
Sebuah petir merah menyambar sebuah pohon hingga menyebabkan bau hangus ke seluruh penjuru. Serangannya
hanyalah dari sejentik jemari seorang pria, tetapi kekuatan yang dihasilkan bisa membuat beberapa orang di sana terkejut setengah mati.
Tepuk tangan dari seorang pria berambut hitam terdengar. Si pemilik petir merah barusan menoleh dan tersenyum
semringah.
“Jantung pure elf benar-benar bekerja padamu,” ucap Eden. Dia melihat sebuah pedang di tangan Brandon. “Dan itu ….”
“Astronimus,” sahut Anne yang berdiri tidak jauh di belakang mereka.
Dua pria itu menoleh padanya. Anne berjalan menghampiri dan menunjuk pedang bernama Astronimus di genggaman Brandon.
“Itu pedang legenda,” ucap perempuan berambut putih itu. “Hanya orang-orang tertentu yang bisa memanggil dan menggunakannya.”
Eden lantas menatap pria berambut cokelat di depannya. “Darimana kau mempelajari tekniknya?” tanyanya.
Brandon mengendik. “Perpustakaanmu,” jawabnya datar, membuat pemimpin Black Witcher di depannya mendengkus. Dia mengingat lagi momen ketika dirinya memanggil pedang perak sepanjang 1,5 meter tersebut.
“Aku seperti tidak sadar waktu itu,” gumamnya.
“Apa maksudmu?” tanya Eden.
Brandon menggeleng. “Aku hanya mengulurkan tanganku ke udara, lalu menggumamkan manteranya,” ujarnya. “Kupikir aku memanggil petir lain, dan aku tidak tahu kalau yang datang adalah benda ini. Juga … setelah itu, aku seperti tidak bisa mengontrol diriku.”
Eden bergeming dan tampak berpikir.
“Apa itu efek dari Astronimus?” sahut Anne. “Aku tidak pernah mendengar tentang efek samping dari senjata ini sebelumnya. Aku hanya tahu soal sejarah dan kekuatannya saja.”
Eden mengangguk. “Aku juga begitu,” katanya. “Aku berusaha memanggilnya sejak lama tapi tak ada hasil.”
“Aku pikir … kau punya sesuatu yang kami tidak punya, Bran,” sambung Anne.
Brandon lantas terdiam. Dia kembali memandangi pedang di tangannya. Entah kenapa, ada perubahan dalam
Luna benar. Jantung pure elf bisa membuat kekuatan Brandon meningkat dengan pesat.
Ngomong-ngomong soal Luna Castelle, sudah lima bulan Brandon tidak mendapat kabar darinya. Setelah peristiwa ranjang panas itu, dia kembali ke mansion Eden dan mulai kembali menjalani kehidupan normalnya di bisnisnya.
“Aku harus pergi,” ucap Eden tiba-tiba usai menerima pesan di ponselnya.
“Mau ke mana?” tanya Anne.
“Pekerjaan,” jawab pria itu sedikit berdecak. “Klienku kali ini benar-benar tak mau menunggu. Kau mau ikut, Bran?”
Brandon tersentak. “Ah, tidak. Aku punya urusan lain hari ini.”
Anne mendengkus. “Kalau begitu aku harus kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya,” gerutunya dan membuat Eden tertawa, lalu mengusap gemas puncak kepalanya.
“Istirahatlah. Kau terlalu bekerja keras akhir-akhir ini.”
Brandon tersenyum geli melihat hubungan Eden dan Anne. Mereka sudah seperti sepasang kekasih, meski tidak terikat ikatan sakral sama sekali.
Usai Eden mengajak Anne dan yang lainnya pergi, tinggallah Brandon seorang diri. Dia berjalan sembari mengecek ponselnya. Mencoba mengirim Luna pesan sejenak.
Pria itu duduk di tangga gazebo belakang mansion. Menikmati desir angin musim gugur yang menerpa helaian
rambutnya. Sudah lama sekali dia mewarnai rambut blondenya itu menjadi cokelat dan kini dia cukup nyaman dengan warna itu. Matanya sekarang berwarna merah dan kalau rambutnya masih blonde maka akan membuatnya terlihat seperti seorang albino garis keras.
Sibuk menikmati atmosfer, tiba-tiba saja ponselnya memunculkan notifikasi. Netra Brandon melebar sesaat.
Luna membalas pesannya dan mengatakan bahwa gadis itu berada di apartemen sekarang.
Kesempatan bagus untuk menemuinya setelah sekian lama.!
***