
Kilatan petir merah menyambar di kejauhan. Sangat kecil, tetapi Eden bisa merasakan aura yang tidak biasa di
sana. Dia meneguk saliva. Tangannya mencengkeram pagar balkon. Seorang wanita berjalan menghampirinya dari arah kamar.
“Ada apa?” tanya wanita berambut putih itu.
Eden tidak menimpali hingga arah penglihatannya menarik perhatian wanita di dekatnya. Annelise menatap kubah guntur di kejauhan. Bersemu merah dengan petir menyambar di sekitarnya.
“Apa yang terjadi?” gumam Anne.
“Kau ingin aku melakukan sesuatu?” Eden bertanya pada wanita di sampingnya, memastikan pergerakannya tidak menghambat perjalanan Brandon.
“Apa harus aku yang ke sana?” Anne membalas, tetapi pria itu malah mencekal lengannya. “Kita tidak bisa
meninggalkannya sendirian, Eden.”
“Aku juga ingin menyusulnya,” ucap Eden. “Tapi aku tidak ingin terlalu mencampuri urusannya, Anne.”
Kening Anne sontak berkerut. “Kenapa?” tanyanya. “Clara adalah reinkarnasi Elana, adikmu, Eden. Dan kau harus membantu Brandon untuk membalaskan kebencianmu pada Jasper.”
Pria bermata heterochromia itu mengangguk. “Kau benar,” katanya. “Tapi, dalam hal mencari jantung pure elf, itu adalah kemauan dan keputusan Brandon. Aku tidak berhak mencampuri keputusannya.”
Anne terdiam. Dia cukup mafhum bagaimana kepribadian pria di dekatnya itu. Eden tampak mengkhawatirkan Brandon karena sudah menganggap pria itu seperti adiknya sendiri. Namun, masalah ini, adalah perbuatan yang murni dilakukan Brandon sendiri dan benar sekali ucapannya, mereka bahkan tidak punya kuasa untuk mencampurinya sekarang.
Sesaat kemudian, Eden bersiul, memanggil seekor gagak yang kemudian bertengger di salah satu lengannya. Burung hitam itu berkoak. Eden membisikkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Anne. Mungkin sebuah pesan atau sejenisnya. Burung itu terbang menjauh beberapa menit kemudian.
“Dia akan menyampaikan informasi soal Brandon kepada kita.”
***
Pedang itu terayun dengan cepat, menebas segala hal yang berada di depannya. Cairan merah dan pekat menyembur, menggenangi permukaan tanah yang lembab hingga aroma anyir tercium dari jarak beberapa meter. Pemiliknya, si mata merah, terus menyerang dengan brutal. Dia tidak peduli dengan siapa dia berhadapan sekarang.
Beberapa ekor serigala telah berhasil dilumpuhkan. Berakhir dengan seekor serigala yang terpenggal kepalanya. Cairan merah itu mengalir deras dan menetes dari ujung pedang yang dipegang Brandon. Pria itu terdiam dengan napas tersengal. Dia berbalik, menatap bengis serigala setinggal dua meter di depannya.
Brandon berlari ke arah Jasper dengan mengacungkan pedangnya. Namun, ketika senjata itu terayun, darah muncrat dengan sangar dari sesuatu yang membuat netranya membola. Seekor serigala lain menghalangi dirinya membunuh Jasper.
Sementara itu, mata biru Jasper melebar. Dia mengerang dengan keras ketika menyadari siapa yang sudah
melindunginya barusan. Serigala hitam itu menyambar Brandon dan serta-merta mengayunkan cakarnya dengan ganas. Namun, cakarannya tidak berguna. Brandon dengan lihai menahannya dengan pedang yang terus bersemu merah itu. Membuat segala kesakitan yang dirasakan Jasper semakin bertambah.
Serigala itu terpental dengan luka di leher. Sebelum dia benar-benar kembali menyerang, semburat cahaya
keemasan muncul dan meraup tubuh Black Wicther itu seketika.
Pria itu lenyap tak berbekas.
***
Cahaya itu membawa Brandon ke sebuah gua. Kilaunya perlahan memudar, memunculkan sosok Luna Castelle yang memeluk Brandon. Pria itu masih belum sadar sepenuhnya. Tatapan bengis masih dilayangkan padanya ketika melihat gadis berambut blonde tersebut. Brandon mengacungkan pedang ke arah Luna.
Luna berdecak kasar. Dia menarik satu legan Brandon, lantas memutar tubuh pria itu dan menguncinya dalam
satu kali putaran. Tangannya yang menganggur langsung memukul tengkuk pria berambut cokelat tersebut hingga dia ambruk dan meringis kesakitan. Pedangnya jatuh begitu saja.
