
Luna mengerang lirih, merasakan tubuhnya dalam sensasi yang didapatkannya kali ini. Dia merengkuh leher pria yang kini berada di atasnya. Setiap gerakan Brandon membuat tubuh Luna menggeliat, membiarkan pria itu menguasai dirinya selama beberapa saat.
Pikirannya terasa terbang bebas dan semua hal yang dikhawatirkannya lenyap begitu saja. Saat ini, yang ada dalam dirinya hanyalah kenikmatan yang menggelora di setiap detik waktu yang berjalan. Siapa pun pasti akan terbuai oleh putih halusnya kulit Luna Castelle, termasuk Brandon sekali pun. Pria itu benar-benar diliputi oleh hasrat membara kali ini. Tidak peduli siapa yang berada di bawahnya, dia tidak sedang memikirkan Clara
sekarang.
“Bran ….” Luna melirih, sedikit memejamkan mata.
“Sedikit lagi,” balas pria itu dengan suara serak nan berat.
Brandon cukup menikmati waktu
bersama wanita tersebut. Ketika pria itu memutuskan untuk menerima tawaran Luna tanpa adanya ikatan, perempuan Wizard itu langsung menyetujuinya begitu saja. Karena memang sejak awal, Luna sudah menyukai pria itu bagaimanapun kondisinya. Brandon sangat berbeda dari kebanyakan pria lain. Pria berambut cokelat itu tampak tulus dengan kata-katanya yang bahkan sama sekali tidak terdengar menggoda untuk para wanita. Dan itulah yang membuat Luna jatuh hati pada Brandon sejak pertemuan pertama mereka.
Meski sebenarnya ikatan itu diperlukan, tetapi Luna tidak bisa memendam hasratnya terlalu lama. Dia wanita dan dia butuh seseorang untuk memberinya keturunan terbaik bagi penerus ras Wizard. Brandon Hover adalah pasangan yang cocok baginya. Jadi, biarlah setan-setan itu mengerubungi keduanya kini. Luna sudah tidak peduli lagi dengan segala aturan yang mengikatnya di ras Wizard.
“Bran … stop ….”
Siapa pun tidak bisa menghentikan Brandon sekarang. Pria itu seperti tersihir dengan tubuh wanita yang tengah dijamahinya. Dia tidak peduli bahkan ketika Luna menyuruhnya untuk berhenti. Satu kali, dua kali, bahkan tiga kali Brandon tidak pernah berhenti.
“Sedikit lagi, Luna ….”
Mereka melakukannya entah untuk berapa lama. Sampai akhirnya, Luna memejamkan mata sangat erat, berharap
rasa itu berhenti begitu saja. Dia memeluk pria yang berada di atasnya semakin erat seolah tidak ingin melepaskannya sekarang. Sementara butir keringat telah membasahi keduanya, menjadi bukti bagaimana penyatuan mereka begitu berhasil.
Brandon justru semakin mempercepat gerakannya. Sampai untuk beberapa lama, akhirnya keduanya benar-benar mencapai surga yang diinginkan secara bersama-sama.
Bulan baru di luar sana menjadi saksi atas penyatuan kedua ras tanpa ikatan suci tersebut. Semilir angin menerpa dengan anggun tirai putih di jendela yang belum tertutup sempurna. Suara surga itu masih berlanjut entah sampai kapan. Hanya derik jangkrik dan malam yang saling mengungkung atmosfer keduanya.
***
Sepasang mata biru terbuka ketika telinganya mendengar sesuatu di luar kamar. Pria itu terbangun, menoleh ke arah wanita yang terlelap di sampingnya, hanya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya saat ini.
Saliva Jasper terteguk usai mengingat hubungan yang mereka lakukan hari ini. Dia cukup intens melakukannya meski Clara sempat menolak. Jasper melihat luka di sekujur tubuhnya sudah menutup sempurna, hasil dari penyatuan yang mereka lakukan.
Lagi, sebuah suara menarik atensi pria itu. Dia bangkit dari ranjang, mengenakan celananya sejenak, lalu berjalan menuju balkon. Pintu balkon dibuka sebelum akhirnya dia ke luar dan mendapati seekor gagak bertengger di pagar. Satu tangannya terulur menyentuh sang gagak. Burung itu berkoak, lalu memudar menjadi helaian bulu-bulu hitam dengan sebuah kertas yang akhirnya digenggam oleh Jasper.
Jasper membaca isi pesannya sejenak. Dia berdecih dengan tangan meremas kertas itu hingga berubah menjadi
butiran debu yang terbawa hempasan angin malam.
ingin menggertak siapa pun yang mengirim pesan itu untuknya.
“Jasper?”
Suara Clara yang memanggil dari ranjang. Pria yang dipanggilnya menoleh, lantas menghampiri wanita yang
masih terduduk dengan selimut menutupi tubuhnya itu. Rambut cokelatnya sedikit berantakan setelah perhelatan yang terjadi di kasur tadi. Beruntung saja, ranjangnya tidak patah seperti di kebanyakan film-film yang ditonton Clara selama ini.
Pria itu lantas memeluknya erat dan mengungkung perempuan itu, lalu mendaratkan kecupan di ranumnya dengan
sangat manis. Keduanya ******* sesaat sebelum akhirnya Clara mengakhiri sentuhan itu.
“Kau tampak marah,” gumamnya. “Kepada siapa?”
Brandon tampak berpikir sejenak. “Seseorang mengirimkan pesan untukku,” katanya. “Dia musuh lama klan Owen.”
“Dia ingin bertemu denganmu?”
Pria berambut hitam itu mengangguk.
“Mungkin ada proyek pekerjaan yang harus kalian bahas,” ucap Clara berusaha berpikir positif.
Jasper beralih duduk di samping Clara dan memeluk wanita yang dicintainya itu—yang katanya mate-nya. “Entahlah,” katanya. “Aku sebenarnya menghindari pertemuan ini.”
“Kenapa? Kau tidak ingin ada perkelahian lagi seperti yang kau ceritakan itu?”
Pria itu kembali mengangguk. “Aku hanya ingin fokus padamu saja,” balasnya, mengecup puncak kepala Clara.
Wanita itu tersenyum simpul. Jemarinya memainkan selimut putih di depannya. “Apa kali ini akan berhasil lagi?”
tanyanya lagi. “Aku masih takut soal kejadian kemarin.”
Jasper terdiam. Tentu saja dia mengerti betapa Clara sangat trauma dengan peristiwa beberapa bulan yang lalu. Peristiwa yang merenggut bayi mereka dan membuatnya harus diculik oleh para Black Witcher. Hal itu membuat batin Jasper menggertak penuh dendam. Koloni semut hitam itu selalu mengganggu rencananya sejak dulu. Apalagi sekarang ditambah oleh sosok Brandon Hover.
Entah kenapa Jasper semakin membenci dan ingin membumihanguskan keberadaan mereka secepat mungkin.
“Kau tenang saja,” ucap pria itu setengah menghela napas, lalu mencium kepala Clara dengan sangat lembut. “Selama ada aku, kau akan baik-baik saja.” Tangannya lantas menyentuh perut wanita itu dan mengusapnya dengan lembut. “Kali ini, kita pasti akan berhasil.”
***