My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 15



"Assalamualaikum Mamii Adek pulang" seruku ceria, namun seketika langkahku terhenti di ambang pintu saat menyadari ada beberapa manusia lain yang ku kenal sebagai keluarga Kak Rayya di ruang tamu.


"Waalaikumussalam" Mami menghampiriku "Ayo salimin dulu Om Arnold sama Tante Chikanya" bisik Mami setelah aku mencium tangannya.


Ku intip mereka dari balik tubuh Mami yang menutupi ku. Ada Bang Wildan dan Kak Rayya juga disana. Mereka duduk berdekatan, membuatku memutar mata seketika. Semangatku untuk menyalimi Om Arnold dan Tante Chika hilang sudah.


Aku membuat wajah semengenaskan mungkin "Mii Adek sesak boker ni. Tadi disekolah makan ayam geprek level 7" ujarku seraya memegang perut "Adek ke WC dulu ya bye" Aku berjalan cepat meninggalkan ruang tamu.


"Lagi kebelet ke WC Zeyanya. Udah ih kita lanjutin aja" masih ku dengar suara Mami yang berusaha membuat mereka mengabaikan aku. Aku tersenyum puas. Mami memang paling mengerti keadaanku.


"Oke jadi pernikahannya dipercepat bulan depan?" Masih kudengar suara lain yang membuat Nafasku tercekat. Pernikahan? Bulan depan?


Tungkai ku lemas. Jantungku bekerja tak seirama.


"Lebih cepat lebih baik sih menurut Wildan"


Aku menyentuh dadaku. Itu suara Bang Wildan kan? Aku menggigit bibir bawahku. Nerakaku sudah didepan mata.


Jadi mereka berkumpul untuk membahas rancangan pernikahan? Ya jelaslah! Memangnya aku berharap apa?


"Kalo gitu mulai besok undangan udah bisa disebar kan?"


"Iya. Tapi untuk temen-temen kantor, kita udah duluan nyebarin kok Pa. Tinggal keluarga besar sama temen-temen dari pihak Wildan dan kita" Suara kak Rayya pun bagai petir yang menyadarkan tempat ku. Bahkan setengah undangan pun sudah tersebar.


Aku membuka pintu kamarku cepat dan melemparkan diri ke atas kasur. Semakin lama menguping semakin besar lubang sakitnya.


Sanggupkah aku bertahan? Ku pikir tidak sesakit ini. Aku menyentuh lagi dadaku. Kebas. Air mataku mengalir cepat, aku sesenggukan. Ternyata begini sakitnya.


Aku memejamkan mata. Perihnya hingga membuatku lupa diri. Hari yang kutunggu telah tiba. Bukankah sejak awal aku sudah tau? Tapi kenapa hati ini terus memaksaku?


Dia akan pergi, menikah dan hidup bahagia bersama orang yang dicintai. Sementara aku? Bisakah waktu berhenti saja. Bagaimana aku akan menyembuhkan luka ku sendiri? Dia cinta pertamaku, dialah orang yang mengajarkan aku arti cinta, dia juga orang pertama yang membuatku merasakan luka.


Bisakah rasa ini hilang? Agar saat dia pergi aku tak merasa ditinggalkan. Dia tidak salah. Aku yang terlalu berharap kepadanya. Ku rasakan nyeri di ulu hatiku, seperti ada orang yang menyayat dan mengoyaknya dengan sengaja kemudian menambah cuka diatasnya. Kulihat ada Bang Wildan dan Kak Rayya bermain-main sambil tertawa disana. Aku duduk seraya memeluk lutut masih terus memandang mereka sendu. Aku meringis, bayangan itu hilang seketika.


Satu bulan lagi! Aku harus move on. Aku tak boleh terus di perbudak oleh cinta. Aku punya kehidupan sendiri. Aku juga ingin bahagia meski bukan bersama dia.


🍁🍁🍁


"Adekkkk" Suara Mami meneriakiku dari kamarku.


"Iyaa" Sahutku masih fokus pada kartun Spongebob yang ada di TV. Tangan ku sibuk meraba toples berisi keripik kentang dan sesekali menyuapinya ke dalam mulut.


"Baju olahraga Adek mana?" Ku lirik Mami sudah berdiri di ambang pintu kamar.


"Dalam tas" Jawabku singkat kemudian kembali sibuk pada layar besar didepanku.


"Adek udah berapa kali sih Mami bilang, baju olahraga kalo pulang sekolah dkeluarin dulu, jangan dalam tas. Nantik kalo udah bejamur baru nangis-nangis minta ganti" Mami mulai mengomel seraya keluar dari kamar. Kutebak Mami pasti ke ruang laundry untuk memasukkan pakaian kotor itu kedalam mesin cuci.


