
Pagi-pagi sekali Clara sudah bangun dan sibuk di dapur. Meski para pelayan sudah menyuruhnya untuk diam saja, wanita itu tetap berkilah ingin memasak untuk sang suami. Jujur saja, sejak kepindahannya kemari, Clara sangat jarang menyajikan makanan hasil tangannya sendiri kepada Jasper. Apalagi pria itu juga jarang berada di rumah mengingat pekerjaannya yang jauh dan membuatnya harus menginap di hotel beberapa hari.
Sibuk memotongi wortel, seseorang tiba-tiba saja masuk ke dapur. Pemuda itu berjalan menuju kulkas dan membukanya, mengambil sebuah soda kaleng dan meminumnya sejenak. Dia menatap Clara yang tengah sibuk dengan pisau dan sayurannya.
“Kau siapa?” tanya pemuda berambut cokelat tersebut.
Clara menoleh dan sedikit terkesiap, hampir saja menjatuhkan pisau di tangannya. Baru kali ini dia melihat ada sosok lain yang seenaknya memasuki dapur pribadinya. Dia mengernyit menatap pemuda bermata biru safir itu.
“Kau siapa?” tanyanya.
Pemuda itu tersenyum kecut. “Aku bertanya padamu, kenapa kau balik bertanya?” balasnya retorik. “Kau pelayan?”
Pemuda itu memandangi Clara dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Baginya, tidak mungkin ada seorang pelayan secantik wanita itu. Apalagi, perempuan di depannya itu tidak mengenakan seragam maid seperti yang lain. Dengan riasan tipis itu, apakah dia orang baru?
“Apa ayahku mengizinkan kau kemari?” tanya pemuda itu seraya menghampiri Clara. “Siapa namamu?”
Clara memicing tajam. “Memangnya apa urusanmu?” balasnya ketus.
Pemuda itu terkekeh. “Kau lucu sekali,” gumamnya. Dia meletakkan kaleng soda di meja dengan kasar hingga
menimbulkan suara mengejutkan, lantas makin menghampiri wanita di depannya itu. Tangannya terulur, menangkup rahang Clara dengan cepat.
“Apa ayahku punya wanita simpanan di rumah?” gumamnya sembari menelisik wajah wanita tersebut.
Dengan cepat, Clara menepis tangan pemuda tersebut. “Siapa yang mengajarimu bersikap lancang begini?” sergahnya.
“Lancang katamu?” balas pemuda tersebut. “Kau sendiri yang lancang menyelinap ke rumahku.”
“Hah? Rumahmu?”
“Iya, ini rumahku.”
Keduanya bersitatap amat lama. Tatapan bengis diberikan oleh pemuda tersebut.
“Ada apa ini?” Suara berat itu mengurai pertikaian keduanya. Mereka menoleh ke asal suara.
“Jasper.” Clara mendorong dada pemuda di depannya agar sedikit menjauh darinya. Dia membersihkan noda di
Pria berambut hitam itu berjalan menghampiri keduanya. “Clara, ada apa?” tanyanya. “Jelaskan padaku.”
Pemuda berambut cokelat itu tersenyum kecut. “Apa dia simpanan barumu?” sahutnya.
Jasper menatap pemuda tersebut dengan tatapan mengintimidasi. “Apa Ayah pernah mengajarimu untuk bersikap
selancang itu pada ibu tirimu?” balasnya.
Dua orang yang sempat bertikai tadi tersentak sekejap. Mereka saling berpandangan dengan telunjuk menunjuk
saling berlawanan. “Dia?” ucap mereka bersamaan.
Jasper menghela napas panjang. Dia menunjuk ke arah pemuda tadi. “Namanya Elliot,” katanya, lalu menunjuk Clara. “Elliot, dia ibu tirimu. Clara.”
Elliot lantas menatap Clara dengan sorot mata ambiguitas. “Aku tidak percaya ayahku tertarik padamu,” gumamnya.
“El.” Suara Jasper membuat pemuda itu mendengkus sekejap.
Pemuda bermata biru itu beralih mengambil kaleng sodanya yang masih berisi setengah dan hendak berjalan pergi. “Terserah, Ayah,” ucapnya. “Aku tidak peduli lagi.”
“Elliot!” seru Jasper yang tidak dihiraukan oleh pemuda tersebut. Dia mendengkus sampai akhirnya Clara
mendekati dan mengusap lengannya. “Aku minta maaf,” lirihnya.
“Dia … putramu? Serius?” tanya wanita berambut cokelat itu.
Jasper mengangguk. “Salah satu anak Elana, mantan istriku,” jawabnya.
Clara tercenung. Sepanjang dia tinggal di sana, Jasper tidak pernah memberitahukannya soal hal ini. Dia hanya
tahu kalau pria itu dulu memiliki istri yang meninggal setelah melahirkan anak terakhirnya—Clara bahkan tidak tahu berapa jumlah anak mereka.
Wanita itu melihat ke arah perginya Elliot tadi. Berbagai tanda tanya bertandang di pikirannya. Ada hal yang harus dia utarakan kepada pemuda tersebut dan ini berkaitan dengan masa lalu Jasper.
***