My Husband And My Alpha

My Husband And My Alpha
21 . SI ANGKUH



Serigala bermata biru itu terus berlari, menembus rerimbunan hutan demi mengejar sosok yang terhidu olehnya. Aroma Black Witcher dan Wizard yang sangat dibencinya. Jasper menerjang segala hal yang menghalangi langkahnya. Kuku-kuku pada jemarinya mencuat dengan tajam. Rahangnya menegang dan terbuka dengan cepat dengan lolongan keras yang membelah atmosfer hutan.


Sementara itu, seekor serigala dengan mata biru sedikit terang menghampirinya. Dia menggeram, menggerakkan


kepala ke satu arah sampai Jasper mengikutinya.


Koloni serigala klan Owen seperti telah menguasai hutan. Membuat Brandon dan Luna berlari tak tentu arah.


Mereka memang sama-sama penyihir, tetapi bukan berarti seenaknya menggunakan kekuatan. Mereka harus memilih, bersembunyi atau energi keduanya akan habis digunakan untuk bertarung.


Ditambah pula cahaya yang merekah dari potongan artefak semakin terang.


“Jaraknya semakin dekat?” gumam Luna.


“Kau bilang jauh?” balas Brandon yang masih berlari di sisi wanita itu.


“Aku tidak tahu, Bran. Aku hanya menuruti puzzle ini saja!”


Pria berambut cokelat itu berdecih. Dia menoleh sesekali ke belakang. Netra merahnya berkilat ketika mendapati langkah para serigala semakin mendekat.


“Kita tidak punya banyak waktu, Luna!”


SRAK!


BRAK!


Suara batang pohon patah yang mulai berjatuhan. Brandon menelisik sejenak dan mendapati serangan tak langsung dari para serigala tersebut. Mereka semakin dekat dan ketika pria Black Witcher itu hendak merengkuh lengan Luna, seekor serigala hitam melompat dan langsung mendarat telak di hadapannya.


Langkah Brandon dan Luna terhenti mendadak. Mereka hendak berbalik, tetapi beberapa serigala telah menghalangi keduanya, mengungkung pergerakan. Pria bermata merah itu menatap seekor serigala hitam di depannya yang tengah menggeram. Dia menyeringai.


“Apa yang kau cari, Anabul?” ledeknya.


Jasper mengaung keras, seiring dengan lompatan tajam ke arah Brandon. Namun, belum juga dia mendaratkan


cakarnya yang tajam, Black Witcher itu langsung mengulurkan tangan dan membentuk kubah pelindung berwarna merah dengan kilatan petir yang menyengat tubuh serigala hitam tersebut. Hewan berbulu itu melompat mundur dan menggeram.


“Maaf, Anabul, tapi aku tidak tahu bahasamu.”


Entah kenapa julukan Anabul (Anak Berbulu) cocok untuk diri Jasper dan kawanannya saat ini. Dan itu membuat


para serigala terpancing emosinya. Mereka mengaung, melompat mengitari Brandon dan Luna.


“Luna, pergilah dahulu!” titah Brandon.


“Hah? Kau gila! Aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian!”


Kedua jiwa itu saling bersemuka. Memberi isyarat dengan sorot mata masing-masing. Brandon berdecih kesal. Dia menggigit salah satu ibu jarinya hingga berdarah dan mengejutkan wanita berambut blonde tersebut. Dengan sigap, pria itu meninggalkan bercak darah di ceruk leher Luna.


“Pergilah,” pintanya. “Aku bisa menyusulmu menggunakan itu.”


Luna memang pemimpin ras Wizard saat ini, tetapi bukan berarti dia bisa bertarung mengeluarkan kekuatannya. Karena jika dia melakukannya, maka itu akan memancing para Wizard kemari dan membantunya. Ini akan semakin membuat rumit keadaan karena perburuan jantung pure elf itu hanya diketahui oleh dirinya dan Brandon.


“Jaga dirimu baik-baik.”


Setelah memungkasi percakapan mereka, Luna mengentakkan satu kaki dan membuat segel keemasan di bawahnya. Dia menatap Brandon yang mengangguk sebelum akhirnya dirinya lenyap bersamaan dengan cahaya keemasan yang muncul dan meninggi dari segel yang dibuatnya.


Sementara itu, Brandon kembali fokus pada kawanan serigala yang mengerumuninya. “Oh, ayolah, aku tidak mencari masalah di sini,” ucapnya.