Aku diam saja tidak menanggapi. Bukannya aku tidak mau mengikuti kata-kata Mami, tapi kadang aku malas kemudian berujung lupa hingga besok pagi. Yeah aku semenjijikkan itu. Padahal baju olahraga pasti ada bekas keringatnya, namun aku memilih tetap santuy karna bau keringatku tidak separah si Dilla teman sekelasku. Malah teman-teman ku bilang aku makin wangi jika sedang berkeringat.


Aku menutup toples yang sudah kosong dan beranjak pergi ke dapur saat filmnya di break karna iklan. Aku mengambil sebotol air dingin didalam kulkas dan bergegas cepat kembali ke depan TV. Aku tidak mau ketinggalan, meski aku tau saat kembali film itupun belum dimulai lagi.


"Nah nah malam-malam minum air dingin" Tegur Mami menarik botol minum yang sudah kutenggak setengah.


Aku berdecak sedikit kesal "Mami ih sekali-kali jugak" Protesku tidak terima


"Cuman flu loh Mi, bukan sakit yang gimana-gimana" belaku lagi.


"Iya tapi Adek kalo flu, bersin sama batuknya itu susah berenti. Ga ada protes-protes! Biar Mami buat susu coklat aja" Mami pergi dan membawa serta botol minumku itu. Aku cemberut kecewa. Entah kenapa akhir-akhir ini Mami seperti berbeda, banyak sekali larangan. Gak boleh ini, ga boleh itu, ingetin inilah, omelin itu. Pokoknya beberapa hari ini Mami seperti lebih ekstra saja dalam mengawasiku.


"Nih" Mami sudah kembali dengan segelas susu coklat ditangannya.


Aku segera menyambutnya dan meminumnya cepat "Hah" Pekikku mengeluarkan lidah "Panas Mi" keluh ku seraya mengipasinya dengan tangan.


"Ya makanya minum itu hati-hati Dek" Mami sudah menghadap penuh ke arahku dan memperhatikan lidahku yang memerah.


"Kan Adek ga tau susunya sepanas itu"


"Kan biasanya Mami juga buat pake air panas"


"Udah?" Tanya Mami setelah beberapa saat.


Aku mengangguk. Sudah tidak perih lagi. Aku kembali mengambil susu coklatku dan meminumnya pelan.


"Ceroboh banget sih" ucap Mami kemudian


"Bukan ceroboh Mi. Tapi lupa" koreksiku seraya menaik turunkan alis.


"Nah ini lagi nih" Mami mengambil tanganku "kenapa kukunya panjang-panjang sih Dek?" Tanya Mami tak habis pikir.


"Keren loh ini Mi"


"Keren apa cobak? Adek sering ngigo tengah malam, tar kalo ngigonya nyakar-nyakar gimana?"


"Kan belum pernah Adek ngigo sambil nyakar-nyakar"


"Tunggu disini! Mami ambil jepitan kuku dulu" perintah Mami seraya bangkit kemudian kembali dengan sebuah jepitan kuku.


"Mami tapi katanya ga boleh potong kuku malam" Aku menyimpan tanganku di belakang agar tidak bisa dijangkau Mami


"Kata siapa?"


"Kata orang" jawabku cemberut saat Mami telah berhasil menarik tanganku kembali. "Mami ih Adek butuh perjuangan panjang buat ngerawat dia" Keluhku saat kuku jempolku sudah tergeletak mengenaskan di lantai


"Emang siapa yang nyuruh panjangin? Kalo pendek gini kan ga perlu perawatan apapun" Jawab Mami sambil terus memotong kuku ku satu persatu.


"Mami ga keren ih"


"Ga butuh keren yang penting bersih"


"Tapi kan kuku Adek bersih"


"Orang bersih itu ga manjangin kuku" Sahut Mami tak mau kalah "Udah dulu ih jangan goyang-goyang Dek" pelotot Mami yang langsung ku balas dengan tawa. Aku suka sekali menggoda Mami.


Mami merapikan pinggiran kuku ku dengan bagian kasar yang ada di jepitan kuku. Membuat rasa kantukku menyerang. Aku menguap lebar.


"Tutup mulutnya Adek" Peringat Mami terdengar sedikit kesal. Aku tertawa saja. Mami pasti jengkel sekali dengan tingkahku ini. Aku merapatkan tubuhku dengan Mami kemudian menyenderkan kepalaku di bahu Mami. Aku memejamkan mata dan setelah itu tidak ingat apa-apa.


🍁🍁🍁