My Heart For You

My Heart For You
2. Terjebak



Karina melihat tangannya yang kini dibalut perban. Selama beberapa hari, tangannya dilarang terkena air hingga perbannya dilepas dan ia juga diminta untuk beristirahat. Karina langsung pulang ke rumah setelah urusannya di rumah sakit selesai.


Sesampainya di rumah, Karina hanya mendapati ruangan yang kosong dan gelap. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tiba-tiba ia merasa tubuh dan hatinya begitu lelah. Di saat seperti ini, seharusnya rumah adalah tempatnya bersandar. Tempat terbaik untuk menyembuhkan lelah hatinya. Tapi kenyataannya rumahnya juga salah satu tempat yang membuatnya lelah.


Sementara itu, Kenan saat ini tengah duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Wajahnya datar seperti biasa dan cenderung terlihat tidak suka berada di rumah tersebut. Ia bisa menebak apa yang orang tuanya ingin katakan jika sampai memanggilnya pulang ke rumah.


“kapan kamu akan menikah?” tanya sang ibu dengan penuh harap.


“usiaku baru dua puluh delapan tahun bu, masih terlalu muda untuk menikah.”


“usia kamu itu sudah pas untuk menikah.”


“lagipula calonnya juga nggak ada.”


“makanya ibu jodohkan kamu sama anaknya teman-teman ibu, tapi malah ditolak semua.”


“ya karena aku belum siap nikah.”


“kenapa sih? Kamu sudah cukup dewasa untuk membimbing seorang perempuan, kamu juga mapan jadi bisa memberi nafkah kepada istrimu nanti.”


“nggak semudah itu bu.”


“sudah bu, biarkan Kenan menentukan jalannya sendiri.” Sang ayah mencoba melerai ibu dan anak yang selalu berdebat setiap bertemu.


“ayah selalu begini makanya Kenan tidak cepat-cepat menikah.”


“loh kenapa jadi ayah yang salah?”


“ya ini semua salah ayah.”


Kenan menghela nafasnya melihat sang ibu. Hingga saat ini, ia tidak menginginkan wanita lain untuk mengisi hidupnya. Karena dirinya memang tidak membutuhkan hal tersebut untuk saat ini.


Setelah menyantap makan malam bersama orang tuanya, Kenan pulang ke rumah pribadinya. Ia menolak ibunya yang berkali-kali memintanya untuk tetap tinggal.


Keesokan harinya, Kenan langsung menuju ke hotel. Di sana, sekertaris dan asistennya sudah menunggu dirinya. Akan ada pembangunan untuk mengembangkan hotel. Beberapa fasilitas akan ditambahkan seperti gym dan tempat bermain anak. Kenan memutuskan untuk mengawasi sendiri setiap prosesnya hingga selesai, karena sebagian besar ide tersebut berasal dari dirinya.


“Angga, malam ini saya menginap di sini.” Ucapnya kepada asisten kepercayaannya.


“baik pak, akan saya siapkan kamarnya."


“setelah itu kamu boleh pulang.”


“baik pak.”


Kenan berjalan mengelilingi hotelnya. Kakinya membawanya menuju restoran hotel yang ada di lantai satu. Perutnya merasa lapar saat mencium aroma makanan yang disajikan untuk para tamu yang menginap di hotel. Akhirnya ia duduk di salah satu meja yang kosong dan memesan makanan. Ia akan menganggap ini sebagai makan malam karena hari sudah sore.


Selesai menyantap makanannya, Kenan bangkit dan kembali ke kamarnya. Ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol untuk menuntup pintu lift, tapi akhirnya ia menahan pintu lift agar tidak tertutup. Kenan melihat seorang petugas kebersihan terburu-buru mengejar lift yagn hampir tertutup.


“terimakasih.” Ucapnya setelah masuk ke dalam lift.


Sejak gadis itu masuk, pandangan Kenan tertuju kepada lengan sang gadis yang terbalut perban.


“kamu hari ini bekerja?”


“eh?” Karina menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya dan ia baru menyadari kalau pria itu adalah bos besar.


“maaf pak saya tadi tidak sopan.”


“kenapa kamu hari ini bekerja?”


“kalau tidak bekerja nanti gajinya dipotong.”


Kenan mengangkat alisnya karena ini pertama kalinya mendengar hal semacam ini di hotel miliknya.


“kenapa begitu?”


“petugas kebersihan di sini dibayar per jam, jadi gajinya dibayarkan sesuai jam kerjanya. Kalau tidak bekerja hanya karena luka kecil begini kan sayang uangnya pak. Bapak orang kaya mana mungkin ngerti sama yang beginian.” Ujar Karina.


Kenan semakin tinggi mengangkat alisnya setelah mendengar penuturan gadis itu. Baru pertama kali ini ia bertemu dengan gadis seberani dirinya.


