samping itu, piramida juga dijadikan sebagai aspek komunikasi antara raja dengan entitas lain,” ujar Brandon. “Emas-emas dan harta lain yang ditemukan di dalam piramida, biasanya adalah milik raja-raja yang meninggal dan dimakamkan di piramida tersebut.”


“Berarti ….” Luna menatap pria di dekatnya dengan pandangan penuh arti.


“Pasti ada harta karun yang jauh lebih bagus daripada jantung pure elf ini di sini,” imbuh Brandon dengan seringai picik terukir di sudut bibir.


“Jangan bodoh!” tegur Luna. “Tujuanmu kemari hanya untuk ini, ‘kan?”


Brandon mengangguk. “Aku tahu,” ucapnya.


“Apa yang kau lakukan setelah mendapatkan kembali istrimu?” tanya wanita Wizard itu.


Pria berambut cokelat itu terdiam cukup lama. Helaan napas lolos begitu saja dari lubang hidungnya, membentuk


asap tipis di atmosfer. “Entahlah,” lirihnya. Matanya menatap ke arah cahaya di depannya. “Aku hanya ingin hidup bersamanya. Itu saja.”


Luna mengulurkan tangan dan membingkai wajah Brandon hingga pria itu menatapnya. “Kau memiliki hati yang murni, Bran,” ucapnya. “Tidak ada yang tidak mungkin terjadi kalau kau terus berusaha. Istrimu pasti akan kembali padamu, cepat atau lambat.”


Brandon hanya terdiam. Dia kembali memandang cahaya yang merupakan cikal bakal jantung pure elf tersebut.


Beberapa menit menunggu, sampai akhirnya cahaya itu membesar sebesar telapak tangan.


Namun, belum sempat pria itu mengambilnya, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh. Keduanya mendongak, menatap langit-langit ruangan yang seolah hendak runtuh. Mereka berdiri seketika.


“Sesuatu terjadi,” gumam Luna. “Cepat ambil jantungnya!”


Brandon bergegas mengambil cahaya yang merupakan jantung pure elf tersebut. Namun, tiba-tiba saja suara gemuruh itu berubah menjadi reruntuhan langit-langit bangunan yang makin lama berderet dan runtuh ke arah mereka.


“Luna awas!!!”


BRUKKK!


Suara reruntuhan terjadi secara beruntun ketika Brandon menyambar tubuh Luna hingga keduanya terguling. Lantai bangunan pun runtuh seketika dan membuat mereka terjerembab ke sebuah lubang terdalam di dasar bangunan tersebut.


Brandon perlahan membuka mata. Debu dan pasir mengacaukan pandangannya. Dia bangkit dan mendapati jantung pure elf masih di genggaman tangannya. Namun, dia tersadar ketika tidak melihat Luna di sampingnya.


Matanya membola ketika mendapati tubuh wanita itu tergolek tidak jauh darinya. Pria itu bangkit dang sedikit


meringis karena salah satu tungkainya terluka akibat kejatuhan kepingan reruntuhan batu dan dinding bangunan tadi. Cairan merah tampak mengalir dan menggenangi permukaan tanah.


“Luna! Luna!!!”


Brandon bergegas menghampiri wanita itu. Luna pingsan dengan luka di kepalanya. Sepertinya setelah dia


terlepas dari rengkuhan Brandon tadi, Luna terjatuh dan mendarat di tumpukan bebatuan dinding.


“Luna! Bangun, Luna!”


Pria itu terus berusaha menyadarkan pemimpin Wizard tersebut. Namun, tidak ada hasil. Kecemasan Brandon


semakin meningkat manakala luka di kepala Luna ternyata cukup dalam hingga membuat darah mengucur deras darinya.


“Luna! Bertahanlah!”


***