My Heart For You

My Heart For You
7. Interogasi



Keesokan harinya, Karina pulang ke rumah pamannya untuk mengambil semua barang pribadi miliknya. Tidak banyak yang bisa ia ambil karena hampir tidak pernah membeli barang untuk dirinya sendiri. Hanya beberapa potong pakaian dan benda peninggalan orang tuanya yang bisa ia ambil.


Karina pulang ke rumah saat keadaan kosong, jadi ia bisa leluasa keluar masuk tanpa perlu bersitegang dengan orang rumah. Setelah semua barangnya masuk ke dalam koper, Karina bergegas kembali ke apartemen.


Saat sampai di apartemen, ia melihat seorang pria berdiri di depan pintu seperti sedang menunggunya. Pria itu langsung membungkuk sopan saat melihat Karina sudah berada di dekatnya.


“anda siapa ya?”


“selamat pagi bu Karina, saya Angga asistennya pak Kenan.”


“ohh ya, saya ingat pernah melihatmu. Ada apa datang ke sini?”


Pria itu memberikan sebuah amplop coklat besar kepada Karina.


“di dalamnya ada daftar jabatan yang kosong di perusahaan, lalu jika tidak berkenan di dalam juga ada daftar perusahaan lengkap dengan jabatan yang kosong.”


Karina memandang kosong ke arah amplop tersebut lalu beralih menatap pria di depannya.


“memangnya apa hubungannya denganku?”


“bukannya ibu yang mengajukan syarat agar bisa bekerja.”


“iya itu memang syarat dariku tapi aku akan bekerja dengan caraku dan kemampuanku sendiri.”


“pak Kenan meminta saya menyampaikan agar ibu tidak terburu-buru mengambil keputusan dan sebaiknya dipertimbangkan dulu.”


“sepertinya dia tahu aku akan begini.” Gumam Karina pada dirinya sendiri.


“baiklah aku akan mempertimbangkan ini, terimakasih.”


Karina tersenyum kemudian berbalik menghadap pintu dan memasukkan serangkaian angka untuk membuka pintu apartemen. Sebelum ia masuk, Angga mengatakan kepada Karina untuk bersiap-siap karena siang ini Kenan akan menjemputnya. Mereka akan bertemu dengan orang tua Kenan lagi siang ini. Karena menurutnya, semakin cepat maka semakin baik.


Karina tidak menanggapinya dan langsung masuk begitu saja. Sejak ia menadatangani kontrak pernikahan itu, ia selalu mempertanyakan keputusannya. Tapi tangannya sendiri yang mendatangani kontrak itu tanpa paksaan siapapun.


Nasi sudah menjadi bubur dan penyesalan tidak ada gunanya. Ia harus bisa menanggung semua konsekuensinya jika kontrak itu berakhir tidak baik.


Siang harinya, Kenan benar-benar menjemput Karina ke apartemen. Pria itu menunnggu Karina di lobi apartemen tanpa berniat untuk naik ke atas. Sekitar lima menit menunggu, akhirnya Karina turun dengan pakaian sehari-hari yang ia miliki.


Kenan mengerutkan keningnya karena melihat penampilan Karina yang tidak berubah meskipun mereka akan menikah. Ia ingat sudah menyuruh orang untuk memenuhi lemari pakaian di dalam kamar dengan berbagai pakaian wanita.


“ada apa dengan bajumu hari ini?”


“kenapa? Ini baju yang biasa aku pakai, apa ada yang salah?”


“kenapa kamu memakai baju itu dan tidak memakai baju di lemari?”


“itu baju untukku?”


“memangnya untuk siapa lagi? Hanya kamu wanita yang bisa tinggal di apartemenku.”


Mendengar bahwa ia menjadi satu-satunya wanita yang pernah tinggal di apartemen Kenan membuat Karina sedikit tersipu.


“aku tidak tahu, aku juga lebih nyaman dengan bajuku.”


“ya sudahlah, ayo berangkat.”


