My Husband And My Alpha

My Husband And My Alpha
26 . KEMBALI



Matahari telah sampai pada titik kulminasinya. Cahayanya terang menembus celah-celah hutan dan menghangatkan permukaan tanah. Semilir angin perlahan berembus, menerpa dedaunan kering dan semak yang berada di hutan tersebut.


Brandon mengangkat paha ayam yang baru saja matang dibakarnya. Setelah mendapatkan jantung pure elf tadi,


dia dan Luna memutuskan untuk mencari bahan makanan. Setidaknya demi mengisi kekosongan dalam perut mereka karena sejak kemarin pun keduanya belum makan apa pun.


Mata merah pria itu menoleh ke arah seorang wanita yang tengah menatap langit. Cahaya matahari tampak menerpa wajahnya yang seputih salju. Mata hijaunya tampak memesona, sangat kontras dengan hijau dedaunan di sekitarnya. Tanpa sadar, pria Black Wicther itu tersenyum. Kapan lagi dia bisa melihat pemandangan seindah ini? Sisi lainnya bahkan mengesampingkan kalau Luna itu hanyalah teman, atau bahkan lebih dari itu sekarang.


“Kau tidak lapar?” tanya pria tersebut, menarik atensi Luna.


Perempuan itu mengangguk. Dia berjalan dan duduk di dekat Brandon sebelum akhirnya menerima sebuah paha ayam bakar. “Wow, tidak ada bumbu, tidak ada kecap atau saus,” gumamnya. “Okey. I’m Okay.”


Brandon tertawa kecil. “Aku pernah belajar bagaimana cara bertahan di luar rumah saat mengikuti acara pendakian kampus,” katanya. “Aku cukup berbakat dalam menghasilkan ayam bakar yang enak bahkan tanpa bumbu.”


Luna mencibir. Dia menggigit sedikit daging ayam di tangannya. “Mmm … enak,” ujarnya. “Bayangkan saja, kau


tampan, pintar berkelahi, pintar memasak. Kurang apalagi?”


Mendengar hal itu, Brandon lantas terdiam. “Entahlah,” katanya. “Aku kurang berbulu mungkin.”


Wanita berambut blonde itu hampir saja tersedak mendengarnya. Dia memukul keras lengan pria di dekatnya


tersebut meski pria itu tetap tertawa menimpali.


Hubungan mereka bahkan jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Terbesit sebuah rasa di hati Luna dan makin


lama makin merekah. Namun, siapa dia? Dia hanya orang yang kebetulan hadir dan membantu seorang Brandon Hover demi mencapai ambisinya. Luna tidak lain hanyalah teman bagi Brandon, tidak lebih.


“Menginaplah di mansionku dulu,” ucap Luna sambil menikmati ayam bakarnya yang sudah tersisa separuh.


Brandon menoleh, lalu mengangguk. “Apa ada lagi yang kau perlukan?” tanyanya.


Wanita itu terdiam sesaat. “Mungkin ada,” jawabnya.


Tulang ayam dilemparkan ke bara api hingga aroma khasnya menguar ke udara. Asap tipis menguasai atmosfer,


bersinergi dengan sisa-sisa embun kala itu. Brandon lantas mematikan bara api supaya tidak membakar sekitarnya dan juga mengundang ras lain ke sana.


Namun, belum sempat mereka pergi, sebuah suara menarik perhatian keduanya.


“Ada apa?” tanya Brandon.


Luna terlihat fokus menajamkan pendengarannya. Dia menggeleng. “Mata-mata,” timpalnya. “Kita harus segera


pergi dari sini.”


***


Tidak lama kemudian, Luna memutuskan untuk membuat segel portal yang langsung mengantarkan mereka ke


mansion ras Wizard. Bangunannya lebih besar dari mansion milik Eden. Dengan dinding berupa batu pualam dan lantai dari marmer putih, membuat mansion itu terlihat khas dimiliki oleh Wizard.


Brandon berjalan bersisian dengan Luna ketika mereka memasuki mansion dan disambut oleh banyak orang.


Mereka berjubah putih dengan aksen warna emas dan hijau. Seluruh tanaman bahkan pohon di sana seperti tunduk pada sang ratu ketika Luna Castelle melangkah menuju tangga utama.


Aura wanita itu berubah meski dia sedang tidak mengenakan pakaian khas ras Wizard. Begitu terang dan mendamaikan. Brandon sampai tak mengedipkan mata saat memandanginya.