Mata hijau Luna menatap ke arah senjata tajam itu, lalu atensinya kembali pada Brandon yang kini mengerang
kesakitan. Pria itu muntah darah.
“Bran!!!”
Brandon sendiri tidak mengerti dengan yang dilakukannya tadi. Kesadarannya seolah dikuasai oleh sesuatu. Kini,
Luna merebahkan tubuh lemas pria itu dan meletakkan satu tangannya di dada Brandon. Cahaya keemasan keluar
darinya dan terurai ke seluruh tubuh pria tersebut. Cukup lama sampai akhirnya Brandon bisa bernapas dengan normal.
“Rupamu buruk sekali,” gumam Luna. Sebuah luka cakar di salah satu lengan Brandon menarik perhatiannya.
“Kenapa kau malah mengorbankan dirimu sendiri?”
Brandon tidak menyahut. Dia sibuk menormalisasikan dirinya. Matanya terpejam, menahan nyeri di sekujur tubuh.
Luna tidak punya pilihan lain. Dia menatap mulut gua dan mengulurkan satu tangan. Beberapa tanaman merambat
tersulur, bergerak cekatan membentuk simpul alam dan menutupi kseluruhan mulut gua. Wanita itu menghela napas panjang dan berbalik meratapi kondisi pria yang kini berada di pangkuannya.
Luna mengecup kening Brandon. Pria itu tidak memberontak sedikit pun dan justru tenggelam dalam lelap. Sementara itu, malam makin gelap, menyongsong segala ketakutan yang bisa saja mengancam mereka berdua. Tidak ada api unggun atau penghangat apa pun di sana, kecuali sebuah benda yang bersinar terang di ujung gua.
Benda yang menarik perhatian Luna sejak dirinya tiba di sana beberapa saat yang lalu.
***
Brandon membuka netra perlahan, menyesap silau sinar matahari yang merasuk ke dalam gua melalui celah-celah sempit rumput yang menjalar. Dia menggeliat dan menyadari seseorang memeluknya. Kesadarannya kembali sepenuhnya ketika melihat Luna-lah orang itu. Dia menghela napas.
Namun, sebuah sinar menarik perhatiannya. Dia bangkit perlahan hingga membangunkan Luna.
“Maaf,” kata wanita itu. “Aku ketiduran semalam.”
“Apa itu?” Brandon menunjuk ke sebuah sinar. Dia menatap Luna. “Kau menyelamatkanku?”
Luna mengendik membalas. Dia bangkit dari posisinya. “Keputusanmu membuatmu hampir mati kemarin,” ucapnya. “Apa yang kau lakukan?”
Brandon terdiam seraya mengingat kejadian semalam. Pedang. Dia tersentak, lalu sigap mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Pedang itu berada tepat di sampingnya. Kilapnya menyilaukan mata ketika tersorot oleh cahaya.
“Astronimus,” sahut Luna.
Pria berambut cokelat itu menghela napas.
“Kau … apa yang kau pelajari selama di sini?” tanya wanita itu.
“Apa maksudmu?”
Kening Luna berkerut. “Apa kau tidak tahu apa yang telah kau panggil?” tanyanya. “Kau memanggil legenda, Bran.
Astronimus adalah legenda di dunia Immortal dan banyak ras takut padanya.”
Black Witcher itu terdiam lagi. Selama di dunia ini, dia cukup banyak mempelajari ilmu termasuk ilmu yang bahkan tidak pernah dipelajari oleh Eden. Ambisinya benar-benar membuatnya buta dan haus akan ilmu, termasuk memanggil pedang legenda Astronimus.
“Kau bisa saja meninggalkan jejak dan memancing peperangan antar ras lagi, Bran,” ucap Luna.
Brandon hanya membisu. Sebenarnya, dia pun tidak sengaja memanggil pedang tersebut karena dia pernah mencoba untuk memanggilnya saat sesi latihan dengan Eden, hal itu tidak berhasil. Dia mengambil pedang sepanjang 1,5 sentimeter itu dan mengamati dengan jeli.
“Jejak, ya?” gumamnya. “Apa aku bisa merebut istriku kembali dengan ini?”
Luna bungkam sesaat ketika mendengar ucapan Brandon yang langsung membuat hatinya tersentak. Energi yang
dirasakannya dari pria itu berubah menjadi gelap, penuh dengan amarah dan dendam. Sampai akhirnya, pria itu menatapnya dengan mata merahnya yang misterius.
“Kau harus lebih kuat lagi untuk merebut istrimu,” ucap wanita bermata hijau tersebut.
***