My Heart For You

My Heart For You
3. Salah Paham



Karina hendak berdiri tapi gerakannya ditahan oleh pria di sampingnya.


“tidurlah, aku akan keluar.” Ucapnya lalu membawa ibunya keluar dari kamar.


Kini ibu dan anak itu sudah berada di restoran hotel. Sang ibu menatap anaknya dengan tatapan penuh harap. Berharap kalau gadis tadi adalah kekasih putranya.


“kenapa tidak bilang?”


“ibu apaansih, kami tidak ada hubungan apapun.”


“ada juga nggak apa-apa kok, ibu malah seneng.”


“dia Cuma karyawan di sini.”


“oh ya? Jabatannya apa?”


“office girl.”


Kenan melihat ibunya terdiam begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Ia pikir ibunya akan berhenti menggodanya dengan Karina. Ia pikir ibunya menilai seseorang dari statusnya. Kenan berfikir demikian karena semua wanita yang dikenalkan kepadanya berasal dari kalangan konglomerat semua.


Tapi perkiraannya salah karena ekspresi ibunya kembali berubah mengejeknya seperti tadi.


“kamu menyembunyikan ini karena takut ibu tidak akan merestui hubungan kalian?”


“tidak bu, kami memang tidak memiliki hubungan seperti itu.”


“tidak apa-apa, ibu merestui kalian. Selama kamu mencintainya. Ibu lihat sepertinya dia wanita baik-baik.”


“buu.”


“kapan kalian menikah.”


“ibu! Pulang sana.”


“kamu mengusir ibu?”


“ayah pasti nungguin ibu di rumah.”


Dengan raut cemberut, wanita paruh baya itu akhirnya pulang ke rumah. Kenan mengusap tengkuknya karena merasa gelisah. Ibunya tidak akan berhenti di sini saja, beliau pasti akan melakukan sesuatu di belakangnya.


Ponsel di sakunya bergetar, dengan sigap ia mengambil dan melihat nama penelepon. Senyumnya mengembang saat melihat siapa yang menelepon.


“halo.”


“halo, Kenan. Aku dengar kamu kecelakaan.”


“tidak, aku baik-baik saja. Hanya kesalahan teknis di lift hotel. Untung aku keluar sebelum liftnya jatuh jadi tidak ada masalah.”


“syukurlah. Aku menghubungimu untuk menanyakan itu.”


“kamu sudah minum obat?”


“sudah, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”


“istirahatlah, besok aku akan mengunjungimu.”


“iya.”


Kenan kembali ke dalam kamar di lantai lima untuk mengecek keadaan Karina. Dokter tadi mengatakan kalau ia mengalami syok berat dan membutuhkan istirahat. Kenan sendiri tidak paham dengan keadaan Karina karena sebelumnya ia terlihat baik-baik saja.


Kenan membuka pintu dengan perlahan lalu masuk dan mendapati kamar yang kosong. Jika gadis itu baru saja keluar, pasti mereka akan berpapasan di tangga karena hanya ada satu tangga darurat saja. Kenan menyimpulkan kalau Karina sudah pergi tidak lama setelah ia dan ibunya keluar dari kamar.


Besoknya, Kenan terus diteror oleh ayahnya. Ia diminta untuk segera pulang ke rumah. Firasatnya mengatakan kalau ibunya mengatakan hal yang tidak-tidak kepada sang ayah. Benar saja, begitu sampai di rumah ia dijejali berbagai pertanyaan.


“ayah dengar apa saja dari ibu?” Kenan melirik sang ibu yang hanya duduk manis di samping ayahnya sambil tersenyum ke arahnya.


“memangnya menurutmu apa yang ibumu katakan?”


“yahh, itu tentang aku punya pacar atau semacamnya?”


“jadi kamu benar punya pacar? Terus nggak mau ngenalin ke ayah ibu karena takut nggak direstui, begitu?”


“nggak yah, aku nggak punya pacar.”


“nggak punya pacar tapi tidur satu kamar.” Ucap sang ibu memberikan minyak ke atas api yang menyala.


“bu, ibu tahu bukan begitu, aku nggak tidur dengannya.”


“Kenan, ayah mau kamu bawa dia ke rumah dan mengenalkannya ke kami.”


“tapi yah...”


“tidak ada tapi, bawa ke rumah atau keluar dari perusahaan.”


Kenan tidak bisa membantah lagi jika ayahnya sudah membawa urusan perusahaan. Dengan terpaksa, ia harus mencari cara membawa Karina untuk menenangkan kedua orang tuanya.


Setelah beranjak dari rumah orang tuanya, Kenan menyempatkan diri untuk menjenguk seorang teman lama. Ia menempuh perjalanan sekitar satu jam dari kediaman kedua orang tuanya. Rumah sederhana di pinggir kota dengan suasana yang masih asri menyambut mata Kenan. Terlihat seorang gadis yang sedang duduk di teras memandang kosong ke arah depat.


