My Heart For You

My Heart For You
9. Perkenalan



Karina mengikuti Kenan karena pria itu mengatakan akan membawanya ke suatu tempat. Mereka berdua berhenti di toko kue dan Kenan turun membeli sebuah kue keju. Wajahnya terlihat cerah hari ini apalagi saat memilih kue keju itu.


Setelah itu, mereka pergi dan berhenti di sebuah rumah sederhana yang terlihat begitu asri di mata Karina. Pertanyaan tentang siapa yang akan ditemuinya terus berkecamuk di dalam kepalanya. Kenan langsung turun tanpa mempedulikan Karina seolah melupakan ada seorang gadis yang ia bawa dari rumah.


Karina turun dan mengikuti Kenan ke rumah itu. Seorang wanita dengan rambut terikat menyambut kedatangan Kenan.


“kamu membawakan kue lagi? Siapa yang akan memakannya? Kemarin saja belum habis. Tapi terimakasih karena selalu ingat dengan apa yang aku sukai.” Ucap wanita itu dengan raut wajah yang bahagia.


Karina menebak hubungan diantara mereka berdua lalu pandangan matanya tertuju ke tongkat yang dipegang oleh wanita itu.


“kamu membawa calon istrimu? Aku memintamu untuk membawanya ke sini kan?”


“aku membawanya, dia berdiri di belakangku.”


“mana ada calon istri berdiri di belakang calon suaminya, harusnya kamu membiarkannya berdiri di sisimu.”


Kalimat yang diucapkannya baru saja menusuk hati Karina. Meskipun Karina tidak tahu mengapa ia harus merasa tidak nyaman saat mendengar kalimat itu.


“Karina, kenalkan dia Kiara.”


“Karina.” Ucap Karina sambil mengulurkan tangannya.


“Kiara.” Ucap Kiara tanpa mengulurkan tangannya.


Karina merasa canggung dan menarik kembali tangannya setelah terdengar suara deheman dari Kenan. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana karena takut akan menyinggung perasaan wanita di depannya.


Mereka berdua dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu. Kenan dengan sigap membantu menuntun Kiara menuju sofa. Pria itu juga langsung menuju dapur untuk mengambil camilan serta membuatkan minuman. Rasa tidak nyaman kembali muncul di sudut hati Karina melihat Kenan sepertinya sudah sangat hafal dengan setiap bagian di dalam rumah ini.


“Kenan merawatku setelah aku mengalami kebutaan akibat kecelakaan tiga tahun lalu.”


“kecelakaan?”


“benar, itu terjadi begitu saja dan aku tidak mengingatnya. Hanya aku dan Kenan yang selamat dan Kenan satu-satunya yang mengingat kejadian itu.”


“dia pasti kesulitan selama ini.”


“kamu benar, karena itu sekarang aku bahagia melihat Kenan akan menikahi wanita pilihannya.”


Karina terdia mendengar kalimat dari wanita itu. Kalimatnya tidak salah karena Kenan memang memilihnya tapi dengan kontrak bukan dengan cinta.


“jadi hubungan kalian...”


“aku menganggap dia sebagai sahabatku, jika lebih dari itu mungkin sebagai kakak?”


Percakapan mereka berdua terputus saat Kenan kembali dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan kue keju yang sudah dipotongnya. Karina bisa melihat kalau Kiara begitu disayangi oleh Kenan. Ia berusaha menepis perasaan aneh yang terus mengusiknya karena hubungannya dengan Kenan tidak lebih dari rekan kerja.


Karina melirik jam di ponselnya lalu menyela pembicaraan Kenan dan Kiara yang terdengar masih seru. Sudah waktunya untuk pergi ke tempat kerja di sore hari yaitu hotel. Dia belum mengajukan surat pengunduran diri, karena itu tidak ada alasan baginya untuk tidak masuk kerja walaupun sudah bertunangan dengan pemilik hotel.


“kamu bisa pergi sendiri kan? Kalau kamu berjalan sebentar ke depan gang, kamu bisa gampang menemukan taksi.”


“tentu saja.”


“Kenan, kamu harus mengantarkannya, dia calon istrimu.” Kiara memprotes tindakan Kenan yang seakan tidak memperdulikan Karina.


“tidak masalah, dia sudah dewasa bukan anak kecil yang harus diantar kemana-mana. Lebih penting kamu di sini karena Bi Yani sedang tidak ada di rumah. Aku akan pulang setelah Bi Yani kembali.”


“Mas Kenan benar Mbak Kiara, lagipula saya bisa pergi sendiri.”


Karina saat ini tidak bisa lagi menahan perasaannya yang kesal melihat perhatian Kenan yang berlebihan kepada Kiara. Pertanyaan kembali muncul di benaknya tentang kontrak yang sudah ia tandatangani.


Karina bisa bekerja dengan normal karena berita pertunangannya tidak disebarluaskan. Hanya para petinggi yang hadir pada malam itu, jadi ia tidak perlu khawatir ada rekan kerjanya yang mengetahui statusnya sekarang. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik lalu pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Ia pulang ke apartemen Kenan dan baru teringat dengan sertifikat yang pria itu berikan kepadanya. Karina meninggalkan sertifikat itu di bawah tumpukan baju di dalam lemari kamar tamu di rumah orang tua Kenan.


