My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 11



Aku berjalan menyusuri koridor yang mulai dipenuhi manusia yang lalu lalang. Aku melangkahkan kakiku hingga masuk ke dalam kelas dan duduk dikursi setelah meletakkan tas di kursi sebelah. Nesya belum terlihat batang hidungnya, gadis itu memang sering tiba lima menit sebelum bel atau kadang tepat saat bel sedang berbunyi.


Aku mengeluarkan ponsel setelah meletakkan tasku di meja. Ada beberapa panggilan tak terjawab dengan kontak yang ku beri nama 'Wildan'. Terdengar tidak sopan memang. Tapi inilah yang kulakukan. Aku ingin semua orang tau aku membencinya. Membenci dengan konsep sakit yang berbeda.


Aku berusaha tidak menghiraukannya dengan beralih membuka WhatsApp. Ada beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Dan kontak yang paling atas adalah nama Wildan. Aku sudah berusaha kuat untuk tidak kepo dengan isinya namun jemariku munafik. Seperti ada tarikan tak kasat mata yang membuat jempolku menyentuh room chat nya.


Wildan : Sory Abang ga bisa nganterin Adek tadi pagi. Buru-buru soalnya. Pulang sekolah nanti Abang jemput ya


Aku merotasikan bola mata malas. Dia memang sudah mengingkari janjinya semalam. Bang Wildan bilang hari ini dia yang akan mengantar dan menjemputku ke sekolah. Tapi tadi pagi aku sudah tidak menemukannya saat Mami mengajakku sarapan. Akhirnya aku harus berangkat ke sekolah dengan Papi.


Wildan : Kalo ketemu lagi sama pengincar itu, langsung kabarin Abang.


Aku membuang nafas kasar kemudian beralih pada kontak Nesya tanpa membalas pesannya. Untuk apa aku harus membuat laporan padanya? Tidak usah pura-pura peduli Wildan!! Itu hanya membuatku sulit mengontrol rasa.


"Anjing!!" Aku mengumpat kasar saat tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Aku berbalik seraya memegang dadaku yang kini terasa ingin melompat keluar. Dan pelakunya kini sedang terpingkal tanpa rasa berdosa seraya memegang perutnya.


"Napa sih lo? Latah banget!" Nesya duduk disebelah ku.


Nah lihatlah sahabat laknat ini! Yang ngagetin siapa yang disalahin siapa?


"Gue cekik lo kalo orang lain" jawabku kesal melihatnya sesinis mungkin.


"Hahahah aduh aduh" Nesya memegangi perutnya lagi "Komuk lo kocak banget kalo lagi kesel"


Kocak apanya Nesya? Aku menjawab dalam hati. Jika dilanjutkan mungkin sampai kiamat pun pembicaraan ini tidak akan mendapatkan jalan keluar.


"Lo punya rencana apa Ze?" Nesya sudah menghentikan tawanya dan mengajakku berbicara serius.


Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng juga. Memangnya apa yang sudah aku rencanakan? Sejauh ini pikiranku belum bisa diajak kompromi. Rasa takut masih terus mendominasiku.


"Lo harus punya planning yang akan jadi acuan Ze! Kita ga bisa pasrah-pasrah aja" Nesya terdiam "Atau kita langsung laporin polisi aja" usulnya yang langsung kutolak dengan gelengan kepala.


"No No big No" Tolak ku cepat


Nesya mengerutkan keningnya "Why?"


"Kalo kita laporin kasus ini ke polisi otomatis bonyok gue langsung tau and then kita belum punya bukti yang cukup kuat"


Nesya mengangguk "Gue kok ga kepikiran ke sana ya?"


"Tapi gue udah ceritain ini semua ke bang Wildan"


"What? Demi apa Ze lo malah bocorin ini ke Bang Wildan?" Nesya bertanya tidak yakin.


"Dia udah janji buat ga bilang ke siapa-siapa soal ini"


"Termasuk bonyok lo?"


Aku mengangguk. Aku tau akan sulit untuk meyakinkan Nesya tentang hal ini. Tapi apa boleh buat? Sejauh ini bang Wildan memang bisa dipercaya. Buktinya rahasiaku yang bahkan Nesya sendiri tidak tau sama sekali bang Wildan dengan mudah mengetahuinya.


"Respon dia gimana?"


Aku mengangkat bahu. Bang Wildan tidak mengatakan apa-apa setelah aku bercerita semalam.


"Dia ga akan peduli Ne. Dia cuman pengen tau. Dan kalo lo mikir untuk ngajak dia diskusi soal ini, mending ga usah. Gue ga mau berutang budi sama dia"


Nesya tertawa "Baru aja mau bilang"


Kami menghentikan pembicaraan saat buk Diah guru Sosiologi masuk dan memberi salam. Aku juga baru sadar ternyata kelas yang awalnya sepi kini mulai riuh dan dipenuhi teman-temanku. Aku terlalu larut bercerita hingga lupa keadaan sekelilingku.


🍁🍁🍁


"Gimana hari ini?" Tanya bang Wildan setelah aku menutup pintu mobil dan duduk disebelahnya. Seperti janjinya tadi pagi dia yang akan menjemputku saat pulang sekolah.


