
Karina merenung di dalam kamar memikirkan penawaran yang diberikan oleh Kenan. Tidak ada salahnya ia menerima tawaran itu karena sangat menguntungkan dirinya. Jika semua berjalan lancar, ia bisa memulai kehidupannya sendiri dengan baik tanpa bayang-bayang keluarga pamannya. Tapi ada satu hal yang ia lupa untuk tanyakan, yaitu alasan Kenan memintanya melakukan hubungan kontrak ini. Lelah memikirkan banyak hal, akhirnya ia tertidur.
Dua hari sudah berlalu dan hari ini Karina harus bertemu dengan Kenan pada pukul lima sore. Keputusannya saat ini sudah bulat yaitu menolak tawaran pria itu. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan sebagai permainan. Karina juga memiliki mimpi untuk pernikahannya sendiri.
Sepulang dari kafe, Karina langsung pulang ke rumah. Ia mengambil cuti satu hari dari hotel untuk bersiap-siap sebelum menemui Kenan. Dirinya harus memantapkan hati agar bisa menolak tawaran itu dengan mantap. Karina tidak boleh lagi tergiur pada harta yang ditawarkan pria itu.
“baru pulang kamu?”
“bibi? Kok sudah di rumah?”
“lah ini rumah saya ya terserah saya dong mau di rumah apa nggak.”
Karina tidak menggubris ucapan bibinya itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Tapi ia melihat pemandangan yang tidak menyenangkan begitu membuka pintu kamar. Kamarnya berantakan dan seperti waktu itu, lemarinya juga sama berantakannya.
“ternyata kamu sudah nggak punya uang tunai, tapi saya menemukan ini. Beritahu pinnya.”
Karina menoleh ke arah bibinya yang sudah duduk di sofa sambil menonton televisi. Kedua matanya melotot melihat kartu atm pribadinya kini berada di tangan bibinya.
“bi tolong kembalikan kartuku.”
“melihat reaksimu sepertinya isinya banyak.”
“tolong kembalikan bi.”
“apa Devano yang mengirimkan kamu uang dan membuatkan rekening ini?”
“ini tidak ada hubungannya dengan adikku, jangan bawa-bawa dia.”
Emosi di dalam diri Karina kembali meluap melihat tingkah bibinya. Dengan cepat ia berjalan ke arag sang bibi untuk merebut kartu miliknya. Tapi ia masih kalah cepat dari wanita paruh baya itu.
“beritahu pinnya.”
“bi tolong kembalikan.”
“tidak kamu beritahu juga saya bisa mencaritahunya sendiri. Semua tergambar jelas di wajahmu. Kalau bukan ulang tahun ya hari kematian orang tua kamu.”
Karina mematung mendengar penuturan bibinya. Jika kartu itu sampai diambil juga, Karina bisa kehilangan harapannya untuk bisa bebas. Pekerjaannya di hotel yang mati-matian ia sembunyikan sudah diketahui oleh bibinya dan sekarang kartu atm yang berisi uang tabungannya juga sudah diambil. Tidak ada lagi kesempatan di masa depan mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri karena bibi dan keluarganya pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“kamu seharusnya bersyukur kami mau menampungmu di sini.”
“kenapa aku harus bersyukur mendapatkan kalian sebagai waliku? Kalian memakan uang orang tuaku, kalian menelantarkanku dan adikku, sekarang kalian juga memakan semua hasil kerja kerasku?”
“oh hasil kerja kerasmu? Kalau begitu isinya pasti banyak.”
Setelah mengucapkan itu, wanita paruh baya itu keluar dari rumah dengan menenteng tas mahal miliknya. Karina lagi-lagi tidak bisa melakukan apa-apa saat menghadapi situasi seperti ini. Kalau saja ada orang yang bisa melindunginya, atau setidaknya ia memiliki tempat bernaung yang baru. Dirinya pasti bisa menghindari kejadian seperti ini terulang kembali.
Pukul lima sore, Kenan sudah duduk di dalam ruang VIP di sebuah restoran mewah. Ia sesekali melirik jam tangannya karena sudah sepuluh menit dan Karina belum juga datang.
Akhirnya gadis yang ditunggunya datang juga. Gadis itu langsung mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas selempangnya dan meletakkannya di hadapan Kenan.
“kenapa buru-buru? Duduk dan makan dulu.”