“Kiara.” Kenan memanggil gadis itu disertai dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapapun, ia tunjukkan kepada Kiara walaupun itu sia-sia.


“kamu benar-benar datang.”


“tentu saja.”


“mau duduk di sini apa masuk?”


“di sini saja, yang lebih adem.”


Di halaman yang cukup luas ini ada banyak tanaman mulai dari bunga hingga buah-buahan. Kenan selalu suka saat berada di tempat ini. Cukup santai untuk menenangkan pikiran dan melepas penat dari tumpukan pekerjaan.


“bagaimana keadaanmu?”


“aku baik-baik saja.”


“belum ada kabar dari rumah sakit?”


Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan lemah.


“jangan khawatir, suatu saat kamu pasti bisa melihat lagi.”


Kiara hanya tersenyum menanggapi ucapan semangat dari Kenan. Meskipun ada rasa ingin melihat lagi, tapi ia berfikir kalau itu tidak lagi penting. Kiara hanya mencoba menerima keadaannya yang seperti ini. Sudah tiga tahun berlalu, jadi dirinya harus bisa menerim keadaan.


Beruntung karena Kenan selalu ada di sisinya menjadi penyemangat terbaik yang ia miliki.


“kamu sudah punya kekasih?” pertanyaan Kiara membuat Kenan langsung menoleh ke arahnya.


“tidak, jangan bahas itu lagi.”


“aku sudah baik-baik saja, hilangkan rasa bersalahmu. Kamu sudah memberi begitu banyak kebahagiaan untukku selama ini, sekarang waktunya untuk kamu membahagiakan dirimu sendiri.”


“jangan bicara seolah-olah kamu paling tahu diriku.”


“karena itu carilah seseorang yang bisa mengerti kamu.”


“berhenti membahas hal ini.”


“Kenan, aku serius dengan ucapanku. Carilah seseorang dan hidup bahagia bersamanya.”


“aku pulang dulu.”


“lain kali datanglah dengan kekasihmu.”


Kenan tidak ingin berlama-lama tinggal di sana jika pembahasan mereka sudah tentang kehidupan pribadinya. Ia sendiri heran kenapa semua orang memintanya untuk segera mencari pasangan sementara dirinya tidak menginginkan hal itu.


Kenan tidak pulang ke rumah melainkan ke hotel. Ia harus mencari Karina untuk membahas mengenai masalah dirinya. Tapi sayangnya ia tidak bisa bertemu dengan gadis itu walaupun sudah ditunggu hingga malam. Setelah mencari tahu, ternyata gadis itu meminta cuti sakit selama dua hari.


Dengan berbekal secarik kertas bertuliskan alamat Karina, Kenan menyusuri jalanan di malam hari untuk mencari rumahnya. Akhirnya ia sampai di sebuah daerah yang cukup jauh dari hotel. Ia turun dari mobil karena harus masuk ke dalam gang sempit. Setelah berjalan cukup lama dan bertanya kepada orang yang ditemuinya di jalan, akhirnya ia berhenti di depan sebuah rumah sederhana.


“dasar tidak tahu diri!”


Tangan Kenan menggantung di udara saat mendengar makian dari dalam rumah.


“kamu selama ini menyembunyikan uangmu dari kami? Kamu tidak bilang kalau kamu bekerja di hotel mewah dan mengantongi semua uang itu untuk dirimu sendiri.”


Dari suaranya, Kenan menduga kalau itu adalah suara seorang wanita paruh baya.


“tidak ada gunanya kami membesarkanmu selama ini.”


“bi, aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Tapi aku juga butuh uang untuk membeli makanan saat di luar.”


“alasan, kamu bisa membawa bekal dari rumah.”


“selain itu menurut bibi uang dua ratus ribu cukup untuk memenuhi kehidupan mewah bibi dan anak bibi?”


Kenan maju selangkah mendekat ke pintu saat mendengar suara gadis yang dikenalnya.


“pada akhirnya semua uang itu habis untuk kalian, mulai dari makan, pakaian, air, listrik, sampai uang jajan semuanya aku yang menutupnya padahal paman juga punya penghasilan sendiri.”


“jadi sekarang kamu perhitungan dengan kami? Kami yang sudah membesarkanmu selama ini.”


“kalian tidak melakukan apapun selain membiarkanku tidur di sini, uang untuk hidupku semuanya memakai uang dari peninggalan ayah dan ibuku, kalian bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun.”


“wahh lihatlah anak ini semakin kurang ajar.”


TOK TOK TOK!


Suara ketukan pintu membuat perdebatan di dalam rumah langsung terhenti seketika. Pintu terbuka dan memperlihatkan Karina yang terlihat berusaha menekan emosinya.


Karina terkejut melihat siapa orang yang bertamu malam-malam begini. Dengan canggung, ia tersenyum kepada Kenan.


“Pak Kenan?”