My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 20



Aku memainkan gumpalan-gumpalan tanah basah di atas gundukan yang ada didepanku. Sesekali ku usap nisan putih yang berdiri tegak di sebelah kananku. Ku baca nama yang tertulis disana, kadang aku masih tak percaya, tapi nama itu cukup menjadi bukti kepergian dua cahayaku.


"Mami seneng ya lihat Adek nangis setiap hari?" Tanyaku seolah berbicara pada orang yang di sana. "Papi tega kan liat Adek ga bisa tidur setiap malam?"


"Mami sama Papi lupa ya gimana sulitnya dapetin Adek? Sampe seenaknya aja tinggalin Adek sendiri di dunia ini" Aku mengelus permukaan tanah didepanku. Angin berhembus pelan memainkan selendang hitam yang sengaja ku pasang di atas kepala.


"Adek sendiri sekarang. Adek udah ga punya siapa-siapa. Adek mau tinggal sama siapa nanti? Bang Wildan mau nikah, dia pasti tinggal sama istrinya. Adek gimana?" Tanyaku pelan. Aku menerawang. Ku tatap daun-daun kamboja yang bergoyang di ujung sana.


"Adek tinggal sendiri ya? Tega kan Mami sama Papi ngebiarin Adek sendiri? Kalo nanti mag Adek kambuh siapa yang peduli? Kalo nanti Adek lagi sedih siapa yang hiburin? Kalo nanti ada yang mau macem-macemin Adek siapa yang belain?"


"Mami sama Papi jahat!!" Aku mulai terisak lagi. Mengingat kehidupan ku yang sebatang kara aku tidak sanggup. Aku menunduk kemudian kupeluk tanah makam itu sambil terisak.


"Adek mau tinggal sama siapa Mami? Adek mau ngadu ke siapa Papi?" Tanyaku lagi.


Angin berhembus semakin kencang. Keadaan sekitar mulai gelap. Mendung diatas menandakan hujan akan turun. Ku lebarkan pelukanku pada tanah di depanku. Hujan mulai turun dan aku belum mau beranjak.


Aku merapatkan tubuhku lebih dekat ke pusara. Hujan makin deras membuat tanah-tanah itu kotor dan berlumpur. Aku tidak peduli. Aku menggenggam gumpalan-gumpalan tanah yang sudah hancur karna air hujan.


"Mami Papi ayok pulang" Ajakku tak menyerah "Disini hujan. Mami sama Papi mau basah-basahan disini?" Aku berbisik halus.


"Hujannya nembus gak ke sana? Mami sama Papi pasti basah kan? Makanya ayo pulang. Jangan disini"


"Zeyaa" seseorang datang menyentuh bahuku. Ku rasakan teduhan payungnya menghalangi hujan menyentuh tubuhku.


"Zeee kita pulang yuk. Hujan ni" itu suara Nesya. Aku bangkit perlahan kemudian duduk menghadapnya.


Nesya mengelus lenganku. Kulihat matanya hanya menatap ku iba. Semenyedihkan itukah aku?


Nesya maju kemudian memelukku. Dia menepuk punggung ku pelan. "Kita pulang ya?" Katanya setelah melepaskan pelukan.


Aku mengangguk setelah tersenyum hambar. Nesya merangkul bahuku dan membawaku masuk ke dalam mobil.


Mami, Papi pulang!! Adek rinduu


🍁🍁🍁


"Kami akan terus menyusut tuntas dan mencari bukti-bukti terkait kecelakaan itu Wil" ujar seorang laki-laki berseragam polisi yang ada didepan kami. Pagi-pagi tadi rumahku di ketuk, dua orang polisi datang memberi informasi lanjut tentang penyebab kecelakaan Mami dan Papi.


"Kita harus bekerja sama dalam menguak tragedi ini. Penyebab rem blong yang tiba-tiba ini sedikit mencurigakan" jawab yang lain.


Bang Wildan mengangguk menyetujui. Aku hanya menatap datar melihat mereka berdiskusi. Bang Wildan ada di sampingku. Bang Wildan bilang polisi-polisi itu adalah temannya. Jadi tentu akan lebih mudah untuk mengungkapkan masalah ini.


"Kalau gitu kita pamit Wil. Untuk kelanjutannya kita bisa diskusi lagi besok atau lusa" mereka saling berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.


Aku diam membeku saat tangan dari salah satu polisi itu terulur ke arahku. Aku hanya menatap tangan itu datar tidak berniat menyambutnya.


Polisi itu menarik kembali tangannya "Oh ya ga masalah" jawabnya terkekeh "Tapi jangan biarin traumanya terlalu lama Wil. Kasian mentalnya"


"Tentu! Aku ga akan biarin Zeya kenapa-napa" jawabnya pasti. Aku mendengar. Tentu saja. Bohong! Kata-kata itu pasti di tujukan untuk menyenangkan hatiku. Aku tidak setrauma yang mereka bicarakan. Aku memang terpuruk, tapi tidak sampai merusak mental. Aku sadar dengan semua yang ku lakukan. Tapi untuk saat ini aku hanya malas untuk menanggapi nya.


