My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 7



"Gue ga berani Wildan" pelototku kepada Bang Wildan yang terus menarik tanganku menuju kamar Papi.


"Papi ga akan marah. Abang jamin" ujarnya menyemangatiku. Aku menghela nafas pelan sambil menatap lantai. Bang Wildan bilang sejak kemarin Papi juga mengurung diri dalam kamar. Papi tidak masuk kerja tadi pagi. Aku tidak tau apa yang terjadi pada Papi, yang jelas rasa marah dan sakit masih terus menguasai diriku.


Pintu kamar Papi terbuka memperlihatkan Mami yang ingin keluar sambil memegang nampan.


"Gimana Mi? Papi masih belum mau makan?" Suara Bang Wildan membuatku ikut melihat ke arah makanan yang masih utuh diatas nampan.


"Belum" Mami menjawab lemah.


Terdengar helaan nafas dari Bang Wildan sebelum dia menatapku penuh harap. Aku mengangkat alis sebagai isyarat kenapa? Jangan kode-kodean denganku. Aku susah peka!


"Dek please. Papi butuh kamu" Bang Wildan memohon menggenggam jemariku.


Kualihkan pandangan ke arah Mami yang menatap ku sama seperti Bang Wildan. "Papi belum makan dari kemarin Dek" Kali ini Mami yang bersuara.


Aku sedikit kaget dengan pernyataan Mami barusan. Sebenarnya Papi kenapa sih? Kenapa ikut-ikutan mengurung diri dan tidak makan juga?


"Oke" Aku bersuara memutuskan sebelum menarik tangan Bang Wildan untuk masuk ke kamar Papi.


Aku membuka pintu dan perlahan masuk dengan tetap menggenggam tangan Bang Wildan. Takut jika Papi marah-marah lagi nanti aku bisa bersembunyi dibalik Bang Wildan.


Kulihat tubuh Papi yang meringkuk membelakangi kami. Setengah tubuhnya yang terbalut kaos putih tertutupi dengan selimut.


Aku mendekat dan hampir menyentuh bahu Papi saat kudengar sebuah isakan lirih. Bahu yang hendak ku pegang terlihat bergetar. Aku melirik Bang Wildan yang mengangguk seolah mengiyakan gerak ku.


Kusentuh bahu Papi pelan. Papi bergerak sesaat sebelum berbalik ke arahku. Aku membulatkan mata saat menyadari keanehan pada Papi. Ku sadari matanya menatap iba ke arahku. Ada lingkaran hitam yang terlihat jelas dimatanya. Hidung Papi memerah, kusadari ada linangan yang tak sengaja mengalir namun segera dihapus Papi.


Aku tak tau harus melakukan apa. Yang ku tau tiba-tiba aku sudah menunduk, merengkuh dan memeluk erat tubuh yang ada didepanku.


"Maafin Zeya Pi" aku bersuara mengeratkan dekapanku. Air mataku merembes cepat tanpa aba-aba. Kurasakan elusan tangan Papi di punggungku, ini membuatku semakin terisak. Aku sadar betapa aku sangat egois. Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang menyayangiku. Aku selalu mementingkan kesenangan diriku sendiri tanpa memperhatikan bagaimana keadaan mereka.


"Papi nangis?" Tanyaku setelah melepaskan pelukan dari Papi.


"Hah? Enggak kok" Jawab Papi buru-buru menghapus air matanya.


"Bohong" Tukasku tak percaya. Jelas-jelas ada linangan air mata yang kutangkap sebelum Papi menghapusnya tadi.


Papi terkekeh kemudian meminta ku untuk membantunya duduk. Bang Wildan mendekat dia membangun kan Papi lembut dan aku meletakkan bantal untuk sandaran dibelakang Papi kemudian mendudukkan diri ditepi kasur.


Aku jadi ingin bertanya kenapa Papi bisa sakit? Padahal kan Papi hanya tidak makan. Apakah efek tidak makan bisa membuat Papi selemah ini?


"Papi makan ya" Tawar Bang Wildan ikut duduk didekatku.


Aku mengangguk menyetujui usulan Bang Wildan. Jika karna tidak makan seharian Papi bisa selemah ini, aku benar-benar merasa sangat kurang ajar.


"Adek suapin. Ya kan Dek?"


Aku mengangguk cepat membenarkan perkataan Bang Wildan.