“aku tidak butuh itu, bawa aku keluar dari rumah itu.”
“rumah pamanmu?”
“...”
“sepertinya telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan ya.”
“jangan banyak bicara, ini syarat dariku.”
Kenan membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya dan menganggukkan kepala.
“hanya ini?”
“kalau begitu ini persyaratan dariku.”
Kali ini Kenan yang memberikan satu lembar kertas kepada Karina. Karina membacanya asal lalu mengangguk menyetujuinya. Tidak ada yang perlu ia pikirkan lagi selama itu bisa membawanya keluar dari rumah.
“Zaki, buat kontrak berdasarkan ini.”
“baik pak.” Jawab seorang pria yang sejak tadi berdiri di sebelah Kenan.
“makan dulu, butuh waktu sampai kontraknya jadi.”
Karina mengambil duduk di hadapan Kenan dan pelayan mulai berdatangan menyajikan makanan yang terlihat begitu mewah. Karina sama sekali tidak bisa menikmati makanan di depannya. Dengan susah payah gadis itu menelan setiap suapan yang masuk ke dalam mulut.
“jadi intinya kamu membutuhkan tempat tinggal dan aku butuh kamu di depan orang tuaku.”
Ucap Kenan membuka percakapan setelah mereka berdua selesai makan.
“tidak ada tunjangan yang kamu inginkan?”
“tidak ada.”
“baiklah, kontrak kita satu tahun terhitung hari ini, kamu bisa pindah ke apartemen milikku hari ini selain itu, kita akan menikah dalam bulan ini.”
“apa itu pernikahan sungguhan?”
“tentu saja sungguhan karena akan ada banyak tamu yang datang.”
Kalimat yang menyebutkan ada banyak tamu berhasil membuat wajah Karina tegang. Kebohongan ini melibatkan terlalu banyak orang dan kalau sampai terbongkar, makan akan ada kerugian yang cukup besar terutama kepada Kenan.
“kamu berfikir kita akan menikah diam-diam lalu datang ke rumahku dan mengatakan, halo ibu ayah kami sudah menikah, seperti itu?”
“tidak, tapi bukankah sederhana itu lebih baik? Mengingat hubungan kita hanya sebatas kontrak.”
“aku juga berfikir seperti itu tapi orang tuaku tidak demikian. Lalu selama satu tahun ke depan semua biaya hidupmu aku yang menanggung karena secara teknis kamu adalah istriku.”
“aku setuju.” Ucapnya dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.
“kemudian tidak ada kontak fisik yang berlebihan, dan pekerjaan rumah kamu yang mengerjakannya.”
Karina yang awalnya menganggukkan kepala langsung melotot ke arah Kenan. Dia tadi benar-benar ceroboh saat membaca kontrak karena tidak membaca poin ini. Rumah Kenan pasti tidak kalah luas dengan rumah orang tuanya, kalau ia sendiri yang membersihkan rumah itu mungkin dia tidak akan sanggup.
“jangan terkejut begitu, akan ada pembantu yang datang satu minggu sekali membersihkan seluruh rumah. Kamu hanya perlu menjaga semuanya tetap di tempat sampai pembantu datang.”
“kenapa satu minggu sekali?”
“kalau setiap hari, bisa-bisa ketahuan.”
“iya ya?”
“apa ada hal lain lagi?”
“sepertinya tidak ada.”
“baiklah, setelah ditandatangani, kontrak ini tidak bisa dibatalkan kecuali kita sepakat untuk membatalkannya.”
“oke.”
Setelah pertemuannya dengan Kenan, Karina langsung diantar oleh sopir pribadi Kenan ke sebuah apartemen mewah. Kenan mengatakan ia boleh tinggal di tempat itu hingga pernikahan mereka sebelum pindah ke rumah pribadinya.
Karina melihat setiap ruangan yang tertata rapih dan bersih. Semua perlengkapan untuknya juga sudah ada mulai dari pakaian hingga perlengkapan untuk mandi.
Lalu ia duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar sambil membaca data diri Kenan yang baru saja diterimanya. Ia juga harus mengirimkan data mengenai dirinya kepada pria itu. Mereka harus mengetahui pribadi masing-masing agar terlihat lebih meyakinkan sebagai sepasang kekasih. Mereka juga harus menyamakan ucapan mereka saat harus bertemu dengan orang tuan Kenan nantinya.