
Masalah antara Kenan dan Karina akhirnya selesai, tapi pria itu terlihat masih gelisah. Bahkan terlihat lebih gelisah dibanding saat kesalahpahaman itu terjadi.
Perkataan ayahnya terus terngiang di kepalanya membuatnya merasa pening. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui Kiara karena gadis itu sering memberinya solusi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Sesampainya di rumah Kiara, Kenan langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian, seorang wanita membuka pintu dan menyambut Kenan dengan sopan.
“di mana Kiara?”
“non Kiara ada di ruang tamu pak.”
Kenan berjalan masuk ke dalam rumah dan menemukan Kiara yang sedang duduk di sofa. Langkahnya semakin cepat saat melihat kotak obat tergeletak di atas meja. Ia melihat tangan Kiara yang kini dibalut perban dengan rapih.
“apa yang terjadi?”
“kenapa kamu di sini Kenan? Tidak biasanya kamu tidak mengabariku dulu kalau mau ke sini.”
“aku membutuhkan saranmu, sebelum itu tolong ceritakan apa yang sudah terjadi.”
“aku hanya tersandung dan jatuh, tanganku tergores sesuatu.”
“seharusnya kamu diam saja di rumah, ini yang membuatku tidak tenang kalau meninggalkanmu sendirian.”
“oh ayolah aku bukan anak kecil dan ini hanya luka kecil.”
“mencegah lebih baik daripada mengobati. Bagaimana kalau kamu tinggal saja di rumahku.”
“itu tidak mungkin.”
“aku serius, kalau perlu kita menikah saja.”
Kiara terkejut dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Kenan.
“kamu gila, itu tidak mungkin.”
Kenan mendudukkan diri di sofa sebelah Kiara. Ia menggenggam tangan Kiara dan kembali mengutarakan pemikirannya tentang menikahi wanita itu.
“aku sudah menikah.”
“tapi suamimu kabur kan? Kamu bisa menikah denganku.”
“meskipun dia tiba-tiba menghilang dua tahun lalu, tapi secara hukum statusku masih istrinya. Aku wanita beristri.”
Kiara menjelaskan statusnya dengan tegas di hadapan pria itu. Pria yang sudah mengorbankan tiga tahun hidupnya untuk mengurus dirinya yang buta. Kiara menghela nafas lalu melepas genggaman tangan Kenan dari tangannya.
“Kenan, pernikahan adalah ikatan suci yang sakral. Kamu tidak bisa menikahi seseorang hanya karena merasa bersalah. Aku harap kamu ingat ini dan menikah dengan perempuan yang kamu cintai dan juga mencintaimu.”
“kamu tidak tahu apa-apa.” Kenan menundukkan kepalanya dengan lesu.
Selama bertahun-tahun ini ia selalu memperhatikan Kiara. Terlebih lagi semenjak ia mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kebutaan di kedua matanya. Kenan selalu siap sedia di samping Kiara bukan tanpa alasan. Selain karena rasa bersalah seperti yang wanita itu ucapkan, ada rasa lain di dalam hatinya yang selalu ia pendam sendiri.
“menikah bukan hanya tentang hidup satu atap bersama seorang wanita, setelah menikah hidupmu bukan lagi tentang dirimu sendiri.”
“selama itu kamu, aku bisa melakukan segalanya untukmu.”
Kiara kembali menghela nafasnya karena sifat keras kepala Kenan yang tidak ada duanya ini benar-benar menyusahkan. Entah apa yang ada di dalam kepala pria itu sampai mengusulkan ide gila.
“apa kamu mencintaiku?”
“ya.”
“sebagai seorang wanita?”
“...”
“lihat, untuk hal seperti ini saja kamu tidak bisa menjawab. Aku tahu kamu menyayangiku tapi bukan sebagai seorang wanita melainkan sebagai seorang adik.”
“tapi aku bisa hidup denganmu dan belum tentu bisa hidup bersama wanita lain.”
“sekarang pulanglah dan pikirkan dengan kepala dingin apa yang baru saja kamu katakan. Aku adik dari sahabat yang paling kamu hargai dan statusku saat ini sudah menikah. Pernikahan bukan solusi dari segala permasalahan.”
“kalau begitu carilah wanita yang siap menikah denganmu, tapi jangan sekali-kali kamu menikahi wanita dengan pola pikirmu yang sekarang, aku jamin wanita itu akan menderita selama hidup denganmu.”
Kiara berdiri dan berjalan pelan menuju ke kamar dengan dituntun oleh tongkat yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir.
Sementara itu, Karina saat ini tengah duduk di sebuah taman dengan mata yang fokus tertuju ke ponselnya. Ia masih merasa bermimpi bisa mendapat uang sebanyak itu hanya dalam waktu beberapa jam. Lalu ia memindahkan uang yang baru saja masuk ke rekeningnya ke dalam rekening pribadinya yang lain. Rekening yang selama ini selalu ia rahasiakan dari keluarga pamannya.
