My Heart For You

My Heart For You
1. Pertemuan



Rintik hujan turun membasahi bumi membuat suhu dingin terasa semakin menusuk. Sebagian orang masuh bergelut dengan mimpi di balik selimut hangatnya. Sementara sebagian lagi sudah ada yang beraktivitas melawa rasa dingin. Seperti yang dilakukan Karina setiap harinya.


Jika dongeng Cinderella itu nyata, maka di kehidupan ini mungkin Karina lah Cinderella tersebut. Tapi sayangnya itu hanyalah khayalan dimana seorang pangeran mencintai seorang wanita miskin.


“Karina! Kaos kakiku di mana?” teriak sang sepupu dari kamarnya. Memanggil namanya mengabaikan kesopanan, mengingat usia Karian terpaut lima tahun lebih tua darinya.


“Ada di laci kedua di dalam lemari.”


“Karina! Di mana makanannya? Saya harus berangkat sekarang.”


“makanan sudah siap paman.”


Dengan kecepatan yang sudah terlatih, Karina menyajikan masakan buatan tangannya di atas meja makan.


“Karina, bukannya kemarin kamu sudah gajian?”


“iya bi, sudah ditransfer ke rekening bibi.”


“hanya delapan ratus ribu?”


“yang dua ratus untuk belanja keperluan rumah bi.” Ujar Karina mengingatkan bibinya kalau kebutuhan rumah ini ialah yang harus menutupnya.


“seharusnya kamu mencari pekerjaan dengan gaji tinggi, sia-sia kami menyekolahkanmu sampai kuliah. Gaji satu juta tidak cukup untuk satu bulan.”


Tenaganya sudah dikuras untuk melayani mereka, bahkan urusan ekonomi pun Karina harus menggunakan seluruh uang hasil kerja kerasnya. Padahal pamannya juga bekerja bahkan dengan gaji empat kali lipat lebih tinggi daripada gajinya.


“sabtu minggu besok kami mau liburan ke luar kota, kamu jaga rumah baik-baik.”


“ya bi.”


Karina menjawabnya dengan asal karena waku yang semakin siang dan ia harus segera berangkat kerja.


“apa kamu tidak suka?” tanyanya membuat Karina menghentikan aktivitas mencuci piring yang sedang ia lakukan.


“apa?”


“kamu tidak suka harus menjaga rumah sedangkan kami liburan?”


“tidak, mana mungkin begitu.”


“Bagus, kamu harus ingat pengorbanan kami membesarkan kamu, anggap saja kerja kerasmu saat ini digunakan untuk membayar kerja keras kami dulu.”


“iya bi.”


Sementara itu, di tempat lain dengan kondisi yang jauh berbeda dengan hidup Karina. Seorang pria baru saja terbangun dari tidurnya karena merasakan cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar melalui celah gorden. Pria bernama Kenan itu meregangkan tubuhnya lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Mengenakan jas mahal dilengkapi dengan jam tangan mewah, Kenan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.


Tidak perlu repot memasak makanan karena ada pembantu yang datang setiap pagi untuk memasakkan makanan dan mengambil pakaian kotor. Setelah menikmati sarapan pagi, ia bergegas berangkat ke kantor menggunakan mobil mewah miliknya.


“jadwal hari ini.” Tanyanya kepada sang sekertaris saat ia sudah sampai di lobi kantor.


“hari ini ada jadwal kunjungan ke hotel dan juga rapat setelah makan siang.”


“hmm, tukar jadwalnya, rapat baru ke hotel.”


“baik pak.”


Kenan masuk ke dalam lift yang diperuntukan khusus untuk dirinya. Bahkan sekertaris dan asistennya yang selalu bekerja di sampingnya tidak diperbolehkan menaiki lift khusus tersebut.


Di sisi lain, Karina juga baru sampai di tempat kerjanya. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam kafe kemudian menuju ke depan. Membersihkan dan menata meja kursi lalu mengubah tulisan di pintu menjadi ‘BUKA’.


Ada total delapan karyawan di kafe tersebut dengan sistem shift pagi dan malam. Masing-masing shift berisikan empat orang. Karina mendapat jatah shift pagi dan akan bekerja hingga pukul tiga sore.


Karyawan di tempat ini diambil dari mahasiswa yang membutuhkan pekerjaan paruh waktu, kecuali bagian kasir. Dengan gaji satu juta per bulan, itu cukup membantu untuk para mahasiswa. Tapi tidak dengan Karina, oleh karena itu ia harus bergegas pergi ke tempat lain setelah jam kerjanya berakhir.


Karina berjalan menuju ke halte bus terdekat yang akan mengantarnya ke tempat kerjanya yang lain. Waktu di dalam bus bisa ia gunakan untuk beristirahat sejenak. Karina tidak memakai sepedanya karena jarak dari rumah ke kafe cukup jauh dan semakin jauh lagi jarak dari rumah ke tempat selanjutnya. Meskipun harus merogoh sedikit uang, itu lebih efisien mengingat jadwal pulang dari kafe dan jadwal kerja di tempat satunya hanya setengah jam saja.


