My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 4



"Ze lo ingat gak kejadian minggu kemarin waktu di gang?"


Aku berpikir sejenak kemudian menggeleng sambil terus mengunyah bakso didalam mulut. Kami sedang berada di kantin sekarang dan tujuh menit lagi lonceng masuk pasti akan segera berbunyi.


Nesya tampak menghela nafas "Yang waktu kita ngejar Aldo itu lho Ze" Nesya menghadap sepenuhnya ke arahku setelah mendorong mangkok kosong yang telah kandas dimakannya.


Aku mengerutkan kening "Yah gue ingat! " Aku menjentikkan jari.


"Menurut lo itu siapa?"


"Yah mana gue tau! Kan dari pertama sampe pulang gue bareng lo terus" Jawabku sewot.


Nesya memijit kepalanya frustasi "Maksud gue mungkin lo punya kecurigaan sama seseorang?"


Aku diam coba mengingat-ingat "Gak ada. Selama hidup kayaknya gue ga pernah tuh punya masalah sama orang"


"Gue bingung kenapa tuh orang ngejar kita" Nesya menerawang "kayak seolah-olah memang ngincar kita. Lo ngerasa gitu gak Ze?"


"Untuk sekarang si gue gak ngerasain apa-apa. Tapi ga tau kedepan"


"Gue punya firasat buruk Ze"


Puk


"Paan sih? Sakit Asu" umpat Nesya mengelus lengannya yang baru ku geplak.


"Korban sinetron" Ucapku bangkit meninggalkan Nesya untuk membayar makanan kami. Ada-ada saja Nesya.


🍁🍁🍁


Aku berdiri menunggu jemputan Papi di dekat gerbang. Nesya sudah pulang duluan dengan gebetannya. Aldo. Sepeda motor ku rusak dan sekarang ada di bengkel, jadi terpaksa tadi pagi aku harus diantar Papi kesekolah.


Papi bilang akan datang lima belas menit lagi saat aku menelponnya setelah jam pelajaran terakhir. tapi sudah dua puluh menit aku menunggu Papi belum juga muncul.


Aku mengambil ponsel dan kembali menelepon Papi.


"Waalaikumussalam Adek maaf ya ini tiba-tiba ada klien Papi minta meeting mendadak" Ujar Papi dengan nada bersalah setelah telpon kami tersambung.


Aku mengerucutkan bibir kesal "Tuh kan Papi ingkar janji"


"Maaf Adek ya Allah Papi harus gimana? Ini sekarang aja Papi izin sebentar jawab telpon Adek. Papi suruh bang Wildan aja ya?"


Aku menggeleng cepat "Gak gak. Ga usah! Adek pulang jalan kaki aja!" Aku mematikan ponselku sepihak. Keadaan sekolahku mulai sepi. Aku paling anti dengan orang yang mengingkari janji.


Ku langkahkan kaki ku keluar gerbang. Mataku kabur, kurasa ada air yang merembes disana. Inilah aku! Si Gadis keras namun cengeng dan cepat tersentuh hanya dengan hal-hal seperti ini.


Ponsel ditangan ku bergetar untuk yang ke tiga kali. Kulihat sekilas. Papi. Aku mengabaikannya.


Sebuah motor berdiri tepat didepanku membuat langkah ku terhenti.


"Ngapa lo masih disini?" Aku bertanya setelah tau siapa yang sengaja berhenti didepan ku. Adrian. Kapten basket dan ketua geng Samudera yang cukup terkenal di sekolah ku ini.


Pria itu tersenyum sambil menyugar rambutnya kebelakang setelah membuka helm. "Bareng kuy! Gue kosong nih" Dia menepuk jok belakang motor nya.


"Cewek lo mana?" Aku tidak bisa sembarangan menumpang dengan laki-laki orang. Aku tidak akan siap jika digelari dengan pelakor.


"Siapa? Syera?" Ia bertanya balik kepadaku.


"Ya mana gue tau! Lo kan playboy! Tiap Minggu ganti"


Rian terkekeh tidak menanggapi pernyataan ku. Entah dia membenarkannya atau memang telah kehabisan kata-kata untuk menjawab.


Aku berpikir sejenak. Menimbang. Haruskah aku menerima tawaran laki-laki buaya ini.


"Oke! Tapi awas kalo besok gue trending disekolah gara-gara lo" Ancamku setelah memasang helm di kepala.


"Siap. Tar gue tanggung jawab" Jawabnya yakin.


"Rumah lo dimana?" Rian bertanya setelah beberapa saat kami berbaur dengan kendaraan lain di jalan.


"Komplek Cempaka lorong Tuna nomor 03" Jawabku lengkap


Motor Rian berhenti tepat didepan gerbang rumahku. Aku turun dan melepaskan helm. "Thanks banget ya" Ucapku tulus.


"No problem. Kalo butuh bantuan gue siap kapan aja kok" Jawabnya tersenyum.


"Najis" Jawabku dan kami tertawa.


"Ekhem" Sebuah suara menegur membuat kami terdiam dan menoleh.


Bang Wildan. Selalu dia. Rian tersenyum ramah sambil mengangguk menyapa bang Wildan. Bang Wildan membalas, namun hanya dengan senyuman tipis. "Kamu pacar Zeya?"


Serentak kami berdua menggeleng. "Bukan! Dia Adrian, temen Zeya" Aku mengenalkan Rian pada bang Wildan.


"Temen? Temen deket? Sahabat? Atau lebih dari itu?" Bang Wildan bertanya lagi.


Aku mengerutkan kening bingung. Kemana arah pertanyaan pria ini.


"Temen biasa" Jawabku ketus. Muak dengan tingkah bang Wildan.


Bang Wildan mengangguk, berjalan mondar-mandir didepan Rian sambil mengelus dagunya. "Temen biasa?" Bang Wildan berhenti dan menatap Rian. "Tapi bisa sedeket ini? Hebat!"


Rian terkekeh. "Masih on proses juga bang. Doain aja"


"On proses? Maks-""


"Rian makasih banget ya tumpangannya. Lain kali kita ngobrol lagi. Gue masuk dulu bye" Aku menyela ucapan bang Wildan. Menarik tangannya untuk pergi setelah melambaikan tangan kepada Rian.


"Bang Wildan apa-apaan sih? Ngapain harus segitunya sama Rian?" Tanyaku setelah tiba didalam rumah. Ini benar-benar memalukan. Rian pasti bisa berpikir yang macam-macam tentang ku karna kejadian ini.


"Emangnya kenapa? Salah?"


"Ya salah lah!" Jawabku cepat


"Dimana salahnya?"


"Abang tuh kepo!"


"Kenapa kalo Abang kepo?"


"Aku juga punya privasi!"


Bang Wildan tertawa. "Privasi?" Tanyanya seolah mengejek.


"Please deh ini kehidupan aku. Biar aku yang urus. Bang Wildan ga perlu ikut campur. Urus aja tunangan bang Wildan yang cantik sejagat raya itu" Bentakku sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.


Aku melempar diriku ke atas kasur dan memeluk boneka beruang biru kesayangan ku. Aku terisak hingga tidak ingat apa-apa.


🍁🍁🍁