Sejak ditinggalkan oleh orang tuanya, Karina berfikir pamannya akan menjadi keluarga barunya. Tapi semua itu salah besar karena perlakuan mereka terhadap dirinya berbeda jauh dari perlakuan orang tuanya terhadap dirinya. Sejak kecil ia ditugaskan untuk mengurus urusan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh sang bibi. Lalu setelah besar, ia baru tahu alasan kenapa pamannya bersikeras mengasuhnya.
Alasan klise yang tidak jauh dari kata uang. Orang tua Karina meninggalkan uang asuransi yang jumlahnya cukup besar. Tapi uang itu hanya bisa dicairkan oleh Karina setelah ia berusia tujuh belas tahun. Lalu saat usianya sudah menginjak tujuh belas tahun, paman dan bibinya langsung merampas uang itu tanpa memberikan sepeserpun kepadanya dengan alasan sebagai balasan karena mereka sudah merawatnya sejak kecil. Tapi satu fakta kembali terungkap bahwa biaya yang mereka gunakan untuk merawat dirinya berasal dari harta orang tuanya yang ditinggalkan sebagai warisan.
Setelah selesai mentransfer uangnya, Karina tersenyum karena tabungannya bertambah lumayan banyak. Tinggal mengumpulkan sedikit lagi dan ia bisa segera keluar dari rumah itu. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponselnya. Karina membuka pesan itu dengan penuh tanda tanya karena nomornya bukan dari daftar kontak yang tersimpan di ponselnya.
“siapa?”
Isi pesan itu mengatakan kalau si pengirim ingin bertemu dengannya di hotel tempatnya bekerja, saat ini juga. Karina berfikir keras siapa yang mungkin mengirimkannya pesan itu, tapi tidak ada satu orangpun yang terlintas di kepalanya. Setelah berfikir sebentar, Karina akhirnya bergerak menuju hotel untuk menemui orang itu.
Karina berdiri dengan kebingungan setelah sampai di lobi hotel. Tidak ada petunjuk lain tentang ke mana ia harus menemui orang itu atau bagaimana ciri-cirinya.
“Karina.” Seseorang memanggilnya dari arah tangga restoran.
“Pak Kenan?”
“saya sudah menunggu kamu.”
“bapak yang mengirimi saya pesan?”
“iya.”
Kenan berjalan lebih dulu ke arah restoran lalu diikuti oleh Karina. Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja VIP yang ada di sana. Kenan menatapnya dengan serius membuat Karina tanpa sadar menundukkan kepalanya.
“aku butuh bantuanmu lagi.”
“bantuan apa lagi?”
“untuk kali ini, saya akan memberikan semua yang kamu mau.”
“kalau begitu, ini pasti bantuan yang lebih besar daripada kemarin kan?”
Kenan menganggukkan kepalanya karena tebakan Karina tepat sasaran. Sekeras apapun ia berfikir, nama Karina yang selalu muncul di kepalanya. Karena itu, ia memutuskan untuk memanggilnya dan berbicara secara langsung.
“menikahlah denganku.”
Karina merasa baru saja berhalusinasi. Pria dengan jabatan CEO yang duduk di depannya baru saja memintanya untuk menikah dengannya.
“Bapak gila?”
Ucapan spontan yang keluar dari mulut Karina membuatnya merasa tidak nyaman. Dirinya sudah disebut gila oleh dua orang wanita pada hari yang sama.
“maaf pak, kali ini saya tidak bisa membantu.”
“setelah kamu menikah dengan saya, saya jamin hak kamu tidak akan saya langgar. Saya juga akan membantumu keluar dari rumah pamanmu, pernikahan kita juga tidak akan berlangsung lebih dari satu tahun.”
Karina yang hendak berdiri langsung mengurungkan niatnya. Kontrak nikah selama satu tahun dengan jaminan keluar dari rumah pamannya adalah penawaran yang sungguh menggiurkan. Dalam jangka waktu satu tahun itu ia bisa bekerja keras dan membeli rumahnya sendiri. Setelah perceraianpun ia tidak akan lagi menginjakkan kakinya di neraka itu.
“aku akan memikirkan tawaran Bapak dengan baik, mari bertemu tiga hari lagi sambil membawa persyaratan masing-masing.”
“persyaratan?”
“sudah jelas ini adalah tawaran kontrak, jadi saya memiliki persyaratan saya sendiri begitu juga Bapak agar kesepakatan bisa tercapai.”
“jadi kamu menerimanya?”
“Bapak bisa tahu nanti apakah saya akan menandatangani kontraknya atau tidak.”
“baiklah, saya tunggu keputusanmu.”
Karina berdiri diikuti oleh Kenan lalu kedua orang itu berjabat tangan. Setelah itu, ia pergi keluar terlebih dahulu dari restoran tersebut dan pulang ke rumah.