
Pagi-pagi sekali mansion klan Owen mendadak diliputi kehisterisan. Clara bergegas keluar kamar dan menuju ruang utama. Netranya terbelalak ketika mendapati Jasper membopoh Aiden yang terluka. Cairan merah mengalir deras dari dadanya.
“Jasper!” Clara berlari menghampiri suaminya. “A-ada apa dengan Aiden?”
Jasper tidak menimpali pertanyaan Clara. Dia menoleh ke arah seorang pelayan dan beberapa anak buahnya yang membawa Aiden ke kamar. “Panggil Lyra untuk mengobati lukanya,” titahnya.
Sementara itu, Clara menuntun Jasper menuju kamar. Tubuh pria itu telah lunglai dengan beberapa luka di sana-sini. Jasper langsung menjatuhkan dirinya di kasur setelah masuk ke kamar, sedangkan Clara mengurus sisanya. Wanita itu membantunya membuka baju yang dikenakan hingga terlihat semua lukanya.
“A-apa yang kau lakukan semalam?” tanya wanita itu begitu syok.
Jasper meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia membiarkan Clara mengobatinya dengan isi kotak
P3K yang baru saja diambilnya dari nakas. Pria itu sedikit bersandar pada tumpukan bantal.
“Kau tidak ke mana-mana, ‘kan?” tanyanya pada Clara.
Wanita itu sedikit melirik. “Memangnya aku mau ke mana?” balasnya retorik.
Jasper mendesah lirih. Dia cukup lega karena istrinya itu menurut padanya.
“Ada banyak anak muda berpatroli di sekitar rumah. Kau pikir aku bisa apa?” Clara kembali bersuara.
Sementara itu, Jasper hanya terdiam. Dia cukup tahu kalau anak-anak muda yang dimaksud Clara adalah keturunannya dengan Elana dulu. Anak-anaknya sudah cukup dewasa, sekitar usia remaja SMA dan sudah cukup mumpuni untuk diminta olehnya menjaga mansion selama dia melakukan misi semalam.
Pria berambut hitam itu teringat degan kejadian semalam. Pedang legenda yang benar-benar membuatnya hampir kalah. Dia berdecak kasar, kesal karena rasa penasarannya kembali membumbung tinggi.
Brandon Hover hanyalah manusia biasa yang ke dunia Immortal hanya untuk mengambil kembali istrinya. Namun,
kenapa dia sekarang berubah sebrutal dan sekuat itu? Sementara, pedang Astronimus yang diketahui Jasper hanya bisa dipanggil oleh orang-orang tertentu pun seharusnya tidak bisa digunakan oleh manusia sialan itu.
“Sayang?”
Jasper tersentak ketika suara Clara mengurai lamunannya. Kening perempuan itu berkerut. Dia memandangi sang
suami dengan penuh arti. Sampai akhirnya, Jasper duduk.
“Aku tidak apa-apa,” ucapnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Clara.
Pria bermata biru itu sedikit tertunduk, lalu menggeleng. “Tidak ada,” katanya seraya menghela napas. “Bukan apa-apa.”
“Kau berbohong padaku.”
Jasper terdiam. Sebenarnya, yang dikatakan Clara barusan benar. Dia tidak bisa menipu perempuan itu bagaimanapun caranya. Clara berbeda dengan wanita-wanita yang didekatinya sebelumnya.
Tangan Jasper terulur, menyentuh segel phoenix yang terukir di leher belakang Clara. Segel itu bercahaya keemasan, membuat si empunya sedikit meringis dan memejamkan mata.
“Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanya Clara lagi. Tangannya membingkai rahang tegas sang suami, mencoba menaruh kepercayaan pada pria tersebut.
“Si Sialan itu ….” Jasper menggantung ucapannya. “Suamimu …, kenapa dia berambisi sekali?”
Sekarang, kening Clara menyatu sampai hampir memotong jarak di antara kedua alisnya. Suami? Mungkinkah ….
“Apa maksudmu ….”
Jasper mengangguk. “Dia menyerangku semalam,” katanya. “Aku hanya mengurus pekerjaanku dan dia tiba-tiba menyerangku.”
Clara tersentak, hampir menutup mulut. “Benarkah?”
Wanita itu sedikit tidak percaya. Bagaimana tidak? Bukankah dia sudah meminta Brandon untuk pergi dan kembali ke dunianya waktu itu? Sekarang kenapa tiba-tiba dia menyerang Jasper?
