
Karina keluar dari apartemen memakai gaun sederhana panjang selutut berwarna biru muda. Dilengkapi dengan sepatu berwarna putih dan tas selempang. Penampilannya berhasil semakin memancarkan aura kecantikannya hingga membuat Kenan hampir saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
Keputusannya untuk membelikannya pakaian baru adalah keputusan terbaik sepanjang tahunnya saat ini. Jika saja dia pria yang mudah jatuh cinta, ia pasti akan jatuh cinta kepada Karina saat ini juga.
Kenan berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya lalu berjalan lebih dulu menuju mobil. Sesekali ia melirik wajah cantik Karina yang dibingkai oleh rambut bergelombang berwarna hitam legam miliknya. Kenan baru menyadari kalau Karina memiliki fitur wajah yang sempurna. Matanya tidak sipit tapi juga tidak terlalu bulat, hidungnya sedikit mancung tapi mungil dan bibirnya tipis tapi terkesan penuh.
“sampai.”
Ucap Kenan untuk menetralkan rasa gugupnya. Ia turun dari mobil dan diikuti oleh Karina. Mereka masuk ke dalam bersama-sama tidak seperti biasanya. Pria yang sebelumnya selalu berjalan mendahului Karina kini menunggu dan berjalan berdampingan dengan gadis itu.
“selamat pagi pak, bu, silahkan lewat sini.”
Seorang pelayan dengan sopan menyapa Kenan dan Karina membawa mereka berdua ke ruang VIP. Karina dibawa ke dalam ruang ganti untuk mencoba gaun pengantin yang sudah disiapkan. Sedangkan Kenan menunggu di sofa sambil membaca majalah yang tersedia. Ia tidak perlu ikut melakukan pengukuran baju karena sudah ada jas khusus dari sang ayah.
Akhirnya tirai dibuka menampilkan Karina yang berdiri canggung dengan sebuah gaun membalut tubuh rampingnya. Kenan terpaku menatap gadis itu selama beberapa saat sebelum akhirnya hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keindahan di depannya.
Karina mencoba beberapa gaun dan semuanya berhasil membuat Kenan linglung. Ia selalu terpukau dengan gaun apa saja yang dikenakan oleh Karina. Setelah selesai mencoba dan memilih gaun, mereka mengukur tubuh Karina untuk memperbaiki ukuran gaun yang dipesan.
“setelah ini langsung menemui WO?” tanya Karina kepada Kenan setelah mereka keluar dari butik.
“makan siang dulu, bertemu WO nanti jam tiga sore.”
“baiklah.”
Mereka berdua masuk ke dalam sebuah restoran mewah yang sebelumnya tidak pernah bisa Karina rasakan. Suasana romantis dan mewah langsung memanjakan mata Karina. Mereka memilih duduk di dekat jendela yang terhubung langsung dengan indahnya pemandangan taman bunga.
Tidak ada banyak hal untuk mereka berdua bicarakan. Keduanya hanya fokus untuk menikmati makanan yang dihidangkan dan sesekali membahas mengenai pernikahan yang akan segera diselenggarakan.
“omong-omong untuk undangannya kamu yakin tidak ada lagi selain untuk adikmu?”
“aku tidak memiliki teman, hanya adikku yang bisa aku undang.”
“setelah ini ada tempat yang mau kamu kunjungi?”
“bukankah kita akan ke WO?”
“masih ada waktu satu jam.”
Karina diam memikirkan tempat yang ingin ia kunjungi. Ingatannya berputar pada kenangan lama saat dirinya masih kecil. Di saat banyak anak-anak pergi ke wahana hiburan bersama kedua orang tuanya, tapi Karina dan Devano hanya bisa iri setelah mendengar cerita dari anak-anak lain.
“ada satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi, setidaknya sekali sebelum mati.” Gumamnya namun masih bisa didengar jelas oleh Kenan.
Kenan mengantarkan Karina ke tempat yang gadis itu maksud. Wajah Karina menyiratkan sebuah kesedihan saat melihat banyak anak-anak yang tertawa bersama keluarga mereka.
“ada wahana yang ingin dicoba?”
