My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
My brother my husband 1



"Zeya cepetan ******" suara itu menginterupsi.


"Sabar njing. Ini gue juga lagi lari" aku mengencangkan langkahku mencari tempat persembunyian yang aman. Seorang bapak-bapak yang tidak kami kenali tiba-tiba saja datang dan mengejar. Aku dan Nesya_sahabatku berlari sekuat tenaga. Sudah sekitar lima menitan kami keluar masuk gang tanpa tahu arah. Kami tersesat. Nesya penyebabnya. Mobil yang kukendarai beruntung masih terlihat dan masih bisa terjangkau di penglihatan. Ternyata sedari tadi kami hanya putar-putar mengitari gang ini. Buktinya aku masih bisa melihat dan memantau mobilku itu.


"Jangan bernafas" aku menahan nafas sambil ngos-ngosan. Kami bersembunyi dibawah kursi panjang usang yang ada didekat...entahlah aku tidak tau apa namanya. Aku bisa mendengar suara langkah yang mendekat pelan ke arah kami. Aku semakin menahan nafas. Tiba-tiba saja aku teringat salah satu scene di film horor. Mereka akan menahan nafas jika vampir mulai mendekat. Semoga bapak tuaย  itu jelmaan vampir sehingga dia tidak akan mengetahui keberadaan kami disini.


"Gue bisa mati kalo gak bernafas" Nesya berbisik sambil mengatur nafas. Wajahnya merah. Peluh sudah penuh membanjiri seluruh permukaannya.


"Ssuut" aku meletakkan telunjuk dibibirnya. Menggerakkan mulut tanpa suara 'jangan banyak bacot' itulah yang kukatakan. Entah dia paham atau tidak tapi syukur sekarang dia juga ikut menahan nafas sama sepertiku.


Aku semakin merinding saat mengintip sepatu hitam mengkilat itu berjalan semakin dekat dengan kursi. Ya Allah hamba tidak ingin mati dulu. Aku bermunajat dalam hati. Aku merapalkan semua doa yang pernah kupelajari. Semua. Bahkan doa makan dan doa masuk wc pun aku sertakan. Tangan ku gemetar saat menyadari bahwa jarak ujung sepatu nya dengan tanganku hanya berkisar sekitar tiga centi lagi. Sedikit saja bergerak maka tanganku akan menyentuh sepatu bututnya. Lama aku menahan nafas hingga akhirnya sepatu itu meninggalkan kami. Aku dan Nesya keluar setelah mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Dalam hati aku berjanji tidak mau menginjakkan kaki ke daerah sialan ini lagi meski Nesya memohon sambil nangis darah sekalipun. Kejadian tadi sudah cukup melatih kesabaranku.


"Kunci pintunya rapat-rapat Ze" Nesyaย  bersuara setelah kami tiba di mobil.


Aku tidak menghiraukan. Sebelum disuruh pun aku juga paham untuk menguncinya. Aku mengatur nafas sebaik mungkin. Jantungku masih berdetak tidak karuan. Perasaan takut masih ada, namun rasa lega lebih mendominasi saat sadar jika aku belum mati dan masih bisa pulang ke rumah.


"Lo tau kita hampir mati Ne" Aku bersuara sambil menjalankan mobil setelah keadaanku kembali normal.


"Sory Zeya. Gue tadi emang yakin ngeliat Aldo disitu"


"Serah lo dah. Aldo Aldo mulu yang lo pikiran" Aku lelah. Memang gila Nesya ada banyak laki-laki yang mendekat tapi dia malah ngejar-ngejar Aldo yang jelas-jelas telah memiliki pacar.


"Sama kayak lo" aku menoleh. Apanyaย  yang sama?


"Wildan Wildan mulu yang lo incer" lanjutnya membuatku tertohok. Aku diam. Fokus menyetir mobil dan menormalisasikan detak jantung ku jauh lebih baik dari menanggapi pernyataan Nesya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Aku melabuhkan pantat diatas sofa setelah tiba di rumah. Kedua kaki kuangkat ke atas meja.


"Ya emang adek ngerjain tugas kelompok" jawabku sedikit sewot. "Aduh mami sakit ih" aku menurunkan kakiku yang sejak tadi berada diatas meja dan mengelus nya setelah ditepuk mami.


"Kebiasaan tuh kakinya gitu. Ga sopan!" Kata mami kemudian.


Aku mengerucutkan bibir sebal. Mami tuh nyebelin banget. Ga tau apa anaknya baru simulasi sakratul maut. Harusnya kan di baik-baikin di sayang-sayangin. Aku menggerutu dalam hati. Tapi kalo di ingat-ingat kan mami emang ga tau. Astaga jangan sampe mami tau. Bisa gawat.


"Mami telpon Nesya sekarang ya. Liat aja kalo adek bohong" mami mengancamku seraya merampas hp yang sejak tadi kupegang.


"Mami jangan ih adek ga boonggg" aku berusaha mengambil alih hp yang sudah berada ditangan mami.


"Assalamualaikum Mi" suara salam yang tiba-tiba otomatis mengalihkan perhatian mami. Aku memanfaatkan keadaan itu untuk menarik hp ku kembali.


"Waalaikumussalam. Baru balik bang?" Mami mengecup singkat kepala laki-laki yang baru menyalimi tangannya.


"Iya mi. Ada Rayya juga" aku melihat pria itu sekilas, ada seorang wanita cantik dibelakangnya yang terlihat segan dan malu-malu saat menyalimi mami. Aku merotasikan bola mata jengah sebelum memfokuskan diri pada hp mencari kontak Nesya dan mengirimi sesuatu padanya.


"Adek" aku mengangkat kepala menjawab seruan mami. "Salimin dulu kak Rayya" aku melirik tangan wanita bernama Rayya yang sudah terulur ke depanku. Aku menghela nafas kasar menyambar sling bag dan melangkah pergi mengabaikan tangan itu.


"Eum aduh maaf ya Rayya, Zeya lagi ngambek sama mami tadi, jadi suka ngelampiasin ke semua orang" Suara permohonan maaf mami masih terdengar saat aku menutup pintu kamar.


Aku melempar diri di atas kasur. Nafasku sesak. Tak bisakah pria itu memahami keadaan ku sedikit saja? Aku menggigit guling yang tengah kupeluk erat agar suara erangan ku tidak menembus ke luar pintu.


Wildan sialan!!


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...