Pria itu menanggalkan tabir pelindung, lantas melakukan gerakan berputar pada satu tungkainya hingga


Dia melompat dan mendarat di permukaan tanah, agak jauh dari rombongan serigala dan langsung kabur. Namun, klan Owen mengejarnya, bahkan Jasper mampu menyergap tubuh pria Black Witcher tersebut hingga membuat keduanya terguling ke dasar jurang. Serigala Jasper terpental agak jauh dari Brandon.


Keduanya bangkit dan saling bersitatap. Serigala setinggi dua meter itu mengibaskan bulu-bulu hitamnya hingga


dedaunan dan rumput kering yang tersangkut darinya terbuang kembali ke tanah. Mata birunya tampak garang. Tetesan air liur keluar dari rahangnya yang sedikit terbuka.


“Aku kan sudah menitipkan istriku padamu. Kenapa kau masih mengejarku?” tanya Brandon yang masih mengatur


ritme napasnya.


Serigala hitam itu menggeram.


“Kau tahu sesuatu soal apa yang kulakukan?” ulang Brandon. “Aku mengapresiasi rasa penasaranmu, Tuan Anabul.”


Jasper menyergap tubuh Brandon dengan cekatan, menginjaknya dengan kedua tungkai depan. Satu tungkainya


terangkat hendak mencakar dengan buas tubuh musuhnya tersebut. Namun, sepersekian menit kemudian, tiba-tiba saja pria itu lenyap.


Jasper terdiam dengan rasa terkejut luar biasa. Terlebih suasan hening mulai merajuk. Aungan anak buahnya


terdengar di kejauhan.


“Dasar sombong.”


Suara itu berasal dari belakang Jasper. Serigala itu berbalik dan melompat dengan cepat menyambar tubuh Black Witcher tersebut. Mereka berguling, berusaha memberontak dan mempertahankan diri. Sebuah cakar berhasil didaratkan Jasper pada lengan Brandon.


“Argh, kau bedebah!”


Brandon mengentakkan kedua tungkainya dengan keras hingga meninju kasar perut Jasper dan membuat serigala hitam itu terpental. Dia bangkit. Tangannya terulur, mengeluarkan petir menyambar ke arah serigala tersebut.


Kawanan Jasper tidak diam saja. Mereka turun dan langsung membantu pemimpin Werewolf tersebut. Brandon


cukup kewalahan. Namun, kemampuannya yang semakin meningkat membantunya untuk mencabik dan meruntuhkan semua anak buah Jasper.


“Kalian pikir aku akan kalah begitu saja?” ucapnya. “Kalian salah.”


Pria itu mengangkat satu tangan hingga petir merah menggelegar. Sebuah petir menyambar dirinya dan membuat para serigala terpental. Sampai akhirnya, kilatan itu hilang dan memunculkan sebuah pedang di tangan Brandon Hover.


Mata merahnya semakin berkilat amat tajam, bersiap melenyapkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Kali ini,


dia tidak akan kalah begitu saja. Baginya, koloni Werewolf itu hanyalah hewan berbulu liar yang haus akan nafsu memburu.


Brandon mengayunkan pedangnya ketika seekor serigala menghambur ke arahnya. Cairan merah memercik dan sisanya menyembur dari tubuh makhluk non-human tersebut. Membuat para serigala lain, termasuk sang pemimpin bergidik dalam ketakutan tak beralasan.


Seringai terbentuk sempurna di salah satu sudut bibir Brandon. “Siapa selanjutnya?” tanyanya dengan suara serak. Sumber suara yang bukan lagi menjadi kepribadian dirinya di masa lalu.


Jasper berdecih dalam benak. Menyadari kemampuan musuhnya semakin meningkat pesat, dia hampir kehilangan


nyali. Bahkan, pedang itu, senjata yang dipegang oleh Brandon kali ini, membuatnya teringat dengan legenda Astronimus.


Serigala hitam itu meneguk saliva. Kakinya beringsut mundur dan disadari oleh Aiden yang berada di dekatnya. Pemuda itu sedikit heran kenapa sang kakak bisa langsung merespons dengan cara seperti itu meski dirinya juga sempat terkejut ketika pria Black Wicther di depan mereka mengeluarkan pedang legenda tersebut.


Kau … siapa kau sebenarnya?


***