My Heart For You

My Heart For You
8. Pertunangan



Sesuai permintaan Devano, Karina mencoba untuk mengatur pertemuan antara adiknya dengan Kenan.


Tanpa ia sangka, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu begitu mudah menerima permintaan darinya. Kenan langsung menyetujui permintaan Karina untuk mengenalkannya dengan Devano.


“dia adikmu itu artinya dia juga akan menjadi adik iparku.” Ucapnya saat menyetujui permintaan Karina.


Ada rasa senang tersendiri di dalam diri Karina saat melihat Kenan tahu cara menghargai satu-satunya keluarga Karina. Mereka berdua bertemu di kafe dekat kampus Devano dua hari sebelum hari pertunangan.


Devano meneliti penampilan Kenan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian ia mendekatkan tubuhnya ke meja dan melihat Kenan dari jarak yang lebih dekat.


“kenapa kamu mau menikahi kakakku?”


“apa aku harus menjawabnya?”


“tentu saja, jawabanmu menentukan apakah pernikahan kalian akan berlangsung atau batal.”


“meskipun sebenarnya itu tidak berpengaruh, tapi aku akan menjawabnya.” Ucap Kenan membuat Devano sedikit mengerutkan alisnya.


Calon kakak iparnya ternyata sangat percaya diri bisa mendapat restu darinya apapun yang terjadi.


“aku mencintainya, bukankah itu cukup?”


“tapi kamu tidak bisa memberi makan kakakku hanya dengan cinta.”


Kenan diam sebentar lalu mengeluarkan kartu namanya. Awalnya ia pikir Devano sudah mengetahui latar belakang dirinya, tapi sepertinya pria itu tidak mengetahui apapun.


“kamu pemilik hotel?”


“iya.”


“tidak, kamu tidak bisa menikah dengan kakakku. Kamu terlalu berbeda.”


Kenan merasa tidak paham dengan pemikiran pria di depannya. Dirinya adalah orang kaya dan tidak hanya bermodalkan kata cinta saja, tapi malah penolakan yang didapatnya.


“tapi kamu tidak memiliki hak untuk menentukan pernikahanku, Karina sudah menyetujuinya.”


“apa yang kamu tawarkan kepada kakakku?”


“menurutmu kakakmu orang seperti itu?”


Kenan melempar pertanyaan yang mampu membuat Devano langsung bungkam. Kakaknya tidak mungkin menikah hanya karena ditawarkan sesuatu, ia tahu kakaknya memiliki harga diri yang tinggi.


“ini terlalu sulit untuk orang seperti kami, kamu terlalu berbeda dan kakakku pasti akan terluka nantinya.”


“membuatnya terluka tidak ada di dalam janjiku terhadapnya.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Kenan berdiri dan hendak pergi karena menurutnya pertemuan kali ini dengan calon adik ipar sudah cukup. Ia tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu lagi di sana karena itu tidak ada gunanya di masa depat. Pernikahan yang akan mereka jalani adalah sebuah hubungan kontrak.


“tolong.”


Langkah kaki Kenan terhenti saat mendengar permintaan Devano.


“kakakku sudah terlalu lama menderita, kalau nanti kamu sudah tidak menginginkannya lagi, tolong kembalikan dia kepadaku tanpa menyakitinya.”


Kenan memalingkan wajahnya tanpa menjawab permintaan Devano. Ada perasaan rumit di dalam hatinya saat mendengar permintaan seperti itu datang kepadanya.


Hari pertunangan akhirnya tiba juga. Pertunangan ini hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa tamu penting. Karina hanya didampingi oleh Devano tanpa keluarga pamannya. Ia masih belum memberitahu paman dan bibinya mengenai pernikahannya ini. Karina khawatir paman dan bibinya akan menyulitkan keluarga Kenan jika tahu kalau mereka adalah orang kaya.


Acara pertunangan berjalan lancar, setelah itu semua orang menikmati pesta sederhana yang sudah disiapkan. Karina dan Kena menerima ucapan selamat dari beberapa tamu undangan dari keluarga Kenan. Ia juga dikenalkan ke beberapa kolega Kenan yang terlihat seperti orang penting.


“halo nak Devano, ini pertemuan pertama kita ya?”


