
Setelah turun dari mobil, Kenan langsung menunjukkan setiap sudut rumahnya kepada Karina. Wajah Karina terlihat masih pucat dan tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kenan.
“ini kamar kita.”
“aku ingin istirahat sekarang, bisakah kamu keluar dulu?” ucap Karina yang terlihat begitu kelelahan.
Karina menjadi seperti ini saat dalam perjalanan pulang ke rumah dari gedung tempat pernikahan mereka diselenggarakan. Jalanan di kota hari ini begitu lengang membuat kendaraan yang melintas bisa melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tidak berbeda dengan mobil yang digunakan oleh Kenan dan Karina.
Saat mendekati perempatan jalan, tiba-tiba sang sopir menginjak rem secara mendadak membuat Kenan dan Karina terbentur kursi depan. Suara benturan yang begitu keras terdengar dari luar mobil mereka. Tiga orang yang ada di dalam mobil itu langsung diam mematung. Kejadian itu terjadi begitu cepat di depan mata mereka dan wajah Karina saat itu terlihat memucat. Tubuhnya bergetar seperti orang yang sedang ketakutan dan keringat dingin membasahi punggungnya.
Kenan hanya berfikir kalau Karina seperti ini karena terkejut setelah melihat kecelakaan di depan matanya secara langsung. Ditambah mereka juga hampir menjadi korbannya jika sang sopir tidak langsung menginjak rem.
“istirahatlah, kamu pasti lelah.” Ucap Kenan lalu keluar dari kamar.
Ia masih memiliki pekerjaan yang tertunda karena mempersiapkan pernikahannya selama hampir satu minggu. Kenan harus segera menyelesaikan pekerjaan penting sebelum hari baru menyambut. Sekitar pukul sebelas malam, Kenan menutup dokumen terakhir lalu meregangkan tubuhnya. Kenan beranjak menuju kamar dan melihat Karina sudah tertidur pulas.
Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh lalu keluar dengan mengenakan celana pendek selutut tanpa mengenakan atasan. Kenan melempar asal handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut lalu langsung berbaring ke atas kasur yang sama dengan Karina.
Pria itu memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Karina yang tidur menghadap ke arahnya. Ia mengamati fitur wajah Karina yang begitu sempurna di matanya. Perlahan kantuk mulai menyerang tubuhnya yang sudah kelelahan hingga akhirnya ia pun jatuh terlelap di sisi Karina.
Sinar mentari pagi mengintip dari balik gorden membuat tidur Karina terusik. Ia mengerjapkan kedua matanya dan sedikit mengernyitkan dahi saat cahaya matahari menembus membuat silau. Setelah menyesuaikan netranya dengan cahaya di kamar, Karina akhirnya tersadar dari tidurnya. Ia tersenyum setelah merasakan tidur nyenyak semalaman. Apalagi ia sempat bermimpi tidur memeluk seorang pria. Ingatan akan mimpi itu membuat wajah Karina langsung merah merona.
“AAAKH.” Teriaknya saat menyadari sosok pria di dalam mimpinya adalah nyata.
“Kenapa dia tidur di sini? Apa aku yang salah masuk kamar?”
“jangan berisik.” Gumam Kenan membuat Karina langsung diam.
Kenan menarik lengan Karina membuat gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya.
“Tunggu! Apa yang kamu lakukan?”
“kenapa terkejut? Semalam saja kamu terlihat sangat menikmati memeluk tubuhku.” Ucapnya sambil menatap mata Karina.
Wajah Karina menjadi semakin merona dan berusaha melepaskan diri. Kenan terkekeh lalu melepas pelukannya dari tubuh Karina. Mengawali pagi dengan menggoda gadis seperti Karina membuat suasana hati Kenan sangat baik.
“sepertinya kamu terlalu nyaman sampai bangun kesiangan.”
Kenan menguap lebar lalu mendudukkan dirinya.
“jam berapa sekarang?” gumam Karina sambil mencari ponselnya yang entah ia letakkan di mana.
“ponselmu masih ada di tas.”
Karina mengarahkan pandangannya ke arah sofa yang ada di dekat jendela, tempat ia melemparkan tasnya semalam. Ia langsung bangun dan mengambil ponselnya. Begitu dinyalakan, notif pesan dan panggilan dari paman serta bibinya langsung memenuhi layar. Bukan pesan rindu layaknya keluarga melainkan sebuah pesan bak rentenir yang menagih hutang.
Karina mengabaikan semua pesan itu dan melirik ke sudut layar untuk memeriksa jam. Ia terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Seumur hidupnya, baru kali ini ia bangun pukul tujuh pagi.
