My Husband And My Alpha

My Husband And My Alpha
25 . PERKEMBANGAN



Brandon tidak punya pilihan lain. Energinya sudah hampir habis. Ditambah pula luka di kakinya yang tidak kunjung sembuh meski sudah di-heal olehnya. Kedua tangan pria itu gemetar, entah karena belum makan atau apa, yang jelas Brandon merasa kalau dia tidak akan bisa bertahan lama di tempat ini.


Oksigen yang ada di sini sangat tipis, berbeda dengan di ruangan atas tempat tumpukan emas tadi berada. Namun, ruangan itu sekarang hilang tak berbekas. Hanya puing-puing yang menjadi pemandangan di sekitar Brandon sekarang.


Pria itu menatap wanita yang masih di pangkuannya dan belum sadar. Dia menghela napas, lalu meraih wajah


Luna dan mendekatkannya ke wajahnya.


“Aku minta maaf,” lirihnya.


Kecupan itu mendarat sepersekian menit kemudian. Cahaya berpendar dari hasil sentuhan keduanya, bergerak mengitari tubuh kedua insan tersebut. Rasa hangat mulai tercipta, merengkuh mereka. Brandon mengeratkan pelukannya pada diri Luna, membawa wanita itu ke dalam kenikmatan tak bersyarat.


Tetesan darah dari luka Luna perlahan berhenti. Sampai akhirnya, wanita itu membuka kedua mata hijaunya yang


memesona. Sentuhan itu dirasakannya, sangat hangat. Dan manis. Tangannya membalas rengkuhan Brandon pelan-pelan, memeluk tubuh pria tersebut hingga keduanya beradu dalam godaan surgawi.


Brandon melepaskan kecupannya. Menatap sebentar wanita yang kini berada di bawahnya. Namun, belum cukup sampai di situ. Luna mengaitkan dirinya dan membawanya kembali dalam sentuhan-sentuhan intens.


Entah kenapa Brandon merasa kembali dibawa ke dalam ingatannya tentang sosok Clara. Batinnya sesak dan


rasanya panas. Dia benar-benar ingin meluapkan semuanya sekarang. Namun, sisi lain dirinya yang penuh dengan ego berusaha menahannya.


“Bran …,” lirih Luna. Mata hijaunya yang menatap ke dalam manik pria di atasnya tampak penuh harap.


Brandon tertunduk, membuat Luna mengerti bagaimana perasaan dan isi hati pria itu saat ini. Kegundahan serta rasa duka yang amat dalam, juga penyesalan.


“Bran, no ….” Luna melirih, berusaha membuat Brandon agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


Sebagai seorang Wizard, Luna cukup bisa menggunakan kemampuannya untuk memahami isi hati setiap jiwa. Seperti detik ini, ketika dirinya merasakan beberapa perasaan berkecamuk sekaligus di dalam diri seorang Brandon Hover. Ingatan tentang Clara membuat pria itu kembali terpancing trigger hingga membuat tubuhnya gemetaran.


Brandon melepas pagutannya pada pinggang Luna setelah dirasa cukup olehnya. “Aku minta maaf,” lirihnya,


lalu bersandar pada reruntuhan dinding bangunan.


Luna perlahan bangun, dibantu pria tersebut. Brandon menyandarkan tubuhnya pada reruntuhan.


“Kau … sangat mencintainya,” lirih wanita itu.


Brandon terdiam sesaat. “Aku tidak bisa melupakannya,” timpalnya.


“Apa dia cinta pertamamu?” tanya Luna.


Pria itu menghela napas. “Mungkin begitu.”


Suasana hening sekejap. Hanya terdengar sisa-sisa langit bangunan yang runtuh karena lapuk. Luna menatap


langit-langit yang berubah gelap. Dia menghela napas panjang, lalu menatap pria di sampingnya.


“Aku minta maaf karena sudah memberikanmu tawaran itu,” katanya.


Brandon menoleh dan mengangguk. Dia menatap Luna yang memeluk kedua lututnya dan memejamkan mata.


Sebenarnya, wanita itu cukup cantik, bahkan lebih cantik daripada Clara. Sifatnya yang polos dan sok tegas itu membuat sisi lain Brandon jatuh hati padanya. Namun, setiap pria itu ingin melakukan sesuatu padanya, selalu saja … selalu saja dia teringat dengan Clara.


Sebuah momen di mana Brandon tidak menyukainya meski dia sering bermain bersama banyak wanita selain Clara selama ini.


