My Heart For You

My Heart For You
4. Pengakuan



Karina saat ini berada di dalam mobil Kenan yang terparkir di pinggir jalan raya. Kenan mencoba memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan agar tidak menyinggung apalagi menyakiti hati Karina. Saat ini hubungannya dengan Karina tidak boleh memburuk karena itu akan merugikan dirinya.


Kenan melirik Karina yang duduk diam menunggu apa yang akan disampaikan oleh dirinya. Setelah menemukan kata-kata yang cocok, Kenan menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan.


“jadilah pacarku.”


Karina terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut bosnya. Kenan sendiri juga sedikit menyesal karena dari sekian banyak kalimat yang akan ia ucapkan, justru dua kata itu yang meluncur dari mulutnya.


“ah maaf, maksud saya bukan jadi pacar sungguhan. Kejadian waktu itu membuat orang tua saya salah paham dan memaksa saya untuk membawamu ke rumah.”


“tinggal di jelaskan kalau itu salah paham kan?”


“sudah saya jelaskan tapi mereka tidak mau mendengarnya.”


“jadi Bapak memintaku jadi pacarmu di depan orang tua Bapak?” Kenan mengangguk mengiyakan ucapan Karina.


“dari beberapa opsi yang ada Bapak memintaku jadi pacar bohongan?”


“memangnya ada opsi lain?”


Karina baru tahu kalau pria ini ternyata cukup bodoh untuk ukuran CEO yang sudah sukses di usia mudanya.


“alih-alih memintaku jadi penipu, Bapak bisa memintaku datang untuk menjelaskannya kan?”


“aku tidak memikirkan itu, kamu bisa membantuku dengan cara itu.”


“tapi memangnya bantuanku sangat dibutuhkan? Bapak kan bisa menjelaskannya sendiri ke orang tua Bapak.”


“sudah aku bilang mereka tidak mau mendengarkanku.”


Karina merasa itu bukanlah hal besar hingga seorang Kenan harus mendapatkan bantuannya. Dengan kemampuannya bicara, pria itu bisa mendapat investor dan memenangkan proyek besar. Jadi seharusnya ia bisa dengan mudah meluruskan sesuatu yang jelas adalah sebuah kesalahpahaman belaka.


“ibuku bersikeras, setidaknya jika kamu sendiri yang menjelaskannya mungkin ibu bisa menerimanya.”


Karina menunjukkan raut wajah keberatannya dengan begitu jelas membuat Kenan sedikit gugup akan keputusan gadis itu.


“aku akan membayar waktumu yang terbuang dua kali lipat dari semua gaji yang kamu peroleh dari bekerja di dua tempat.”


“Bapak tadi menguping?”


“tidak sengaja, bibimu bicara dengan begitu keras, siapapun yang sedang lewat pasti akan mendengarnya.”


“Bagaimana?” tanyanya lagi.


Karina diam tampak sedang memikirkan penawaran dari Kenan. Mendapat uang sepuluh juta dalam satu hari adalah sesuatu yang menggiurkan untuk Karina. Uang ia dapatkan dalam tiga bulan bisa didapat dalam satu hari saja. Ditambah ia masih mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Jika dia menerima tawaran ini, setidaknya Karina bisa menambahkan uang tersebut ke tabungannya.


“kapan kita akan bertemu orang tua Bapak?”


“besok.”


“baiklah, aku hanya perlu mengatakan yang sebenarnya kan?”


“iya, aku akan menjemputmu pukul satu siang.”


Setelah turun dari mobil Kenan, Karina langsung pulang ke rumah pamannya lagi. Meskipun enggan untuk pulang tapi ia tidak memiliki tempat tujuan lain selain rumah itu. Dengan perlahan, Karina membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Suasana rumah begitu sunyi karena sepertinya semua orang sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Karina masuk ke dalam kamar dan melihat kamarnya berantakan. Barang-barang di kamarnya berserakan dan lemari pakaiannya terbuka lebar dengan sebagian isinya tercecer keluar.


Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk sudah terjadi selama dia keluar tadi. Ia bergegas mengecek bagian paling bawah di lemarinya dan menemukan dompetnya yang sudah kosong. Dompet yang berisi uang tabungannya selama satu tahun ini raib sudah. Karina tahu siapa pelakunya tapi tidak ada gunanya ia meributkan hal itu. Beruntung ia karena sebagian uangnya ia simpan di rekening tabungan yang berbeda, jadi dia tidak seratus persen kehilangan uang hasil kerja kerasnya.


Keesokan harinya, Karina meminta tambahan libur satu hari dari kafe dan hotel tempatnya berkerja. Ia memakai pakaian yang sehari-hari dikenakannya, yaitu celana panjang dan kaus oblong dengan sepatu sneakers yang sudah lusuh. Karina tidak perlu berpakaian secara khusus karena kedatangannya adalah untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Selain itu, mereka adalah orang kaya jadi tidak mungkin mau menerima orang miskin seperti dirinya.