Karina menggelengkan kepalanya lalu berjalan masuk ke area wahana. Ia memandang takjub ke setiap wahana yang sedang beroperasi. Terdengar suara jeritan bahagia dan ketakutan dari mereka yang menaiki wahana yang ada di sana. Karina terus melangkahkan kakinya lalu duduk di sebuah bangku panjang saat merasa kakinya pegal.
“kamu serius tidak ingin menaiki wahana apapun?”
“iya.”
“lalu untuk apa kita ke sini?”
“kalau begitu naiklah satu wahana untuk memuaskan anak kecil di dalam dirimu.”
“aku merasa tidak enak jika harus menikmatinya sendirian tanpa adikku.” Ucapnya lalu berdiri dan berjalan pergi.
Langkah kakinya terhenti di depan seorang penjual es krim.
“kamu mau?”
Karina mengangguk sebagai jawaban untuk Kenan. Kenan sedikit tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang gadis itu minta darinya.
Karina menatap es krim yang ada di tangannya lalu mulai menyuapnya ke dalam mulut. Rasa manis dan dingin meleleh di dalam mulut membuat suasana hatinya meningkat.
“aku pernah bekerja di pasar membantu pedagang lalu sisa uang yang dikumpulkan aku belikan es krim untuk adikku.” Ucap Karina sambil memandang es krim yang berada di tangannya.
“bukankah kamu bisa melaporkan mereka ke polisi karena sudah membuat anak di bawah umur harus bekerja?”
“meskipun bisa tapi aku tidak ingin melakukannya, biar bagaimanapun juga paman dan bibiku adalah rumah tempatku pulang setelah orangtuaku tidak ada.”
“kalau begitu sekarang aku adalah rumahmu?”
Mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Karina tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dan kembali menyuapkan es krim ke dalam mulutnya.
“mungkin saja, di masa depan. Tidak ada yang tahu masa depan kita akan seperti apa.”
Mereka berdua akhirnya berangkat menuju tempat tujuan selanjutnya. Kenan membawa Karina karena ingin membiarkan gadis itu memilih sendiri konsep pernikahan seperti apa yang ia inginkan. Meskipun pernikahan ini hanya kontrak satu tahun, tapi hati nuraninya tetap merasa bersalah karena merenggut impian sekali seumur hidup dari gadis itu.
“pilih sesuai keinginanmu.”
“keinginanku?”
“iya.”
“aku bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan.” Gumamnya sambil membuka setiap halaman kertas yang ada di tangannya.
Tatapan matanya tertuju ke sebuah dekorasi sederhana namun elegan di pinggir pantai. Kenan menyadari ke mana arah tatapan mata Karina lalu tersenyum dan menunjuk gambar tersebut.
“kami ambil yang ini, untuk diskusi selanjutnya anda bisa menghubungi calon istri saya.”
“baik pak.”
“ayo pulang.”
“iya.”
Tidak terasa hari pernikahan yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Selama menyiapkannya, Kenan melihat banyak sisi baru dari Karina yang sebelumnya tidak ia tahu. Selain pekerja keras dan bisa diandalkan, Karina merupakan sosok yang ceria dan banyak bicara. Ia juga orang yang baik hati dan ramah kepada siapapun.
Di hari pernikahannya ini, ada pikiran terbersit di kepala Kenan saat ia sedang mengucapkan janji suci pernikahan. Jika di dunia ini hanya tersisa Karina sebagai satu-satunya wanita, dirinya tetap bisa menikahinya menjadikannya pendamping hidup yang sesungguhnya.
Kenan mencium bibir Karina di depan seluruh tamu undangan yang hadir. Kedua pasangan itu terlihat seperti pasangan seumur hidup bagi para tamu. Semua orang bisa merasakan cinta yang tulus dari keduanya membuat mereka tersenyum bahagia lalu bertepuk tangan dengan meriah.
Kenan melepas ciumannya sambil terus menatap lekat ke arah Karina. Wajah keduanya sedikit memerah karena keintiman singkat yang baru saja terjadi. Sementara itu, Devano dan kedua orang tua Kenan bisa menghembuskan nafas lega mereka saat melihat keduanya begitu saling mencintai. Kekhawatiran mereka sepertinya hanya sesuatu yang sia-sia saja.