My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
My brother my husband



"Adek mau susu atau air hangat?" Mami bertanya seraya memindahkan sepotong telur dadar ke piring papi.


"Srucrur" Jawabku sambil mengunyahΒ  roti tawar yang masih penuh didalam mulut.


"Habisin dulu makanannya sebelum ngomong" Papi menegur dan kubalas cengiran untuk menanggapi.


"Hati-hati! Masih panas itu!" Mami mengingatkan saat aku dengan semangat ingin menandaskan gelas susu yang baru mami bawa.


"Abang mau nasi goreng atau roti?" Mami bertanya pada sosok yang baru menarik kursi disampingku. Semerbak harum dari parfume yang dipakainya sontak membuatku terbuai jika tidak langsung disadarkan oleh sebelah tangan yang mengacak-ngacak rambutku.


"Samain kayak adek aja mi" jawabnya dengan tawa yang tertahan setelah kutepis kasar tangan kurang ajarnya itu.


"ikutan mulu" komentar ku saat sepotong roti tawar berselai kacang sudah ada didepannya.


"Miii adek nyebelin nih" pria itu melapor dan sukses membuat mami melayangkan tatapan penuh peringatan kepadaku.


Aku menatapnya tajam seolah memberi ancaman dan pria itu hanya membalasnya dengan tawa.


"Sinting"


"Adek"


"Adek"


Aku memutar bola mata malas saat mami dan papi secara tidak sengaja menegurku bersamaan setelah mengumpati si Wildan yang sok hebat itu. Dan lihatlah lagi-lagi dia tertawa seakan sedang mengejekku.


Aku menghabiskan susu yang masih tersisa, menarik tissue, membersihkan sekitaran mulutku dan beranjak pergi dari meja makan setelah menginjak kaki Wildan sekuat tenaga.


Mampus!!!


"Adekkkkk??" Sempat kudengar teriakan mami saat aku telah menghidupkan sepeda motor. Wildan pasti sudah mengadukan kejahilanku pada mami lagi. Dasar anak manja!


"Iyaa mamii adek berangkat yaaa.. Daaa...." Aku membalas teriakan mami sebelum kulajukan sepeda motor keluar dari gerbang. Setidaknya pagi ini aku dapat membalas rasa sakit hatiku pada manusia yang bernama Wildan itu.


...🍁🍁🍁...


"Ngapa bang Wildan nelpon gue kemaren?"


Aku mengalihkan perhatian yang sedang menulis catatan di papan tulis kearah Nesya dengan dahi berkerut.


"Maksud lo?" Tanyaku tidak mengerti.


"Bang Wildan Nanyain elo lagi dimana ama siapa" Nesya mengecilkan volume suara saat tiba-tiba buk Diah membalikkan tubuhnya memperhatikan seisi kelas, dan kembali membelakangi kami setelah memastikan tidak ada apa-apa.


"Ya biasakan juga gitu ogeb! Disuruh mami" Jawabku sedikit ketus.


"Gak Ze! Kali ini tuh kayak beda"


"Beda apanya?"


"Eum iya buk anu itu tadi polpen saya jatuh" aku bernapas lega setelah buk Diah menghadapkan tubuhnya ke papan tulis lagi. Nesya sih ngomongnya setengah-setengah. Kepancing kan jadinya.


"Dia sampe nanyak lo lagi deket ama siapa? Sahabat cowo lo siapa aja? Aneh ga sih?"


"Ya itu suruhan mami Nesyaaa" aku memelankan suaraku sehalus mungkin.


"Tapi kok gue ga yakin ya" Nesya setengah menerawang.


"Serah lo" Aku menyambut tip x yang di lempar Juan dan menghapus typo yang baru saja kubuat. Salah Nesya sih. Aku yang harusnya ingin menulis wilayah berakhir menjadi Wildansyah. Asu memang!


Kelas sosiologi berakhir pukul sembilan lebih tiga puluh. Buk Diah sudah bersiap-siap untuk keluar setelah bel istirahat berbunyi. Begitu juga kami yang sejak tadi memang sudah ugal-ugalan menulis catatan.


Aku dan Nesya berjalan ke arah kantin yang keliatannya semakin ramai. Padahal ada tiga kantin besar di sekolah ini tapi yang paling diminati pasti kantin mungil sewaan bik Ayu.


"Zeya Zeya please stop" Nesya memegang lenganku membuatku harus berhenti.


"Napa sih lo?"


"Liat liat!" Nesya menunjuk ke layar kaca hpnya. "Gue ga percaya ini suruhan nyokap lo Ze!"


Aku mengambil hp Nesya dan membaca sebuah pesan baru yang dikirim oleh bg Wildan


"Apanya yang ga percaya si? Dia cuman nanyain gue lagi sama siapa" aku melanjutkan langkah ku menarik satu kursi yang ada dikantin dan duduk disana.


"Iya tapi sebelumnya bang Wildan ga pernah sedetail ini lho Ze!"


"Emang kenapa kalo sekarang dia sedetail ini? Lo ngarep dia punya rasa sama gue?" Tanyaku seraya meneguk sebotol air mineral yang baru ku buka.


"Yap! Bisa jadi"


"Uhukk..uhukk" aku memukul pelan dadaku yang terasa perih saat mendengar jawaban Nesya.


"Eh eh sory Ze. Makanya jan ngayal kalo lagi minum" Nesya ikut menepuk-nepuk punggung ku.


"Lo yang buat gue ngayal ******!"


Nesya nyengir. "Iya iya sory"


"Jan ngarang Nesya! Dia punya tunangan" Aku mengingatkan Nesya, mungkin dia lupa.


"Heh motto jomblo kayak kita itu 'Sebelum janur kuning melengkung jomblo bebas nikunggg" Nesya berteriak di akhir kalimat membuat aku harus menutup wajah saat setengah manusia yang ada dikantin menatap bingung ke arah kami.


"Bukan bestie gue please bukan!" Aku melangkah pergi dari kantin. Kehilangan selera untuk mencari semangkok mie ayam. Dan Nesya harus mengganti kerugian ini.


...🍁🍁🍁...