Kenan menjemput Karina pukul satu siang di tempatnya kemarin memarkirkan mobil. Mereka menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di kediaman orang tua Kenan. Karina memandang sekitar dengan tatapan takjub karena pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya. Rumah mewah berjejer di sisi jalan dan setiap rumah memiliki halaman yang terawat dengan sangat baik. Mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah berwarna putih. Halaman rumahnya dipenuhi berbagai tanaman bunga membuatnya terlihat sangat cantik.


“ayo masuk.”


Mereka masuk ke dalam rumah secara bersamaan dan disambut oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan berpenampilan modis.


“jadi ini pacar kamu?” tanyanya dengan wajah sumringah.


Wanita itu langsung merangkul bahu Karina dan menyeret gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Kenan tidak bisa mencegah sang ibu dan hanya bisa mengikutinya dari belakang.


“kamu ditunggu ayah di ruang baca. Kesana gih, ibu mau ngobrol berdua sama calon mantu ibu.”


“sudah berapa lama kamu sama Kenan? Apa yang kamu sukai dari anak saya itu? Selama ini tidak ada wanita yang mau sama dia, makanya ibu sekarang seneng benget pas tahu kamu pacaran sama anak ibu.”


Karina hanya bisa tersenyum canggung selama wanita paruh baya itu terus berbicara tanpa jeda.


“tante.”


“oh, kamu mau minum apa?”


“nggak usah tante.”


“Bi, tolong buatkan teh ya.”


“iya bu.”


“teh hangat cocok untuk musim hujan seperti ini, oh iya kamu masih kuliah apa sudah lulus? Umur kamu berapa?”


Karina mengusap lengannya sendiri karena merasa semakin gelisah. Sepertinya wanita di depannya ini memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap hubungannya dengan Kenan.


“tante.”


“kok dari tadi manggil tante terus sih? Panggil ibu dong.”


“tapi tante.”


“panggil ibu dulu.”


Karina menghela nafasnya pelan.


“aku bukan pacar Kenan tante.”


Suasana di ruang tamu menjadi hening setelah Karina mengucapkan kebenarannya. Wajah yang tadinya terlihat bahagia kini jelas berubah menjadi raut sedih dan tidak enak. Karina menjadi bingung karena tidak tahu harus bagaimana di situasi seperti ini. Rasa bersalah sedikit terasa di hatinya karena baru saja mematahkan kebahagiaan seseorang. Tapi situasi ini benar-benar harus diluruskan tidak peduli seberapa besar ekspektasi orang tua Kenan terhadap hubungan keduanya yang jelas tidak pernah terjadi.


“kamu tidak mengatakan ini karena diancam Kenan kan?”


“maksud tante?”


“ya siapa tahu dia Cuma mau main-main sama kamu jadi nggak dikenalin ke kami.”


“kami beneran nggak ada hubungan apa-apa kok.”


“serius?”


“iya.”


“padahal tante sudah bahagia, maklum saja dia tidak pernah dekat dengan perempuan lain.”


Karina sedikit menghembuskan nafas lega saat mendengar wanita paruh baya itu menyebut dirinya sendiri tante, tidak seperti sebelumnya. Tugasnya hari ini akhirnya selesai karena ibu dari bosnya sudah mengerti situasi diantara dirinya dan Kenan.


Akhirnya Karina bisa berbincang dengan nyaman. Ibu Kenan juga terasa menikmati waktunya berbicara bersama Karina. Karina memang orang yang ceria dan mudah bergaul. Orangnya nyambung diajak bicara berbagai topik.


Tidak lama kemudian, Kenan keluar dari ruang baca bersama ayahnya. Wajah Kenan terlihat suram tidak seperti awal ia datang ke rumah itu. Sementara sang ayah tersenyum melihat Karina yang terlihat akrab dengan istrinya.


“kamu Karina ya?”


“iya om.”


“Kenan sudah cerita semuanya kalau ini hanya salah paham, om dan tante minta maaf ya.”


“nggak apa-apa kok om, nggak perlu sampai minta maaf segala.”


“kamu anak yang baik.” Ucap pria paruh baya tersebut seraya tersenyum.


Kenan mengajak Karina untuk segera pergi dari rumah mewah itu. Berbeda dengan Kenan yang langsung melenggang keluar tanpa berpamitan, Karina menyalami tangan kedua orang tua itu lalu berpamitan dengan sopan sebelum keluar dari rumah.


“sering main ke sini ya, nggak jadi mantu jadi anak angkat juga bisa kok.”


“aku makannya banyak tante, kalau mau angkat jadi anak harus sedia beras yang banyak.”


Celetukan Karina berhasil membuat orang tua Kenan tertawa. Karina juga ikut tertawa dan menganggap kalau itu semua hanyalah candaan biasa.