My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 19



Baru kemarin aku bersender di pundak mereka. Rasanya baru semalam aku bermanja-manja dan tidur dalam pelukan keduanya. Kenapa rasanya terlalu cepat. Kenapa tanpa aba-aba. Kenapa saat aku belum siap?


Ini mimpi kan? Gundukan tanah didepanku ini pasti bukan Mami dan Papi. Bukan! Mami dan Papi tak mungkin pergi secepat itu. Mami dan Papi pasti ingin melihatku kuliah dan mengelola kebun teh kita kan?


Mami ayo muncul! Papi dimana? Nanti siapa yang bakal jagain Adek? Siapa yang bakal kucirin rambut Adek? Siapa yang mau motong kuku Adek? Siapa yang nemenin Adek tidur kalo hujan?


Mami? Mami bilang mau lihat Adek pakek kebaya itu kan di acara nikahan bang Wildan? Mami kan yang kemarin paling antusias nyiapin acara bang Wildan? Kenapa Mami pergi sebelum acaranya di mulai Mi?


Papi? Papi bilang mau lihat Adek mimpin petani-petani yang akan kerja dikebun kita kan? Papi kan yang paling semangat nyuruh Adek kuliah di jurusan pertanian? Kenapa Papi malah hilang bahkan sebelum Adek tamat SMA?


Mami sama Papi tega ya lihat Adek kek gini? Mami sama Papi seneng ya buat Adek kesepian? Selama bertahun-tahun Mami dan Papi nunggu kehadiran Adek, dan setelah ada Mami dan Papi yang ninggalin Adek lebih dulu?


"Zee" Nesya menyentuh bahuku yang masih sibuk memeluk batu nisan kedua permataku.


Aku meraba tanah basah yang dipenuhi bunga-bunga di atasnya. Aku kembali terisak. Mami? Papi? Adek mau tinggal sama siapa?


"Dek?" Aku diam. Bang Wildan yang berjongkok di seberang menggenggam tanganku. Memang hanya tinggal kami bertiga disini. Aku tidak ingat sudah berapa jam orang-orang yang ikut melayat sudah pergi termasuk keluarga besar kak Rayya dan teman-teman sekelasku.


"Pulang yuk. Udah mau sore" bujuknya pelan. Aku menggeleng. Biar sore, biar malam, aku ingin tetap disini. Aku ingin tidur dengan Mami dan Papi.


"Adek belom makan dari siang. Nantik magh Adek kambuh" rayunya lagi.


Aku mengeratkan pelukan ku pada batu nisan itu. Siapa peduli? Magh tidak seberapa dengan rasa kehilangan ku.


"Zee. Bang Wildan bilang bener lho. Kita pulang ya?" Kali ini Nesya yang bersuara.


Aku bergeming. Pandanganku terus menunduk ke bawah. Dunia ini tidak adil! Mengapa diantara banyaknya orang kenapa Mami dan Papiku yang lebih dulu pergi? Aku akan menjadi apa jika mereka tidak ada?


Air mataku kembali berjatuhan. Entahlah aku tidak tau sudah seberapa banyak jumlahnya yang terbuang hari ini. Area mataku perih, bahkan untuk memejamkan mata saja sakit.


"Adek?" Kurasakan bang Wildan kini sudah berpindah di sampingku. Dia merangkul bahuku dan membawa kepalaku ke pundaknya. Ku rasakan kecupannya lama disana. Aku terlalu lemah untuk melawan.


"Kita pulang ya?" Bang Wildan menarik tanganku dan membawaku berdiri. Ku rasakan perut ku mulai berputar. Sepertinya tebakan bang Wildan benar! Magh ku kambuh. Aku memegang perutku pelan.


"Magh Adek kambuh?"


Aku mengangguk.


"Yakin masih bisa jalan?" Tanyanya khawatir.


Aku mengangguk lemah. Nesya ikut berjalan disamping dan memeluk pinggangku.


Bang Wildan membuka pintu mobil dan membantuku untuk masuk. Dia memasangkan ku sealtbeat sebelum melangkah masuk dan duduk di kursi kemudi.


Aku menyenderkan kepalaku ke jendela. Aku memejamkan mata lemah.


Tuhan aku lelah!!!


🍁🍁🍁


Aku rindu suara itu. Aku ingin kembali memeluk mereka. Mengapa semesta terus mempermainkan aku? Aku menggigit bibir bawahku kuat. Kurasakan ada yang robek, kemudian cairan kental yang berwarna merah dan sedikit asin mulai membanjiri mulutku.


Aku memejamkan mata kuat. Aku ingin mati saja!!


Aku bangkit kemudian melangkah dan berdiri didepan kaca. Kulihat pantulan tubuh kacauku di sana. Rambut awut-awutan. Mata membengkak disertai lingkaran hitam disekitarnya. Hidungku memerah dan sekarang bibirku dipenuhi darah.


Aku tersenyum sinis. Untuk apa lagi aku hidup?


Aku menggepalkan tangan sebelum melabuhkannya kuat ke arah kaca didepanku.


Prankkkk!!!!


Ku rasakan cairan merah mulai mengalir di sela-sela tangan ku. Belum cukup, aku menggeser semua benda-benda yang ada didepan kaca hingga terjatuh. Bunyi pecahannya yang terus menggema membuat ku semakin lega.


Aku berjongkok ingin mengambil pecahan-pecahan kaca yang sudah berserakan di lantai dan menggenggamnya kuat.


"ADEEEKKK" sebuah teriakan mengagetkanku. Aku menoleh, seorang pria datang menghampiri ku dan menjauhkan pecahan-pecahan kaca itu dari ku.


"Kamu ngapain Dek?" Tanyanya panik seraya mengangkat tanganku yang sudah dipenuhi darah.


Aku diam tak menjawab. Dia menyentuh bibirku yang sudah kering dengan darah.


"Kamu apain tubuh kamu Dek?" Tanyanya lagi. Dia berseru waspada saat melihat keadaan ku.


Aku menarik sebelah sudut bibirku. Dia tidak akan paham bagaimana perasaanku.


"Ayo kita keluar! Biar Abang bersihin lukanya"  pria itu membawaku keluar dan mendudukkan aku di sofa. Dia kembali dengan membawa kotak p3k ditangannya.


Aku pasrah saja saat tanganku di cuci dengan air. Dia menumpahkan sedikit alkohol di kapas lalu membersihkan lukaku dengan pelan.


Aku menatapnya nanar "Mami sama Papi balik lagi gak?" Tanyaku kepadanya.


Dia yang sedang telaten membersihkan tanganku berhenti, kemudian mendongak menatap ku sesaat. Dia mengambil kepalaku dan mengecup keningku lama. Aku mengerjap-ngerjap saat dia melepaskannya.


"Adek apain bibirnya?" Dia beralih ke bibirku yang kini sudah membengkak. Aku memejamkan mata menahan perih saat kapas itu menyentuh sobekan di bibirku


"Adek gigit ya?" Tanyanya lagi masih tetap fokus membersihkan bibirku.


Aku mengangguk lemah saat dia mengelus kepalaku lembut. Pria itu tersenyum hambar. "Adek kuat kan?" Katanya kemudian.


Aku bergeming tidak menjawab. Aku telah kehilangan kekuatan sejak mereka pergi. Lalu bagaimana cara aku kuat?


🍁🍁🍁