
"Adek liat dasi Abang yang warna dongker gak?" Bang Wildan mondar-
mandir sambil mengacak-acak keranjang yang berisi baju-baju yang baru kuangkat tadi sore dari jemuran. Aku baru siap menyetrika seragam batikku untuk besok saat dia masuk dan menjelajahi ruangan ini.
"Gak" Jawabku singkat menarik colokan setrika dari wayer. Aku meliriknya sekilas. Mau kemana sih dia? Udah siap-siap pake jas malam-malam begini.
Bang Wildan menumpahkan semua baju yang ada didalam keranjang dan memisahkannya satu persatu. Dia terlihat buru-buru seakan ada yang ingin dikejarnya.
Aku menghela nafas kasar. Jika memang buru-buru mengapa tidak dari sore tadi dia menyiapkannya.
"Nyusahin orang aja lo" gerutuku tidak tahan dan akhirnya ikut bergabung membantunya.
Rumah kami memang tidak punya ART seperti orang lain. Mami yang tidak mau. Mami bilang masih mampu untuk melayani semua keperluan kami, meski kadang-kadang tak jarang Mami sering juga mengekspor barang-barang besar seperti badcover dan setrikaan ke laundry.
"Yang ini bukan sih?" Tanyaku mengangkat sebuah kain dongker bergaris putih pudar.
Bang Wildan menghentikan gerak tangannya yang sedang membongkar isi keranjang "Iya. Adek dapat dimana?" Jawabnya sumringah seraya mendekat.
"Ya disinilah" Jawabku sewot. "Makanya punya mata tuh dipake. Tar dulu gue setrikain dasinya" Lanjutku menghidupkan kembali setrika dan mulai menggosok dasinya.
"Nih" aku menyodorkan benda itu setelah terlihat rapi dan licin.
Bang Wildan melepaskan jas hitam yang dipakainya dan mulai memasang dasi itu pada kerah bajunya.
Aku mendekat ke arah tumpukan baju-baju yang berserakan dilantai dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Mungkin besok aku akan mengantar Mami membawa baju-baju ini ke laundry.
Aku mendongak saat merasakan sebuah bayangan berdiri didepanku.
"Apa lagi?" Tanyaku mengangkat kepala karna posisinya yang berdiri sedang aku masih berjongkok ditempat.
"Benerin tolong" Ujarnya seraya memegang dasi yang terlilit begitu saja di lehernya.
"Noh kaca disana noh" Aku menunjukkan cermin besar yang ada didekat pintu. Ini memang ruang Laundry tapi Mami menyediakan cermin khusus disini.
"Lebih rapi kalo ada yang masangin, Dek"
"Harus banget gue gitu?" Aku masih ditempat menatap sinis ke arahnya.
"Mami kan baru pulang. Capek banget pasti" balasnya sambil mengangguk-
ngangguk. Sok imut banget nih anak! Tapi memang imut sih, meski sudah berkali-kali membuatku sakit.
"Manja banget sih Lo" Hardik ku tapi tak urung berdiri juga memenuhi permintaannya.
"Nunduk lagi" perintahku. Bang Wildan menekukkan lututnya hingga kami sejajar. "Lo makan apa sih sampe panjang banget kaya gini?" Gerutuku kesal.
Bang Wildan tidak menjawab namun aku sempat mendengar kekehan kecil darinya.
Aku menyelipkan dasi dibalik kerah bajunya. "Masa pasang dasi aja ga bisa?" Tanyaku tak habis pikir
"Tinggal ditarik doang padahal" lanjutku merapikan kerah bajunya yang sempat berdiri
"Lebay lo!"
"Lo beneran ga bisa atau pura-pura ga bisa hah?" Aku bertanya seraya menyapu bagian depan dadanya setelah dasi itu terpasang pas di badannya. Tidak ada jawaban, aku jadi khawatir jika tiba-tiba bang Wildan bisu atau tuli mendadak.
Aku mengangkat wajah ingin memastikan dugaan, namun nafasku tertahan saat mendapati bola matanya yang terus menatapku tanpa kedip.
Dia mengangkat sebelah alis dengan senyuman diakhir membuat jantung ku bergemuruh kencang.
Aku baru menyadari posisi kami yang sangat dekat hingga deru nafasnya terasa jelas menerpa wajahku, pipiku memanas, mungkin jika aku bercermin warnanya sudah semerah kepiting rebus. Aku menguatkan hati. Jantung wouy ga usah keras-keras banget mompanya. Gue bisa meledak ini.
Aku menelan ludah susah. Ampun deh! jika tau ada adegan senam jantung begini, lebih baik aku tidak mengiyakan permintaannya daripada harus capek-capek menghentikan getarannya.
Suara pesan masuk yang bersumber dari saku kemeja bang Wildan membuatku tersadar. "Anjir tugas gue belum kelar" Aku mundur pura-pura kaget mengambil seragam batikku dan berlari menjauh menyelamatkan diri.
Aku menjauh dari sana sambil terus menetralisir perasaanku.
Aku tidak boleh semakin jatuh. Ini berbahaya untuk ku!
🍁🍁🍁
"Gue gabung ga pa-pa ya?" Adrian sudah menarik kursi plastik dan duduk didekatku.
"Lo minta atau maksa?" Tanyaku seraya menambah sedikit cuka dalam mie ayamku.
Pria itu terkekeh "Apa aja boleh"
"Lo Adrian kan?" Nesya menunjuk kearahnya terlihat coba mengingat sesuatu.
Rian mengangguk seraya menjulurkan tangannya "Adrian Javas Kovindra"
Nesya menyambutnya dengan senang hati "Adinda Nesya Dewi"
"Btw lo kenal Zeya dari mana?" Tanya Nesya setelah melepaskan tangannya.