Butuh beberapa saat hingga akhirnya Papi menerima tawaran kami. Dengan wajah yang sumringah Bang Wildan  segera keluar kamar dan kembali dengan nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas air putih.


"Bukannya tadi Mami ada masak rendang ya? Ini kenapa lauk Papi sayur doang" Tanyaku kepada Bang Wildan. Papi pecinta rendang garis keras. Tidak mungkin Papi melewatkan makanan kesukaannya.


"Itu karna eum kata Mami, Papi kan udah gak makan dari kemarin, jadi untuk mencukupi nutrisi, Papi makan sayur aja dulu"


Aku ber oh sambil mengaduk-ngaduk makanan didepanku namun setelah itu keningku berkerut lagi  "Tapi ini kok nasik merah? Papi gak lagi diet kan?"


Aku tidak bertanya lagi dan mulai menyuapi Papi. Brokoli rebus yang dicampur dengan wortel dan buncis itu akhirnya habis juga. Ku rasa Papi memang lapar. Kasian Papi.


Bang Wildan membereskan piring dan gelas itu sebelum keluar dan aku memanfaatkan waktu itu untuk menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal sejak tadi.


"Papi sakit ya?" Tanyaku setelah meletakkan kotak tissue ke atas nakas.


"Siapa bilang?"


"Adek" Jawabku polos. "Kan Adek yang bilang tadi"


Papi terkekeh kemudian mengacak-ngacak rambutku. Aku tersenyum saja menerima perlakuan Papi. Aku mendekat kemudian memeluk Papi dari samping. Aku rindu Papi.


"Papi kenapa ngatain Adek manja kemaren?" Tanyaku mendongak tanpa melepas pelukan.


"Adek masih marah?" Papi balik bertanya.


Aku menggeleng kemudian tersenyum. Aku memang sudah tidak marah lagi, hanya jika ingat kata-kata Papi aku hanya sedih dan merasa menjadi anak yang tidak berguna.


"Ga ada maksud apa-apa dari perkataan Papi kemaren, Dek. Reflek aja keluar. Maafin Papi ya" Papi mengelus lenganku yang melingkari tubuhnya.


Aku mengangguk cepat. Aku juga salah. Jadi tak perlu seakan sepenuhnya menjadi korban, begitu yang Papi katakan kemarin.


"Enak banget ya nempel-nempel sama suami orang" Aku menjauhkan diri saat mendengar teguran itu dan mendapati Mami yang baru masuk dengan sepiring Apel yang sudah dipotong kotak-kotak.


Aku tertawa saja membalasnya. Mami  tuh kenapa lucu banget sih? Ga mungkin kan cemburu sama anak sendiri?


"Cari suami sendiri sana kamu, Dek!"


"Cariin dong Mi" jawabku menerima piring dari tangan Mami. Pasti Mami mau aku yang menyuapi Papi lagi.


"Serius mau?"


Aku mengangguk cepat kemudian tertawa. Ya Allah ini wajah Mami kok berubah jadi bener-bener serius sih?


"Ya kali mau. SMA aja belum kelar" Jawabku kemudian.


"Ya kan mana tau Adek kebelet nikah. Ya kan Pi?" Tanya Mami yang langsung di angguki Papi.


"Gak gak gak. Masde Adek masih puaaanjanggg buangett" aku menyuapi sepotong Apel untuk Papi setelah lebih dulu kucomot untukku.


"Masde? Masde siapa?" Tanya Mami kebingungan.


"Masa depan" jawabku tertawa setelah berhasil membuat Mami berpikir keras.


Mami langsung ikut tertawa setelah memberi satu tepukan pelan di lenganku. "Selama Mami sekolah ga pernah tuh dapet istilah aneh-aneh kayak Adek" Ujar Mami di sela tawanya.


"Adek dapetnya juga bukan dari sekolah"


"Terus?"


"Dari.." aku berpikir sejenak. "Ga tau juga dari mana" Jawabku jujur. Aku juga tidak tau mendapatkan istilah itu dari mana dan siapa.


Aku ikut tidur dan memeluk Papi saat Papi sudah kembali berbaring. Mami keluar setelah membereskan piring bekas buah-buahan tadi. Aku memeluk Papi erat. Aku ingin seperti ini terus dengan Papi. Aku menyayanginya. Aku tidak pernah mau kehilangan sosok seperti Papi. Semoga Allah mengambil aku terlebih dahulu sebelum mengambil Papi.


🍁🍁🍁