My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
Prolog



Aku tidak pernah bisa menjelaskan dengan detail kapan pertama kali rasa itu hadir. Aku juga tidak bisa menebak kapan rasa yang semula hanya menganggap nya sebagai abang kini dengan haus mendambanya sebagai pasangan. Yang aku sadar detik ini ternyata aku mencintainya. Yah aku mencintai sepupu laki-lakiku dari pihak Mami. Salahkah? Dia sudah tinggal bersama kami sejak duduk di kelas 5 sekolah dasar. Orang tuanya menjadi salah satu dari banyak nya korban saat bencana alam terjadi di kotaku. Kemudian Mami dan Papi berinisiatif untuk membawanya pulang ke rumah. Saat itu aku baru berusia 3 tahun. Aku tidak bisa melengkapi bagian dari kisah saat dia masih SD. Aku tidak ingat. Jangankan untuk mengingatnya, mengingat siapa diriku saja kadang aku belum bisa.


Aku baru benar-benar mengenalnya sebagai Abang tepat saat mami memasukkanku ke taman kanak-kanak. Abang angkat lebih tepatnya. Kala itu aku masih terlalu dini untuk menterjemahkan sesuatu yang timbul dalam hati sebagai rasa cinta. Aku sudah menyayanginya sejak saat itu. Aku senang saat ia tiba-tiba mencium pipiku ketika aku baru terbangun dari tidur. Aku senang saat dia mengobrak-abrik lemari pakaian guna mencari bajuku setelah mandi. Aku juga senang saat ia mempraktekkan segala macam gaya hewan untuk memancing mulutku terbuka ketika sedang menyuapiku makanan. Dia punya cara sendiri untuk membuatku patuh dan menurut padanya.


Dia masuk SMA saat aku kelas 2 sd. Umurku masih 8 tahun kala itu dan jika tidak salah dia juga baru merayakan ulang tahunnya yang ke 15. Jarak umur kami masih dalam kategori wajar menurutku. Wajar untuk menjadi pasangan. Nah lihatlah! Belum tamat sd saja aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Satu hal yang kusadari saat dia telah SMA. Dia bukan seperti abangku yang dulu. Dia tidak pernah menyambar pipiku setelah aku bangun tidur, bahkan saat aku sudah mandi dan rapipun dia tidak menyentuhnya. Dia tidak pernah lagi mendatangiku sebelum tidur sekedar mengucapkan jangan lupa baca doa. Dia juga tidak pernah menyuapi makanku lagi bahkan untuk menyisir dan mengucir rambutku saja dia sudah enggan. Mami memang tidak pernah menyuruhnya untuk mengurusiku diaΒ  sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya. Dan saat tiba-tiba dia berhenti dan tidak melakukannya lagi aku merasakan kejanggalan. Aku pernah berulangkali memintanya, namun ia menolak dengan dalih bermacam-macam. Aku menyerah. Mulai saat itu aku tidak pernah mengharapkan apapun lagi darinya.


Meskipun begitu dia tidak sedingin salju juga. Dia kadang masih sesekali mengajakku bercanda walau tidak lama. Sepatah dua kata mungkin, kemudian kembali bungkam dan hanyut dengan pemikiran masing-masing.


Saat aku SMP dia pernah mengenalkan seorang wanita cantik yang di akui sebagai pacar pada mami. Dan itu pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Seperti ada seseorang yang sengaja mengoyak bagian hatiku, seperti ada dentuman keras yang tiba-tiba saja muncul. Saat Mami dengan senyum lebar muncul menyambut wanita itu, aku pula kebalikannya. Aku gelisah kemudian masuk dan menangis didalam kamar. Entah karna apa aku tidak bisa menafsirkannya. yang jelas aku benci perempuan itu.


Aku benci saat melihat senyuman


yang diberikannya pada wanita itu. Aku iri saat mendengar tawanya bersama wanita itu. Aku juga marah saat melihat dia dengan tulusnya menyemangati kegugupan wanita itu ketika ingin menyalami papi. Aku membenci semua tentang pacarnya. Semua tanpa terkecuali. Tapi apa boleh buat. Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya seorang gadis SMP yang baru menginjak masa puber. Tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita dewasa yang dibawa nya ke rumah.


Aku juga ikut bahagia dan turut mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Saat melihat senyumnya aku juga ikut tersenyum. Seperti ada magnet tersendiri yang membuatku mengikutinya. Apapun yang membuat dia bahagia aku akan mendukung nya kecuali satu. Yah sudah bisa ditebak. Ini semua berkaitan dengan wanita itu. Pacarnya. Aku tidak menyukai pacarnya.


Pernah wanita itu memanggilku. Mengajakku bergabung dan ikut duduk menemaninya berbicara dengan abangku. Aku menggeleng, kemudian mendengus pelan sebelum masuk kedalam kamar dan menangis lagi. Hari lainnya dia datang sembari membawa ice cream kesukaanku. Dengan wajah manisnya dia merayuku dan memberikanku ice cream. Hampir saja aku tergiur jika abang tidak datang sambil merangkul pundaknya. Disitu aku tertampar dan tersadar, tanganku yang awalnya hampir menyentuh ice cream pemberiannya segera kutarik secepat mungkin, kemudian seperti biasa aku masuk dan menangis lagi didalam kamar.


Ketika umurku menginjak 16 tahun disitu aku mulai berani menganalisis perasaanku. Hal apa yang membuat ku selalu menangis saat melihatnya bersama wanita itu. Sesuatu apa yang kerap mengganjal dan menyentuh kepekaan hatiku saat mendengar keceriaannya bersama wanita itu. Setelah lama aku bergelut dengan hati akhirnya aku menyadari satu hal. Aku mencintainya. Mencintai laki-laki yang hanya menganggapku sebagai adiknya. Mencintai laki-laki yang mencintai wanita lain. Mencintai laki-laki yang bahkan tidak akan pernah paham dengan perasaan ku.


Alarix Wildansyah. Ya dialah laki-laki itu. Orang yang aku cintai bahkan sebelum aku mengenal apa itu cinta.


Terimakasih Alarix kamu berhasil membuat ku menutup hati bahkan sebelum aku sempat membukanya untuk siapapun.


...🍁🍁🍁...