“aku harus segera membicarakannya.” Gumamnya sambil menekan serangkaian kode untuk membuka pintu apartemen.


Karina terkejut melihat lampu apartemennya menyala semua. Ia khawatir ada seseorang yang masuk ke dalam apartemennya tanpa izin.


“Pak Kenan.” Panggilnya dengan suara keras untuk memastikan apakah orang yang datang itu Kenan atau bukan.


“Pak Kenan?”


“...”


Karina mendekati tubuh pria itu dan dengan susah payah membalikkan tubuhnya. Aroma yang begitu menyengat menguar dari tubuh pria itu.


“dia mabuk?”


“padahal aku lelah dan ingin beristirahat.” Gumamnya pelan.


Dengan telaten, Karina melepas sepatu dan kaos kaki yang masih dipakai oleh Kenan. Ia juga melepas dasi dan melepas ikat pinggang yang masih terpasang sempurna.


Karina mengelap wajah Kenan yang berkeringat lalu mengatur suhu ac sebelum keluar kamar. Ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu karena hanya itu tempat yang tersisa. Di dalam apartemen ini hanya ada satu kamar saja dan tidak ada tempat yang bisa ia pakai untuk melepas penat selain sofa.


Berkali-kali Karina menghela nafasnya karena merasa kesal. Tapi saat memikirkan kehidupannya yang sekarang, Karina tiba-tiba merasa bersyukur karena hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Kenan terbangun dari tidur saat matahari masih belum menampakkan dirinya. Ia mengerang merasakan pusing di kepalanya akibat terlalu banyak minum semalam. Setelah pulang dari rumah Kiara, ia menghadiri sebuah perjamuan dengan para koleganya dan terpaksa harus menenggak alkohol dengan jumlah yang cukup membuatnya tidak sadarkan diri.


Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar yang masih remang-remang. Aroma wangi buah menyeruak masuk ke dalam hidungnya membuat Kenan keheranan. Kenan menyalakan lampu kamar lalu menyadari di mana ia tertidur. Dengan langkah gontai, Kenan keluar dari kamar dan mencari keberadaan Karina. Ia menemukan Karina yang sedang melipat selimut di ruang tamu.


“kamu tidur di sini semalam?”


“Bapak sudah bangun? Aku akan membuatkan sup untuk meredakan mabuk, tunggu sebentar.”


Karina berjalan melewati Kenan menuju kamar untuk meletakkan selimutnya lalu bergegas menuju dapur membuatkan sup untuk Kenan. Tidak butuh waktu lama untuknya membuat hidangan itu karena ia sudah terbiasa membuatnya selama di rumah sang paman. Pamannya selalu pulang kerja dalam keadaan mabuk sehingga membuatnya harus memasak sup pereda mabuk di pagi harinya.


Kenan menyeruput sup di mangkuknya dan merasakan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia kemudian menatap Karina yang sedang menyantap sarapannya.


“apa kamu selalu bangun dan sarapan sepagi ini?”


“aku selalu bangun pagi untuk pergi ke pasar agar bisa mendapat bahan makanan yang masih bagus dan segar. Kalau sarapan biasanya tidak.”


“kenapa?”


“dengan sifat bibi dan pamanku, memberi sarapan untukku adalah sebuah kemewahan yang sangat jarang aku rasakan.”


Kenan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali menyantap masakan buatan Karina. Masakan gadis itu benar-benar memiliki citarasa yang sangat pas untuk lidahnya membuatnya ketagihan untuk menyicip makanan yang dibuatnya.


“nanti jam sembilan kita akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantin, setelah itu pergi menemui WO.”


“apa aku harus pergi?”


“tentu saja harus ikut denganku, aku menikahimu bukan menikah dengan diriku sendiri."


“baiklah.”


“lalu, pakailah pakaian yang sudah aku belikan, kamu bisa pilih di dalam lemari.”


“baiklah.”


Kenan menatap sebentar ke arah Karina lalu beranjak dari meja makan. Ia pergi ke ruang baca yang terletak di sebelah kamar tidur. Ada sebuah ranjang yang berukuran sedang terletak di sudut ruangan dan terlihat masih rapih. Ranjang tersebut tertutup oleh rak buku yang memang sengaja digunakan sebagai penghalang. Dulu Kenan sering menggunakannya untuk istirahat sejenak saat bekerja. Tapi sudah tidak pernah digunakannya lagi semenjak ia memiliki rumah pribadinya sendiri.


“Karina.”


“ya?”


“mulai besok kalau kejadian seperti tadi malam terulang, kamu bisa tidur di sini.”


“apa tidak masalah? Ini ruang kerjamu.”


“tidak masalah.”


“baiklah.”


Setelah mengatakan itu, Kenan pulang ke rumah pribadinya. Ia juga berpesan akan menjemput Karina jam setengah sembilan nanti.