Bang Wildan menjalankan mobilnya setelah memastikan jika sealbetku sudah terpasang "Dia" Jawabnya kemudian.


Aku menggeleng "Hari ini belum ada tanda-tanda dia datang" Tak perlu diperjelas 'dia' yang dimaksud bang Wildan, aku sudah paham arahnya.


"Lo kemana tadi pagi?" Tanyaku setelah beberapa saat terdiam. Tiba-tiba teringat saja dengan janjinya. Aku sudah pernah bilang kan?Β  aku sangat benci orang yang mengingkari janji.


"Eum itu tadi kak Rayya minta dijemput. Ada rapat organisasi dadakan di kampusnya" Jawabnya Pelan.


Aku menghela nafas kasar. Jadi itu yang di maksud buru-buru dalam chatnya tadi?


"Ya tau gitu ga usah janji!"


"Maaf" ujarnya pelan.


Aku membuang wajah dan memilih diam sambil melihat keluar jendela. Selalu Rayya. Selalu wanita itu. Aku menggigit bibir bawahku. Memangnya apa yang aku harapkan? Aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya.


Aku tersenyum sinis. Aku hanya gadis yang selalu kecil di matanya. Gadis kecil yang tidak paham apapun tentang cinta hingga bisa dibodohi oleh rasa itu.


Aku sudah ingin berhenti tapi tidak tau harus memulainya dari mana.


Ini terlalu rumit untukku. Secara sadar sebenarnya aku hanya sedang menggiring diri ke dalam neraka. Aku tau bagaimana keadaan selanjutnya, namun seperti dibutakan, rasa ini tidak pernah mau peka.


"Makan dulu atau langsung pulang?"


"Serah" Jawabku tanpa menoleh


"Ya udah makan dulu ya"


Aku tidak menjawab. Sudah ku pasrahkan keputusannya pada bang Wildan. Aku sedang malas berbicara.


"Adek mau makan apa?" Tanya bang Wildan saat kami telah duduk di salah satu rumah makan langganan Mami.


Aku kembali bungkam hingga seorang pelayan datang seraya memberi daftar menu.


"Nasi ayam penyet dua. Yang satu sambelnya jangan pedas ya. Minumnya Milo hangat sama kopi luwak" diktenya yang langsung di tulis oleh pelayan berbaju kunyit itu.


Aku bersyukur dengan dia yang memang sudah paham tentang makananku. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan suara jika sedang dalam mode marah dengannya.


"Abang juga ga tau kalo kak Rayya bakal minta dijemput tadi pagi, Dek" bang Wildan membuka suara, membuatku yang sejak tadi hanya menyapu pandangan ke arah lain terpaksa harus meliriknya sekilas.


"Gue ga permasahin hal itu kok. Santai aja" Jawabku enteng. Aku mengambil ponsel dan memilih membuka aplikasi tiktok mencari sedikit hiburan disana. Bang Wildan tidak menjawab lagi, kurasa dia paham kodeku yang sedang tidak ingin berbicara dengannya.


Aku membulatkan mata saat tiba-tiba sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal masuk. Segera kusentuh notifikasi itu hingga seluruh isi pesan kini dapat kubaca dengan sempurna


|+62851******|


Hai Zalfana? Apa kabar hari ini. Saya berencana ingin bertemu dengan anda nanti malam. Menurut anda dimana tempat yang cocok untuk first date kita? Pukul 08.00 kita bertemu. Jangan bawa siapa-siapa termasuk bang Wildan kesayanganmu itu atau anda akan menyesal nanti.


Aku melipat bibirku kedalam. Nafasku tersengal, aku menelan ludah susah. Perasaanku mulai tak beraturan. Bajingan itu lagi. Apa mau nya? Sekarang pula dia menyebut nama bang Wildan. Dan dia juga tau tentang rasaku terhadap bang Wildan. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak pernah curhat tentang rasa ini pada siapapun kecuali Nesya. Tidak lucu jika akhirnya Nesya juga ikut terlibat dalam masalah ini.


"Dek?" Bang Wildan menyeruku penuh curiga. Aku mengangkat kepala memenuhi seruannya "Dia ngechat lagi?" Tanyanya penuh selidik


"Hah? Engga kok" Jawabku cepatΒ  "Ini Nesya tiba-tiba aja ngechat ngajak ketemuan" Kekehku berusaha meyakinkannya


Bang Wildan tidak menjawab lagi. Sudah kubilang dia hanya ingin tau bukan peduli.


Aku menggigit bibir bawahku penuh pertimbangan. Sepertinya aku memang harus menjumpainya. Harus! Tapi bagaimana cara meminta izin pada Mami?


Aku harus segera menyiapkan rencana untuk nanti malam. Aku tidak mau pasrah-pasrah saja dengan ancaman laki-laki yang tak ku kenal itu. Dia bisa dengan mudah mengusik hidupku dan aku juga harus bisa. Setidaknya walau tidak bisa membalas perlakuannya, aku bisa mempertahankan hidupku sendiri.


🍁🍁🍁