Karina masuk ke dalam sebuah hotel dan berjalan menuju ruangan yang berada di bagian paling belakang. Setelah mengganti pakaiannya, Karina bergegas menuju tempat penyimpanan peralatan kebersihan.


“Karina.”


“ya bu?”


“bersihkan lantai satu dan dua.”


“baik bu.”


Dengan cekatan, Karina mulai melakukan tanggungjawabnya untuk bersih-bersih. Saat sedang mengepel lantai, Karina sesekali harus terhenti sejenak karena ada orang yang lewat.


“Karina.” Atasannya memanggil membuat ia langsung memutar badan.


Tanpa sengaja gagang pel yang ia pegang mengenai seorang pengunjung yang sedang lewat di dekatnya. Kopi panas yang sedang dipegang terjatuh menyiram lengan Karian dan sedikit menyiprat ke pakaian wanita itu.


“akh.” Teriak pengunjung wanita tersebut.


“kamu tidak punya mata hah?”


“ma-maaf, maaf saya tidak sengaja.”


Karina mengabaikan rasa panas dan perih yang begitu menyengat di tangannya. Ia mengambil lap bersih untuk mengelap baju wanita tersebut tapi tangannya langsung ditepis begitu saja.


“kamu tahu bajuku ini harganya berapa? Gaji satu tahun kamu kerja di sini juga tidak bisa untuk membelinya.”


“saya minta maaf.”


Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di lobi. Atasan Karina yang tadi memanggil juga langsung menghampirinya. Wanita paruh baya itu juga menunduk minta maaf dan membantu dengan memberikan tisu.


“kami minta maaf atas kelalaian karyawan kami, kami akan mengganti kerugian anda.” Ucapnya dengan ramah.


“aku tidak butuh ganti rugi, berlutut dan minta maaf.” Perintahnya kepada Karina.


“kami sudah minta maaf dan karyawan kami juga terluka, saya harap bisa diselesaikan sampai di sini saja.”


“dia hanya terluka sedikit, tapi baju saya sudah tidak bisa dipakai lagi.”


“karena itu kami akan mengganti kerugiannya.”


“tapi aku mau dia berlutut di depanku dan minta maaf, setelah itu aku akan melepaskannya dan tidak akan menuntut ganti rugi.” Ucapnya dengan penuh kesombongan.


Karina memegang lengan atasannya yang akan mengeluarkan kata-kata pembelaan untuknya. Ia menggelengkan kepala sebagai isyarat kepada wanita paruh baya itu untuk tidak membelanya lebih jauh. Karina menelan semua harga dirinya dan mulai menekuk lututnya secara perlahan.


“kalau kamu berlutut, silahkan keluar dari hotel ini dan jangan kembali lagi untuk bekerja.”


Suara bariton seorang pria terdengar dari belakang Karina. Karian langsung menoleh dan melihat pria berjalan menuju ke arahnya diikuti oleh beberapa orang. Ia kembali berdiri tegak dan menatap heran ke arah pria tersebut.


“tidakkah kamu berfikir kalau kamu berlutut kamu juga akan menyeret hotel ini turun ke bawah?”


“siapa kamu?” wanita itu bertanya dengan nada tinggi.


“saya Kenan, pemilik hotel ini.”


“pantas saja karyawannya kurang ajar, pemiliknya saja begini.”


Kenan memandang wanita di depannya dengan aura mengintimidasi.


“saya sudah melihat semuanya.”


“bagus kalau begitu, kamu seharusnya tahu apa yang harus dilakukan.”


“saya sangat tahu, Della tolong dibantu nona ini mengurus check out nya.”


“baik pak.” Atasan Karina yang sejak tadi membelanya langsung mengiyakan perintah Kenan.


“apa?”


“kami menawarkan ganti rugi tapi anda menolaknya, dan karyawan kami juga terluka karena kecerobohan anda.”


“dia yang ceroboh bukan saya.”


“di tempat yang seluas ini, kenapa anda memilih berjalan di dekat orang yang sedang bekerja?”


“apa?”


“akan kami ganti rugi untuk baju anda yang katanya tidak bisa dibeli dengan gaji setahun karyawan saya.”


“hotel ini benar-benar buruk.”


“kalau begitu jangan datang lagi kemari, kami sangat tidak mengharapkan kehadiran anda di sini.”


Kenan mengatakan semua itu tanpa tersenyum sedikitpun. Karina dan semua karyawan yang ada di sana terlihat sangat tertekan setiap mendengar ucapan bos mereka. Wanita tadi ditarik paksa oleh temannya untuk pergi agar berhenti berdebat. Sepertinya ia merasa malu karena mereka kini sudah menjadi tontonan orang.


Kenan melihat tangan Karina yang memerah.


“pergilah ke rumah sakit.”


“saya baik-baik saja.”


“kalau begitu berhenti bekerja saja.” Ujarnya lalu pergi begitu saja.


“mbak silahkan pergi ke rumah sakit sesuai perintah pak Kenan untuk mengobati tangannya, tagihannya akan dibayar perusahaan.”


“tapi...”


“ini akan dianggap kecelakaan kerja, jadi perusahaan yang bertanggungjawab.”


Karina hanya bisa mengangguk pasrah lalu mengikuti seseorang yang diperintahkan untuk mengantarnya ke rumah sakit.