“kenapa repot-repot lihat ponsel, di sana ada jam dinding, di nakas juga ada jam weker.”
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Karina kembali terkejut saat menoleh ke arah Kenan.
Kenan hanya mengerjapkan matanya bingung karena sejak tadi yang ia lakukan hanya duduk diam di atas kasur.
“semalam kita tidur satu ranjang dan kamu tidak pakai baju?” Karina bertanya dengan penuh curiga karena khawatir telah terjadi sesuatu tadi malam.
“hentikan pikiran kotormu, aku tidak mungkin sembarangan menyentuh wanita.”
Kenan beranjak dari atas kasur setelah menguap untuk yang kedua kalinya. Ia berjalan menuju dapur meninggalkan Karina yang masih syok dengan sambutan di pagi harinya dengan status seorang istri.
Setelah keluar dari kamar mandi, Kenan melihat Karina berdiri berkacak pinggang di depan pintu.
“ada apa?”
“kalau pisah kamar nanti ketahuan.”
“ketahuan siapa? Bukannya pembantu juga datang sekali seminggu.”
“kalau mau tahu, lihat saja ke dapur sana.”
Karina memicingkan matanya lalu berjalan keluar menuju ke dapur seperti apa yang dikatakan oleh Kenan. Ia terkejut melihat ada empat orang pelayan yang kini sedang bekerja. Dua orang sedang menyiapkan makanan dan dua lainnya sibuk kesana kemari membereskan rumah.
“sarapan dulu, kita bicara nanti.” Kenan membungkam seribu pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Karina.
“selamat pagi tuan, nyonya.”
“pagi.”
Meja makan yang cukup untuk menampung enam orang ini tiba-tiba saja membuat Karina merasa tertekan. Pernikahannya adalah kontrak tanpa ada rasa cinta, dan sekarang ia harus bersikap penuh kasih sayang kepada Kenan sejak pagi hari.
Kenan duduk di salah satu kursi dan menarikkan kursi di sampingnya untuk Karina. Mereka menyantap sarapan dalam hening. Karina terus berusaha menunjukkan rasa pedulinya kepada sang suami. Ia mengambilkan nasi hingga lauk pauk untuk Kenan.
“kenapa ada banyak pembantu di rumah?” tanya Karina begitu mereka masuk ke dalam kamar.
“ibu yang mengaturnya, aku baru tahu tadi malam.”
“jadi itu artinya kita harus benar-benar hidup layaknya suami istri sungguhan di rumah ini?”
“tapi suami istri sungguhan yang kamu maksud itu yang mana?” Kenan menatap lekat wajah Karina dan terus memajukan tubuhnya mendekati gadis itu.
Karina memalingkan wajahnya dan menahan dada bidang Kenan agar pria itu tidak terus maju ke arahnya.
“berhenti, di kontrak tertulis tidak boleh ada kontak fisik berlebih.”
“tapi itu bisa batal kalau kedua belah pihak setuju.”
“sudah kubilang berhenti!”
Kenan terkekeh lalu memundurkan langkahnya menjaga jarak dari Karina. Setelah itu, Kenan berjalan menuju ke lemari dan mengeluarkan koper miliknya dan juga milik Karina.
“kemasi bajumu untuk satu minggu.”
“kita akan berangkat bulan madu sore ini.”
“bulan madu? Tapi itu tidak ada di dalam kontrak.”
“hadiah dari ibuku.” Ucap Kenan sambil menunjukkan dua lembar tiket pesawat.
“sepertinya pasal kontrak yang sesungguhnya itu ibu kamu ya.”
Karina menggerutu pelan lalu berjalan ke arah lemari dan mulai mengemasi pakaiannya. Protes pun percuma karena Kenan tidak mungkin bisa membantah sang ibu. Karina hanya bisa menghela nafasnya berulang kali sebagai bentuk kekesalannya karena banyak hal yang berjalan diluar kesepakatan.
Kegiatan Karina terhenti saat tangan Kenan menyelipkan rambut karina ke belakang telinga. Kedua mata mereka terpaku satu sama lain membuat nafas Karina tercekat.
“anggap saja ini sebagai liburan biasa.”
Deg Deg Deg
Karina bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Ia langsung melepas kontak mata mereka dengan memalingkan wajahnya. Rona merah menghias seluruh wajahnya membuatnya tidak bisa mengangkat kepalanya ke arah Kenan.
“ada apa denganku?” gumamnya pelan setelah Kenan keluar dari kamar.
Karina merasakan debaran jantungnya lalu menangkup pipinya dengan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba saja ia merasa suhu ruangan menjadi jauh lebih panas dari sebelumnya meskipun suhu pendingin ruangan masih tetap sama.