“Kau harus mandi dan ganti pakaian,” ucap Luna. “Ayo, kuantarkan ke kamarmu.”


Brandon hanya menurut. Dia adalah tamu spesial di sini, mungkin. Atau memang kebiasaan para Wizard yang sangat ramah. Padahal, mereka tahu kalau dirinya adalah Black Witcher, ras yang harusnya dibenci oleh seluruh umat di dunia Immortal.


Luna tampak menggiring pria itu di sebuah koridor lantai dua. Wanita itu berhenti di depan sebuah pintu dan


membukanya.


“Kamarmu,” ucapnya. “Panggil aku kalau kau butuh bantuan.”


mulai membasuh diri setelah dirasa ada aroma anabul bersemayam di kulitnya dan Brandon tak suka itu.


Rasa-rasanya sudah lama sekali Brandon tidak merasakan segarnya air yang bersumber langsung dari pegunungan. Ya, mansion ras Wizard terletak di kaki pegunungan Croyal, salah satu pegunungan terpanjang di dunia Immortal. Setidaknya, itu yang Brandon tahu setelah belajar banyak hal di sana. Airnya segar dan dingin, benar-benar membuat tubuhnya terasa terlahir kembali.


TOK!


TOK!


TOK!


Brandon membuka mata ketika dia masih membasuh helaian rambutnya. Sebuah bayangan tampak jelas di balik


pintu toilet.


“Aku sudah menyiapkan baju ganti!”


Suara Luna dan Brandon hanya bisa berdeham menimpali. Lagipula, untuk apa wanita itu menyiapkan baju ganti


untuknya. Apakah di lemari di kamar itu tidak ada pakaian ganti?


Akhirnya, pria Black Witcher itu memutuskan untuk menyudahi acara mandinya. Dia menyambar handuk yang


langsung dililitkan pada pinggang sebelum akhirnya ke luar ruangan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita tengah menyiapkan sesuatu di nakas samping ranjang.


“Apa yang kau lakukan?” tanya pria itu.


Wanita itu menoleh. Rambut blondenya masih tampak basah meski dirinya telah mengganti pakaian menjadi


piyama. “Oh, lilin aromaterapi,” jawabnya. “Kami biasa menggunakan ini untuk relaksasi. Setelah kau istirahat, kau akan terbangun dalam keadaan segar bugar besok.”


Brandon tercenung. Seumur hidup, belum pernah ada wanita seperhatian ini padanya, bahkan Clara sekali pun. Istrinya itu hanya bisa membentak, pergi dugem, atau bahkan mengomelinya ketika dirinya ketahuan selingkuh.


“Bran?”


Pria itu tersentak. “Ah, maaf,” katanya.


“Kenapa?” Luna menghampiri pria yang masih bertelanjang dada itu. Dia meletakkan satu tangan tepat di dada


Brandon. Sebuah sinar bersemu dari telapak tangannya. “Kau harus banyak istirahat malam ini,” ucapnya seraya menatap pria itu. “Aku minta maaf karena aku malah merepotkanmu selama perjalanan kemarin.”


Brandon terdiam sesaat. “Tidak apa,” katanya. “Aku baik-baik saja.”


Satu tangan Brandon terangkat dan menyentuh puncak kepala Luna. Jemarinya menyisir dan menelisik dasar


helaian rambut wanita itu hingga membuat si empunya sedikit terganggung. Meski begitu, wajah Luna terlihat bersemu merah.


“Lukamu hilang,” gumam Brandon.


“Hah?”


Entah kenapa gerakan Brandon terhenti ketika tangannya menyentuh pipi wanita itu. Mata merahnya yang sayu


itu menatap Luna amat lekat. Bukan karena dia ingat Clara, tetapi karena suatu hal yang tidak bisa dibendung lagi olehnya. Setiap pria memiliki hasrat itu ketika melihat wanita yang menarik perhatian mereka, sama seperti Brandon. Baru kali ini ada perempuan yang bisa mematahkan ambisinya pada sosok Clara.


“Bran—”


“Aku pikir aku bisa menerima tawaranmu,” sela pria itu. Suaranya berat, tidak seperti biasanya.


Luna tercengang. Justru kali ini dirinya yang tampak inosen. “A-apa maksudmu?”


“Kalau kau ingin, tanpa ikatan itu, aku bisa melakukannya denganmu.”


***