“Lalu, bagaimana? Maksudku, kenapa dia bisa menyerang kalian?” tanyanya. “Kau dan Aiden, kenapa bisa?”
“Mana aku tahu, Clara.” Jasper melipat kedua tangannya dengan amat kesal. “Dia benar-benar ingin aku mati
sepertinya.”
Clara meneguk saliva. Sebenarnya, dia sedikit memikirkan keadaan Brandon saat ini. Bagaimana bisa pria itu
“Aku akan mengobati lukamu,” ucapnya kemudian. “Istirahatlah.”
Jasper mengangguk. “Aku tidak bisa beristirahat kalau kau terus menyentuhku, Clara,” katanya sedikit menyeringai.
Clara berdecih lirih. Mafhum dengan kebiasaan Jasper yang suka menggoda itu. “Ayolah, ini bukan saatnya untuk—”
Tiba-tiba saja pria itu menarik pinggang Clara hingga wanita itu jatuh tepat di atas tubuhnya. Mata biru Jasper tampak memesona terkena kilauan sinar matahari yang merasuk melalui jendela kamar.
“Seorang Alpha akan cepat pulih apabila ada Luna di dekatnya,” bisiknya serak.
“Aku sedang tidak ingin,” balas Clara.
Jasper mendesah panjang. “Ayolah, Sayang,” rengeknya bak bayi yang meminta susu pada ibunya.
Clara menghela napas. “Kau harus istirahat.”
Wanita itu bangkit dan beranjak ke kamar mandi mengambil handuk kecil dan semangkuk air hangat. Jasper
hanya bisa mendengkus dengan senyuman terukir di bibir. Dia bisa saja memaksa Clara untuk menuruti kemauannya karena bagaimanapun lukanya akan cepat sembuh jika dia melakukan itu.
Ya. Semua orang tahu hubungan Mate bukan hanya untuk menambah kekuatan, tetapi untuk menjaga vitalitas sang Alpha juga.
Namun, kali ini sepertinya Jasper harus mengalah.
***
Sementara itu, di sisi lain, Brandon dan Luna melanjutkan perjalanan usai menemukan potongan artefak yang dicari. Mereka menuruti arah yang ditunjuk oleh cahaya artefak hingga menuntun keduanya ke sebuah bangunan kuno.
“Wow,” desis pria berambut blonde yang kini diwarnai cokelat itu. Entah sejak kapan dia mengubah warna rambutnya dan membuat tampilannya semakin macho.
“Dahulu, bangunan ini digunakan sebagai ritual pemujaan dewa,” ucap Luna. “Jantung pure elf pasti ada di dalamnya.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja.”
Luna meletakkan potongan artefak yang mereka temukan selama di perjalanan di lubang yang berada di tengah-tengah pintu setinggi 20 kaki tersebut. Suara derit berat dan keras terdengar hingga pintu itu terbuka perlahan. Debu dan pasir terurai ke atmosfer dan menghalangi pandangan sejenak.
Brandon memandang wanita bermata hijau itu sebelum akhirnya mereka masuk ke bangunan berbentuk piramida
tersebut.
“Aku harap tidak ada mumi Firaun di sini,” ucap Brandon.
“Firaun?” Luna menyahut. “Apa itu?”
“Raja Mesir pada masanya,” jawab Brandon. “Dia mati karena tenggelam di Laut Merah.”
Langkah pria itu berhenti. Dia menelengkan kepala dan berdecak sesaat. Tentu saja Luna Castelle tidak akan tahu soal cerita tersebut karena dia tidak hidup di dunia manusia. Brandon bodoh sekali!
“Apa dia tampan?” tanya perempuan itu.
“Aku lebih tampan darinya.”
Luna hanya berdecih menimpali. Dia tidak mengelak karena pria Black Witcher itu memang benar-benar tampan dengan tubuh berotot yang super ideal. Impian semua wanita. Itulah kenapa dia sangat menginginkan keturunan dari Brandon.
Sebuah suara mengejutkan keduanya hingga dengan sigap menoleh ke arah pintu utama yang tertutup seketika.
“Sempurna,” gumam Brandon. Dia menatap Luna. “Kau tahu apa yang dilakukan sepasang muda-mudi ketika terkunci di sebuah ruangan?”
Luna terdiam seraya berpikir. Sekian detik kemudian, wajahnya bersemu merah. Sangat kontras dengan warna
kulitnya yang seputih salju itu. Serta-merta dia memukul Brandon tanpa ampun.
“DASAR MESUM!”
***