Pria itu membisu dengan beribu kata terpendam dalam benak. Satu tangannya menyentuh dada, berusaha mengartikan sebuah perasaan yang terukir di dalam sana. Jika saja benar, dia harus membalas budi pertolongan Luna padanya selama ini.


***


Luna membuka mata ketika sebuah cahaya menyilaukan mengganggu tidurnya. Dia terbangun, melihat Brandon sedang mendekatkan jantung pure elf dengan pedang Astronimus yang dibawanya. Keduanya seolah tarik-menarik dan membuat pria itu tampak penasaran.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Luna, mengalihkan perhatian pria itu.


“Aku hanya penasaran saja,” jawab Brandon. “Sejak tadi pedang ini bergetar hebat, tapi saat kudekatkan dengan jantung pure elf, keduanya bersinar sangat terang.”


Luna mendekati pria tersebut. Dia mengamati dengan seksama setiap ukiran yang terpahat di pedang.


“Aku hanya belajar manteranya saja dari buku di perpustakaan,” balas Brandon. “Aku tidak tahu soal orang-orang tertentu yang kau katakan. Kupikir, pedang ini akan datang begitu saja kalau dipanggil.”


“Kau mungkin adalah satu-satunya orang terpilih di masa sekarang,” sahut Luna.


Brandon mendapati senyuman di bibir wanita itu. Manis, dengan ceruk di pipinya. Sebuah pemandangan yang sering Brandon dapatkan ketika menatap perempuan Wizard tersebut.


Saliva pria itu terteguk. Dia mengangguk menimpali.


“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kemudian. “Apa masih sakit?”


Luna memeriksa bagian yang sedikit nyeri di kepalanya. Dia mengangguk. “Yang tadi separah apa?”


“Bocor sampai kau mau mati.”


“HEY!!!”


Brandon tergelak. Dia cukup terhibur dengan lelucon yang dibuatnya sendiri. “Aku minta maaf karena aku


melakukan itu tadi,” katanya.


Luna terdiam. Dia menyentuh bibirnya sendiri. “Ciumanmu cukup manis juga,” ucapnya sambil menjilati bibir dan membuat pria di dekatnya itu sedikit ilfil.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi,” balas Brandon. “Kalau kau terluka nanti, akan kutinggal.”


Wanita Wizard itu hanya bisa mendengkus menimpali. Sesaat kemudian, dia berdiri dan menunjuk ke arah pedang


serta jantung pure elf yang masih dipegang Brandon.


“Satukan mereka sekarang dan kita keluar dari sini!”


“Hm? Satukan?”


“Iya!”


Brandon bangkit dan semakin mendekatkan kedua benda itu. Cahaya terang semakin menyilaukan dan menerangi


keseluruhan sisi ruangan gelap tersebut. Kedua pasang mata tersebut sampai dibuat terpejam.


Beberapa menit kemudian, Brandon membuka mata dan mendapati sebuah kristal bening yang sudah terpaut di


pangkal pedangnya. Dia mengangkat pedang Astronimus itu tinggi-tinggi dan melihat betapa karismatiknya senjata tersebut.


“Wow ….”


“Baiklah. Ayo keluar!”


Brandon mengangguk. Dia berjalan mendahului Luna dan mencari jalur keluar terbaik dari dasar bangunan. Sisi


lainnya berharap tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi keduanya, entah itu mumi yang bergentayangan atau reruntuhan lagi.


Sampai akhirnya, dia menemukan sebuah cahaya temaram. Pria itu mempercepat langkah hingga keduanya sampai di sebuah mulut gua. Cahaya yang berasal dari bulan itu merasuk ke dalam melalui celah-celah gua.


Brandon dan Luna berjalan ke luar dan menyadari bahwa mereka telah sepenuhnya berada di luar bangunan kuno


tersebut. Mereka saling bersitatap dengan wajah semringah.


“Kita bebas!!!”


Tanpa sadar, Luna memeluk pria Black Witcher tersebut amat erat. Brandon tersentak dan langsung terdiam.


Namun, akhirnya dia membalas pelukan wanita itu dan mengecup puncak kepalanya dengan amat lembut.


Seekor gagak terlihat bertengger di sebuah cabang pohon. Mata merahnya terlihat menatap dengan tajam dua insan di bawah sana. Sesaat kemudian, dia terbang meninggi, meninggalkan lokasi tersebut.


***