Rian tersenyum melihatku "Dia kan populer disekolah ini"
Aku mengerutkan kening "Populer? Populer dari mananya njir?" Tanyaku geli sendiri.
"Buktinya seangkatan kita kenal sama lo semua" Jawab Rian serius.
"Yah kebetulan aja kali. Gue kan sering bantuin Kang Soleh bersihin rumput sekolah"
"Geng lo pada kemana?" Tanyaku menjauhkan mangkok mie ayam yang telah kandas didepanku.
"Tuh disana?" Rian menunjuk ke arah sudut kantin yang dipenuhi laki-laki yang berstatus anggotanya.
Aku mengangguk dan tersenyum saat seorang laki-laki yang ada disana melambaikan tangan dan memanggil namaku. Dari mana mereka mengetahui namaku? Apa aku memang sepopuler yang dikatakan Rian?
"Pepet terus Boss. Jangan lepas!!" Gelak tawa dari sudut kantin terdengar setelah teriakan itu membuat seluruh manusia yang ada disini melihat ke arah mejaku.
"Ga usah dengerin mereka Ze" Rian berkata setelah memberi jari tengah kepada anggotanya.
"Santai kali" Jawabku tertawa.
Aku dan Nesya pamit setelah bel berbunyi. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan perihal pengintaian yang pastinya tidak perlu didengar oleh Rian.
🍁🍁🍁
"Lo jalan ke Mall gue ke Cafe yang biasa" Usulku saat aku dan Nesya tiba di parkiran.
"Ya kali masih sama seragam Ze" keluh Nesya yang mungkin merasa sudah tidak tahan karna sudah setengah hari menggunakannya.
"Kalo uda balik gue ga yakin bakal di kasih izin lagi sama Mami" Jawabku jujur. Itulah yang terjadi. Bilapun pergi lagi Mami pasti menyuruh bang Wildan untuk menemaniku.
"Bener juga ya" Nesya menerawang. "Gas lah" Nesya mengeluarkan sepeda motornya dari barisan.
"Siapa yang duluan merasa terincar sebisa mungkin langsung kabari. Kalo bisa fotoin sekalian orangnya" Aku ikut mengeluarkan Scoopy kesayanganku dan duduk diatasnya.
"Kalo udah dapat kita langsung pulang Ze?"
"Boleh sih. Nanti kita telponan lagi dirumah" Aku menurunkan kaca helm ku dan mulai menarik gas setelah mendapat persetujuan dari Nesya.
Aku melirik arloji putih yang tertancap ditangan kiriku. Sudah pukul 02.25. Mami pasti bertanya kenapa aku belum pulang. Sepertinya nanti aku harus mengolah alasan yang baru agar Mami tidak curiga.
"Coffe Latte satu" Ujarku pada waiters yang menawarkan minuman saat aku sudah tiba disana.
Aku meletakkan tasku di atas meja dan mengeluarkan ponsel untuk mengabari Nesya.
Aku menyapu pandangan ke sekeliling Cafe coba mencari sesuatu.
Ponselku berdering, nama Mami tertera di layar kaca. Aku menyentuh tombol hijau sebelum menempelkannya di telinga.
"Adek dimana?" Tanya Mami saat panggilan sudah tersambung.
Aku berpikir keras mencari jawaban "Di..di sekolah Mi"
"Kenapa masih disekolah?"
"Ini ada les tambahan"
"Balik jam berapa?"
Aku melirik jam ditanganku "Jam empat mungkin Mi"
"Jangan keluyuran lagi. Siap Les langsung balik ya"
"Siap ibu Negara" Jawabku memastikan.
Aku mengucapkan terimakasih pada waiters yang mengantar minumanku setelah memutuskan panggilan dengan Mami. Aman. Mami percaya.
Aku menatap lurus kedepan menikmati minumanku dengan pipet seraya memperhatikan jalan raya diluar sana yang jelas terpampang dibalik kaca.
Ponselku berdering lagi. Aku mengerutkan kening. Nomor tidak dikenal?
"Halo?" Ujarku akhirnya mengangkat juga.
"Tidak perlu menunggu saya mengintai anda. Saya Absent hari ini"
Aku langsung merasa merinding saat mendengar suara berat itu. Nafasku tercekat. Bulu romaku berdiri. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tidak ada sesuatu yang membuatku curiga.
"Lo siapa hah?" Tanyaku setelah berusaha mengumpulkan suara.
"Anda yakin ingin mengenal saya Zalfana Zeya Izora?" Terdengar suara tawa setelah ia menyebut namaku. Bahkan pria gila ini mengetahui nama lengkapku.
"Lo punya masalah apa sampe harus ngintai gue?"
Pria itu tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Sebenarnya saya tidak memiliki masalah apa-apa dengan anda. Hanya ada misi yang ingin saya selesaikan bersama anda"
"Lo gila ya!!? Jangan pernah macem-macem sama gue!" Hardikku setengah berteriak.
"Saya tidak meminta macam-macam Zalfana! Hanya satu macam dan setelah itu tugas saya selesai"
"Sinting!!" Aku mematikan sambungan dan mengatur nafasku yang mulai tersengal. Keringat mulai membanjiri pelipisku. Sejak kapan aku punya masalah dengan laki-laki itu. Siapa dia? Mengapa aku yang menjadi incarannya?
Aku memegang dadaku. Suara getarannya begitu terasa. Tangan ku dingin, kakiku juga merasa lemas sekarang.
Aku meneguk ludah berkali-kali. Dari sekian banyak orang didunia ini mengapa aku yang harus menjadi targetnya?
🍁🍁🍁