Jarak dari apartemen Kenan ke rumah orang tuanya tidak sejauh dari jarak rumah Karina. Sekitar lima belas menit mengendarai mobil, akhiirnya mereka sampai. Karina turun dari mobil lalu berjalan mengekor di belakang Kenan yang sudah lebih dulu jalan.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan tidak terlihat satu orangpun di ruang tamu. Kenan meminta Karina untuk duduk di sofa sementara dirinya mencoba mencari orang tuanya. Kenan masuk ke ruang baca sang ayah dan mendapati ruangan tersebut juga kosong. Lalu ia menuju kamar orang tuanya dan mengetuk pintu, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam.


“loh Karina? Kamu sudah datang nak?” ucap seorang wanita paruh baya dari arah dapur rumahnya.


“iya tante.”


“Kenan mana?”


“tadi naik ke atas cari tante sama om.”


“sini ke sini, kita makan siang dulu. Tante belum makan.”


Karina mengikuti wanita paruh baya itu dengan rasa canggung. Selain itu, ia sepertinya harus memberitahu Kenan kalau ibunya ada di dapur, tapi ia tidak memiliki celah untuk memberitahunya.


Ibunya Kenan menarikkan kursi untuk ia duduki kemudian dia duduk di samping Karina. Dengan telaten, wanita itu mengambilkan makanan untuk Karina mulai dari nasi sampai lauk pauknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia mendapat perlakuan seperti ini. Angannya mulai menjadi liar berharap jika sang ibu masih hidup ia pasti akan mendapat kasih sayang seperti ini.


“makan sayang.”


“tapi Kenan tante.”


“sudah jangan dipikirkan, ada om.”


Karina mengangguk saja dan mulai menyantap makan siang pertamanya di rumah itu.


Sementara itu, seperti yang sudah dikatakan oleh wanita paruh baya itu, Kenan bertemu dengan sang ayah di lantai dua. Ayahnya naik ke atas saat Kenan hendak turun ke bawah.


“loh ayah kenapa malah naik? Karina ada di bawah.”


“ayah mau bicara sama kamu.”


“Kenan juga mau bicara sama ayah ibu, kita ke bawah.”


“tidak, bicara di sini saja. Ayah minta kamu menikah tapi bukan seperti ini caranya.”


“maksud ayah bagaimana?”


“imbalan apa yang kamu janjikan ke Karina sampai dia mau berpura-pura menjadi istrimu?”


“berpura-pura gimana sih yah? Aku datang ke sini untuk bilang kalau aku dan Karina saling cinta dan akan menikah. Bukankah itu yang ayah inginkan? Menikah dengan wanita yang Kenan cintai.”


“kamu serius mencintainya setelah kemarin ngotot kalau kalian tidak ada hubungan apapun?”


“hati nggak ada yang tahu yah, sekarang Kenan cinta sama Karina dan mau menikahinya. Apa itu salah juga?”


“ayah hanya khawatir kamu melakukan kesalahan.”


“kalau ayah khawatir, lalu kenapa membuat persyaratan seperti itu agar aku bisa mewarisi perusahaan ayah?”


Di ruang makan, pertanyaan yang sama juga terlontar kepada Karina. Dengan penuh kelembutan seorang ibu, wanita itu bertanya kepada Karina membuat Karina tidak tega untuk berbohong. Tapi kontraknya sudah ditandatangani dan ia tidak bisa mundur lagi.


“bagaimana hubunganmu dengan Kenan?”


“baik tante.”


“kemarin kamu bilang tidak ada hubungan apapun dengan Kenan tapi tadi pagi tante dengar dari Kenan kalau dia akan menikah denganmu.”


Karina tersenyum canggung dan berusaha keras agar bisa bersikap normal seperti biasanya. Dalah hatinya ia merapalkan berbagai doa agar Tuhan mau mengampuni dosanya saat ini berbohong kepada orang tua Kenan.


“semua terjadi begitu saja tante, sebenarnya aku yang lebih dulu suka sama Kenan dan kita sudah kenal sekitar tiga bulan.” Dustanya.


“baru kenal tiga bulan sudah mau langsung menikah? Kamu yakin dengan keputusanmu?”


“mungkin kali ini dia benar-benar mencintaiku tante, makanya mau menikah.”


Hening di antara keduanya. Ibu Kenan menatap lekat dua manik mata Karina. Satu tangannya terulur ke rambut Karina lalu ia tersenyum lembut.