“halo tanten, om.” Devano menyapa dengan sopan orang tua dari Kenan.


“kami tidak tahu kalau Karina memiliki adik yang tampan sepertimu.”


“tante terlalu berlebihan memuji saya.”


“apa hanya kamu keluarganya?”


Devano diam menimbang kalimat apa yang harus ia lontarkan sebagai jawaban.


“kami memiliki paman, tapi aku melarang kakak untuk mengundangnya.” Ucap Devano.


“kenapa?”


“sama seperti kisah Cinderella.” Devano mengatakan kalimat itu secara spontan saat melihat kakaknya sedang menyapa tamu bersama dengan Kenan.


Orang tua Kenan saling berpandangan satu sama lain. Hal itu berhasil memicu rasa penasaran yang sebelumnya mereka pendam. Mereka ingin pelan-pelan mengenal menantunya, tapi sepertinya lebih cepat mengetahuinya dari orang lain. Terlalu banyak hal yang belum mereka ketahui tentang kehidupan Karina.


Acara pertunangan berakhir saat malam sudah larut. Devano sudah kembali lebih dahulu karena gerbang asrama kampusnya ditutup pukul sepuluh malam. Sementara itu, Karina sudah terlelap di kamar tamu sebelum menghapus riasan dan mengganti pakaiannya.


Ia berniat merebahkan tubuhnya sebentar karena punggunya terasa seperti hampir patah. Tapi ia malah langsung tertidur begitu saja. Karina terbangun saat suara ketukan pintu terdengar samar di telinganya. Dengan langkah gontai, ia membuka pintu dan melihat Kenan berdiri di depan pintu.


“ada apa?”


“kamu belum bersih-bersih?”


Karina melirik penampilannya yang masih sama seperti sebelumnya.


“ketiduran.”


“ini.” Kenan mengulurkan sebuah map berisi dokumen kepada Karina.


Karina hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa berniat meraih map tersebut.


“sudah malam, tidak bisakah kita membahas hal lainnya besok pagi?”


“aku ke sini bukan untuk membahas pekerjaan tapi memberikan ini untukmu.”


“apa ini?”


“anggap saja uang muka sebelum pernikahan.”


“apa maksudnya?”


“aku akan menjelaskannya besok pagi karena hari sudah larut. Silahkan beristirahat.” Kenan mengembalikan kata-kata Karina yang tadi dilontarkan kepadanya.


Karina kembali masuk ke dalam kamar dan melemparkan map tersebut ke atas ranjang lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia bernafas lega setelah mengganti gaunnya dengan kaos oblong dan celana diatas lutut. Saat akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, Karina melirik dokumen tadi lalu menyimpannya di dalam lemari. Ia tidak berminat sama sekali dengan apa yang baru saja diberikan oleh Kenan.


“aku akan mengurusnya besok.” Gumamnya lalu kembali terlelap.


Keesokan harinya, Karina terbangun pukul lima pagi secara otomatis karena kebiasaannya sejak kecil. Karina mengucek matanya yang terasa masih berat lalu beranjak menuju kamar mandi. Setelah merasa segar, Karina keluar dari kamar menuju dapur.


Beberapa orang terlihat sudah mondar-mandir di dapur. Mereka otomatis menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan saat melihat Karina memasuki area dapur.


“selamat pagi nona.”


“pa..gi.” Karina merasa canggung dengan perlakuan mereka terhadap dirinya.


“ada yang nona butuhkan?”


“apa yang sedang kalian lakukan?” karina bertanya sambil mendekatkan diri ke arah para pelayan.


“kami sedang menyiapkan sarapan karena tuan besar selalu sarapan pukul enam pagi.”


“sepagi itu?”


“sudah menjadi kebiasaan di rumah ini karena tuan besar orangnya sangat sibuk.”


Karina mengangguk paham lalu mendekat ke arah pendingin makanan. Ia memeriksa bahan makanan yang tersedia di dalamnya lalu tersenyum senang. Karina mengikat rambutnya asal lalu mulai mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.


“eh, apa yang sedang nona lakukan?”


“apa tuan besar memiliki menu khusus yang harus disiapkan?”


“ti..dak ada.”


“kalau begitu biar aku yang memasak.”