"Dek?" Bang Wildan menyeru saat polisi-polisi itu telah keluar. Aku melirik sekilas sebelum kembali diam memainkan jemari di pangkuanku.


"Ngadep Abang cobak" Pintanya memegang jemariku.


Aku menggeser duduk kemudian berbalik menghadap ke arahnya. Aku melihat matanya, dia tersenyum namun aku diam saja tidak membalasnya.


Bang Wildan mengambil tangan kananku.


"Adek ingat gak alasan kenapa Abang tinggal sama Mami dan Papi?" Tanyanya menunduk seraya memainkan ke lima jemariku.


Aku diam tidak berniat untuk menjawab.


Bang Wildan mengambil jempolku kemudian mengelus kuku ku yang mulai memanjang lagi disana "Yang Adek alami sekarang, udah lebih dulu Abang rasain sebelumnya" Katanya tanpa beralih dari aktivitas itu.


Aku bergeming sambil terus melihatnya. Bersyukur saat ini tatapannya hanya fokus pada kuku ku, jadi aku bisa lebih leluasa memperhatikannya.


"Adek masih beruntung, untuk yang terakhir kalinya Adek bisa melihat wajah Mami dan Papi, kalo rindu Adek bisa jenguk ke makam nya, walaupun tetep aja ga bisa ketemu. Tapi setidaknya Adek punya tempat untuk melepas rindu. Tapi Abang? Jangankan makamnya, jasadnya aja Abang ga tau dimana? Apakah sempat di temukan? Atau udah hanyut dan hancur di bawa air. Sampe sekarang Abang ga tau" Bang Wildan beralih ke punggung jari-jari ku. Dia memainkan bulu-bulu kecil yang tumbuh disana.


"Dulu Abang juga mikir, gimana kehidupan selanjutnya, Abang mau tinggal sama siapa, uang ga ada, keluarga hilang, sanak saudara apalagi, Abang ga pernah kenal sama saudara baik dari pihak Ayah atau Ibu. Abang sampe sempat tinggal sendiri di barak pengungsian itu karna yang lain udah pada dapat identitas dan keluarga baru. Waktu itu Abang juga trauma Dek, bahkan untuk berjumpa dengan orang saja Abang takut. Ini tentu bukan hal yang mudah untuk anak yang masih duduk di bangku SD"


"...Sampe akhirnya waktu barak itu mau dibongkar lagi, sepasang suami istri datang sambil ngegendong seorang gadis kecil yang mungkin waktu itu usianya...3 tahun. Mereka ngaku kalo mereka adalah saudara dari pihak Ibu. Abang ga percaya begitu aja. Abang takut gimana kalo tiba-tiba Abang di jual? Terus di jadikan budak di luar negeri? Mending Abang tetap di sini, walau akhirnya nanti jadi gelandangan"


"..Abang sempat mikir untuk kabur juga waktu itu. Tapi wanita paruh baya yang mengaku adalah saudara kandung Ibu terus berusaha merayu, ngebujuk sampe akhir nya Abang mau. Abang dibawa kerumahnya, disekolahin sampe Abang jadi seperti yang sekarang. Semuanya ga lepas dari kasih sayang mereka. Jika Abang ibarat kan Ibu dan Ayah adalah hujan saat kemarau maka mereka adalah pelanginya. Mereka punya tempat yang sama seperti Ayah dan Ibu"


Bang Wildan mengangkat kepala membuatku reflek tiba-tiba sedikit menjauh karna posisi kami yang sangat dekat


"Jadi sekarang Adek gak perlu merasa sendiri. Adek punya Abang. Kita lewati ini bareng-bareng ya" katanya pelan seraya menggenggam tangan ku. Akhir-akhir ini tanganku merasa murah sekali, karna terus-terusan berada dalam genggamannya. Aku juga tidak menolak, berada dalam genggaman hangatnya setidaknya dapat mengurangi rasa takutku.


"Besok Abang anterin Adek ke rumah Nesya, Abang mau urus pernikahan Abang dulu. Ga lama, mungkin Satu minggu" ujarnya pelan.


Aku tertawa sinis dalam hati. Tiba juga rupanya hari pernikahan bang Wildan. Dan aku tidak di izinkan untuk mengikuti acaranya? Mungkin dia malu mempertemukan aku yang setengah gila ini dengan tamu-tamu kebesarannya. Yeah I know that Wildan!


"Adek gak keberatan kan Abang tinggal satu minggu?" Tanyanya sambil melihat mataku. Aku diam, membalas tatapannya tanpa ekspresi apa-apa. Kalo aku bilang keberatan apa dia akan mengurungkan niatnya? Tidak kan? Rayya tetaplah segalanya bagi Bang Wildan dan sekarang aku harus belajar menerima apapun yang terjadi. Aku anak yatim piatu yang harus siap dilempar kemanapun saat dia tidak ada.


"Kalo urusannya udah kelar, Abang langsung balik" dia memastikan perkataannya kepadaku. Dan aku tetaplah aku yang kini susah untuk membuka suara dan tersenyum.


Bang Wildan akan menikah dan gelar ku sebagai anak sebatang kara, sah sudah.


🍁🍁🍁