“tante restui hubungan kalian, tapi jika di masa depan nanti Kenan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu jangan ragu untuk datang ke rumah ini.”


“tante nggak percaya dengan anak tante sendiri?”


“tante hanya khawatir dengan kalian berdua karena keputusannya mendadak begini. Baru kemarin loh kamu datang ke sini bilang nggak ada hubungan apa-apa sama anak tante.”


Karina tersenyum canggung setelah mendengar keraguan yang terlontar dari calon ibu mertuanya. Karina merasa bersalah terhadap wanita di depannya.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Kenan dan Karina pulang dari rumah itu. Selama perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Keduanya diam membisu membiarkan pikiran mereka berkelana. Kenan mengantarkan Karina terlebih dahulu sebelum ia pulang ke rumahnya.


Setelah pertemuan malam itu, tanggal pertunangan mereka sudah ditetapkan minggu depan lalu jarak seminggu kemudian mereka berdua akan menikah. Pertunangan diadakan dengan sederhana sesuai permintaan Karina. Sedangkan pernikahan akan diadakan sesuai keinginan orang tua Kenan.


Karina saat ini sedang berdiri di depan sebuah kampus sambil memegang selembar undangan di tangannya. Jantungnya berdegup kencang dan ia merasa gugup. Karina khawatir dengan reaksi orang yang akan mendapat undangan di tangannya.


“kakak.”


Seorang pria dari arah kampus berteriak memanggil Karina dan ia setengah berlari ke arah Karina.


“ada apa?”


“ini.” Tanpa basa-basi, Karina langsung menyerahkan undangan pernikahannya dengan Kenan kepada sang adik.


“apa ini?”


Devano yang merupakan adik kandung Karina langsung melotot melihat nama mempelai wanita yang tertera di undangan tersebut.


“jangan bicara di sini.”


Devano menarik tangan Karina ke arah sebuah kafe tidak jauh dari kampus. Wajahnya terlihat tidak senang setelah mendapat undangan pernikahan kakaknya.


“apa-apaan ini?”


“aku akan menikah.”


“kenapa mendadak begini? Sejak kapan kakak punya pacar? Atau jangan-jangan kakak...” ucapannya menggantung sambil melirik perut Karina.


Wajah masam langsung terpampang di wajah Karina setelah mengetahui maksud dari sang adik.


“menurutmu aku wanita seperti apa hah?”


“ya kan siapa tahu saja, soalnya kan tiba-tiba. Selain itu juga ini undangan pernikahan bukan pertunangan?”


“aku sudah memutuskan untuk menikah dengannya. Aku tidak memberimu undangan pertunangan karena tidak perlu, sebenarnya undangan pernikahan juga tidak kamu butuhkan karena kamu adikku.”


"terus kenapa dikasih?"


"biar kamu percaya kalau aku akan menikah."


Devano diam terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“kalau kakak menikah agar bisa keluar dari rumah bibi, sebaiknya jangan menikah. Aku akan cari kontrakan di dekat tempat kerja kakak.”


“bukan karena itu aku menikah.”


“lalu kenapa?”


“menurutmu orang menikah kenapa?”


“saling mencintai?”


“...”


“siapa pria ini? Aku akan menentukan untuk merestui pernikahan kakak atau tidak setelah bertemu dengannya.”


“kamu tidak bisa bertemu dengannya karena dia orang sibuk.”


“kalau begitu jangan menikah, gampang kan.”


Karina memutas bola matanya di depan sang adik. Ia tahu responnya pasti akan seperti ini karena sang adik cukup posesif terhadap dirinya. Adiknya adalah satu-satunya saksi hidup yang menyaksikan kerasnya kehidupan yang dijalani oleh Karina.


Devano berkali-kali meminta Karina keluar dari rumah itu dan mengatakan akan membiayai hidup sang kakak. Tapi Karina tidak bisa membuat Devano bekerja terlalu keras. Ia ingin sang adik fokus dengan pendidikannya lalu sukses dengan meraih cita-citanya. Cukup dirinya seorang yang harus hidup menderita dan merelakan cita-citanya.