Tiba-tiba lift terguncang dan berhenti begitu saja. Kenan menekan tombol buka tapi tidak berfungsi. Lalu ia menekan tombol panggilan darurat dan terdengar suara yang mengatakan kalau lift mengalami kerusakan. Kenan diminta untuk menunggu sampai bantuan datang.


Setelah mendengar itu, Kenan menyandarkan tubuhnya lalu melirik ke arah Karina yang terlihat tenang. Rasa ingin tahunya tiba-tiba begitu besar tentang gadis di sampingnya.


“liftnya rusak.”


“aku tahu, tadi sudah dengar.” Jawabnya dengan santai.


Kenan manggut-manggut setelah mendengar jawaban Karina.


“kamu tidak takut?”


“kenapa takut, di sini ada bapak.”


Kenan mematung saat mendengar ucapannya. Gadis di sampingnya begitu mempercayai dirinya hingga.


“bagaimana kalau mereka hanya menolongku?”


“bapak tidak mungkin mengabaikan saya, waktu itu untuk hal remeh saja bapak mau membela saya, apalagi untuk sekarang yang menyangkut nyawa seseorang. Bapak tidak mungkin pergi begitu saja kan?”


“namamu siapa?”


“Karina.”


“usia?”


“dua puluh dua tahun.”


“pendidikan?”


“baru beres kuliah.”


“tinggal sama orang tua? Atau...”


“pak, saya sedang diwawancara ya?”


“hah?”


“bapak nanya kayak orang lagi wawancara.”


“hahaha.”


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Kenan tertawa. Dan kejadian langka itu terjadi hanya karena seorang petugas kebersihan bernama Karina.


"pak, saya boleh bertanya?"


"silahkan."


"kenapa waktu itu bapak membela saya dan mengusir pelanggan? perusahaan bapak kan bergerak di bidang jasa, tidak seharusnya memperlakukan pelanggan bapak seperti itu."


"apa kamu sedang mengajariku apa yang harusnya aku lakukan?"


"tidak bukan begitu maksud saya tapi..."


"wanita itu bersikeras mempermalukan karyawanku, tentu saja aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi."


"wahh... baru kali ini saya bertemu atasan seperti bapak." decak kagum keluar dari bibir Karina.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dari luar. Sepertinya orang-orang sudah datang untuk membantu mereka berdua keluar. Benar saja, tidak lama kemudian, pintu terbuka. Orang-orang dari luar membukanya secara paksa demi bisa mengeluarkan Kenan dan Karina.


Karena lift berhenti di antara lantai empat dan lima, cukup sulit untuk mengeluarkan mereka berdua. Kenan meminta mereka untuk mengeluarkan Karina terlebih dahulu. Ia membantu mendorong kaki gadis itu dari dalam lift sementara petugas penyelamat menariknya ke atas dari luar.


Setelah Karian keluar, lift kembali berguncang membuat Kenan terjatuh. Lalu ia langsung bangkit dan mencoba keluar dibantu oleh petugas penyelamat. Sesaat setelah Kenan berhasil keluar, lift tiba-tiba meluncur bebas ke lantai satu dan suara dentuman yang sangat keras terdengar di telinga mereka.


Semua orang yang ada di sana menghela nafas lega karena berhasil mengeluarkan mereka berdua tepat pada waktunya. Kenan melihat Karina yang wajahnya sudah seputih kertas. Gadis itu terlihat begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


“Karina.” Kenan memanggil gadis itu dengan pelan, tapi yang dipanggil tidak merespon.


“Karina.”


Kenan memanggil lagi sambil menepuk bahu gadis tersebut.


“ya.”


“kamu baik-baik saja?”


“saya baik-baik saja.”


Kenan menelepon bagian resepsionis untuk dibukakan kamar di lantai lima karena lift tidak berfungsi. Ia tidak mungkin membawa Karina naik ke lantai sepuluh dengan tangga.


“minum ini dan tenangkan dirimu.”


Kenan memberikan gelas berisi air putih hangat kepada Karina.


“terimakasih.”


“sudah lebih baik?”


Karina mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kenan.


“kamu kenapa kelihatannya sangat terkejut padahal tadi di dalam lift baik-baik saja.”


“itu, aku teringat dengan kenangan masa lalu.”


“apa itu ingatan buruk?”


“iya, suaranya sangat keras sama seperti tadi, suaranya masih terdengar sampai sekarang.”


Karinya menutup kedua telinganya dan menundukkan kepalanya. Diam-diam air mata mengalir dari kedua matanya. Kenan menelepon dokter keluarganya untuk datang dan memeriksa kondisi Karina.


Ibunya di rumah terkejut saat mendengar terjadi kecelakaan di hotel dan putranya memanggil dokter keluarga. Rasa cemas langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia bergegas menuju hotel untuk melihat kondisi putranya. Tapi sesampainya di hotel, ia menemukan sesuatu yang menarik.


“Kenan, dia siapa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah Karina yang duduk di tepi kasur bersama dengan putranya.


“ibu? Kenapa ibu bisa masuk ke sini?”