“tapi nona.”


“jangan khawatir, aku pandai memasak.”


“bukan begitu, tapi ini tugas kami.”


“aku ingin memasak untuk mertuaku, apa itu tidak diperbolehkan?”


“tidak, silahkan nona. Kami akan membantu nona.”


“tidak perlu, aku bisa sendiri. Kalian istirahat saja.”


Karina mulai mencuci bahan-bahan yang ia temukan lalu memotongnya. Tangannya begitu lihai dalam memasak karena sudah menjadi rutinitasnya sejak masih belia. Wangi makanan menguar dari wajan memenuhi setiap sudut dapur.


Dengan sedikit bersenandung, Karina mulai menuangkan makanannya ke atas piring lalu menatanya di atas meja makan. Ia tersenyum melihat hasil karyanya sendiri.


“menantu ibu sedang apa di dapur pagi-pagi begini?”


“eh tante.”


“panggil ibu dong, masa tante terus.”


“ibu.”


“wahh kamu yang masak ini semua?”


“iya tan, eh bu.”


“wanginya enak, kayaknya rasanya juga enak.”


“dicoba dulu bu.”


“padahal ini masih pagi buta loh, kamu harusnya istirahat saja di kamar.”


“aku ingin memasak untuk ibu dan ayah.”


Wanita paruh baya itu menatap Karina dengan tatapan mata yang teduh lalu menarik kursi di sampingnya dan meminta Karina untuk duduk. Ia mengambilkan nasi beserta lauk pauknya ke atas piring lalu meletakkannya di depan Karina.


“makanlah, temani ibu makan. Ayah sama Kenan sekarang masih tidur, mereka sepertinya kelelahan.”


“siapa bilang ayah tidur? Mana bisa tidur kalau ada aroma yang begitu enak dari dapur.” Ucap Ayah Kenan yang tiba-tiba muncul di ruang makan dengan penampilan khas baru bangun tidur.


“tumben ini aroma masakannya harum sekali tidak seperti biasanya.”


“Karina yang masak.” Sahut sang istri.


Tidak lama kemudian, Kenan ternyata ikut menyusul mereka ke ruang makan dan ikut sarapan bersama. Di tempat itu, Karina merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Karina jadi mengetahui sifat dingin Kenan memang tidak hanya saat berada di luar rumah tapi juga saat di rumah bersama orang tuanya. Tidak ada senyum atau kata-kata apapun yang keluar dari bibir Kenan. Karina tiba-tiba teringat dengan Devano, kalau saja adiknya berada di sini juga, dia pasti akan bahagia bisa merasakan keluarga seperti ini.


Tiba-tiba Karina merasa kepalanya pusing membuat nafsu makannya hilang.


“kenapa nak?” tanya Ibu Kenan saat melihat Karina memegang kepalanya.


“hanya kelelahan, setelah istirahat sebentar juga sembuh.”


“ya sudah kamu istirahat saja.”


Karina tersenyum canggung lalu beranjak dari meja makan menuju kamar tamu yang ditempatinya. Sudah lama sejak ia sering merasa pusing dan mual. Saat pertama kali, ia sempat memeriksakan diri ke dokter dan ternyata itu hanya karena asam lambungnya naik.


Karina memiliki pola hidup yang tidak terkontrol sejak kecil. Makan makanan sisa dari pamannya dan sering tidak makan karena jatahnya ia berikan untuk sang adik. Bekerja keras membantu sang bibi disamping ia harus berprestasi di sekolahnya agar mendapat beasiswa. Selain pola hidup tidak sehat, dokter mengatakan kalau stress berlebihan juga bisa mempengaruhi kondisi kesehatannya.


Sejak saat itu, Karina tidak pernah memeriksakan dirinya lagi ke dokter karena menurutnya penyebabnya pasti sama saja yaitu pola hidup dan stress. Tidak ada gunanya pergi ke dokter karena hidupnya tidak bisa ia ubah begitu saja. Ditambah sekarang ia hanya memiliki waktu satu tahun di luar kekangan keluarga sang bibi.


Kalau sampai dalam satu tahun ini ia tidak bisa memiliki kehidupannya sendiri, maka ia terpaksa harus kembali ke rumah yang bagaikan neraka untuknya.