My Brother My Husband??

My Brother My Husband??
MMH 3



"Mami adek gak mau kalo jalannya sama diaa" aku merengek sambil memeluk betis mami yang sedang berdiri sambil menyambal ayam yang ada diatas kompor. Besok ada kelas seni budaya dan buk Sri meminta kami untuk membawa kerajinan tangan apa saja. Aku ingin ke pasar tapi mami tidak mengizinkan jika aku pergi sendiri dan alternatif Mami adalah bang Wildan.


"Papi lembur sampek malam dekkk.. mami ada pengajian" Mami beralih mengambil sesuatu didalam kulkas aku belum melepaskan pelukan hingga akhirnya terseret sampai mami kembali ke dekat kompor.


"Kenapa musti ada yang temenin sih Mi! Adek kan bisa nyetir sendiri" aku melembutkan suara merayu Mami agar tersentuh.


"Kamu kalo pergi sendiri ga ingat waktu. Tar kalo jalannya sama bang Wildan kan ada yang ingatin kamu untuk pulang" Mami berjalan mendekati wastafel untuk mencuci tangan dan lagi-lagi aku harus terseret ke sana.


"Tapi kan Nesya juga bisa ingatin adek" aku menempelkan kepala di lutut mami.


"Adek sama Nesya itu fivety fivety ga ada beda" bukan Mami. Aku menoleh ke arah sumber suara. Bang Wildan. Pria itu menarik salah satu kursi dari meja makan setelah mengambil gelas dan sebotol air mineral dari dalam kulkas.


"So tau lo" Aku melebarkan mata ke arahnya. "Mami sakitt ih" aku menyentuh bibirku yang baru pukuli mami. Lihatkan jangan coba-coba berbicara kasar dengan kesayangan mami


"Mamiii" aku merengek lagi sambil mengenduskan kepala ke betis mami.


"Pergi sama abang atau gak pergi sama sekali?"


Aku mengerucutkan bibir. Mami kok gitu banget sih.


Aku memelototi bang Wildan marah saat pria itu menaikkan sebelah alisnya mengejek. Kalo saja tidak didepan Mami pasti sudah ku cukur bulu alisnya itu.


"Iya iya" aku bangkit menghentakkan kaki ku ke lantai sebagai wujud kekesalan sebelum melangkah pergi.


Di mobil, aku hanya diam saja sambil terus menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak berniat untuk membuka pembicaraan dengan pria itu. Terkadang aku merasa aneh. Kenapa caraku memperlakukan bang Wildan berbeda ya? Padahal kan aku mencintainya, kenapa tidak ku manfaatkan saja waktu-waktu seperti ini dengannya. Kenapa aku malah marah-marah dan kesal saat harus melewati waktu dan bertemu dengannya?


"Dek?"


"Hm"


Bang Wildan melirikku. Aku menyadarinya. Namun kepalaku rasanya berat untuk berpaling walau hanya sedikit.


"Adek punya pacar?"


Aku mengerutkan kening. Tapi tetap menatap lurus ke depan. "Kenapa emangnya?"


"Jawab dulu" Bang Wildan mendesak


"Kalo gak punya?"


"Alhamdulillah! Bagus!" Aku kaget dan langsung menoleh kearahnya. Bang Wildan tersenyum. Aneh.


"Kalo punya?"


Bang Wildan diam. Senyumnya pudar dan pandangannya lurus kedepan. Dia menghela nafas "siapa?"


"Kepo lu kek Dora!" Jawabku sewot.


Bang Wildan terkekeh kemudian diam hingga kami tiba di pasar kerajinan yang tidak terlalu jauh dari rumah.


Aku langsung turun dan membaurkan diri diantara manusia-manusia yang ada disana. Siang ini cukup panas padahal, tapi ini tak membuat para pengunjung menyerah untuk sekedar jalan-jalan sambil mencuci mata atau memang ada keperluan sepertiku.


"Carik apa dek? Gantungan kuci? topi rajut? Tas rotan? Singgah dulu dek" seorang wanita menawariku untuk masuk kedalam tokonya.


Dengan senang hati aku menerima tawarannya. Aku mengambil salah satu lampu hias yang berbahan dasar stik eskrim.



"Cantik" gumamku sambil memutar-mutarkan benda yanga ada ditanganku.


"Mbak yang ini satu" aku menyodorkan lampu itu kepada kasir.


"Ini aja Dek?"


Aku mengangguk.


"Empat puluh delapan ribu lima ratus" ujar kasir itu sambil memasukkan lampu  ke dalam paper bag berwarna coklat.


"Biar abang aja" Bang Wildan menarik uang dari dompetnya dan memberikan kepada kasir.


Aku mendecih remeh "Sok kaya. Siniin barangnya" aku berlari mengejar langkah bang Wildan saat sudah keluar dari toko. Gak perhatian banget sih jadi orang! Harusnya kan walau tidak bisa membalas rasa cintaku setidaknya bisa menyayangiku sebagai adiknya. Tidak meninggalkan ku dibelakang seperti ini.


Aku berlari sambil mengerucutkan bibi kesal. Marah dengan perlakuannya terhadap ku "Hey" aku menunduk untuk menyapu sneakerku yang tiba-tiba diinjak di tengah keramaian. "Aduh!" Tubuhku terdorong hingga terjatuh ke tanah. "Wouy kalo jalan liat-liat dong!!" Bentak ku pada seorang pria yang baru menabrak ku.


Aku berusaha bangun sambil menepuk-nepuk bagian belakang rok ku. "Makanya kalo jalan itu hati-hati Dek" Tanganku sudah ditarik dan digenggam di sampingnya.


"Gue uda hati-hati!" Bentakku tak terima. "Tapi tu orang ga punya mata  hiks" Suaraku tertahan. Tiba-tiba saja perasaan ku menjadi melankolis. Tadi saat jatuh tak ada orang yang menolongku. Mereka hanya melihat ku sekilas kemudian berlalu. Puluhan manusia yang ada disini tapi tidak seorang pun punya hati.


"Lo sih napa ninggalin gue di belakang!!" Aku membentak bang Wildan. Ini juga salah dia! Karna mengejar dia sepatu ku diinjak orang.


Bang Wildan mendekat dan merangkul bahuku "Iya iya abang minta maaf. Kita pulang ya?" Tawarnya menatapku penuh iba.


Aku menghapus kasar air mata yang terus mengalir. Aku yang tadinya ingin marah jadi luluh dengan perlakuannya.


Ia membuka pintu mobil untuk ku. Aku masuk dan menarik beberapa tissue membuang ingus yang sejak tadi hampir mengalir.


"Adek mau makan apa?" Bang Wildan melajukan mobilnya keluar dari komplek pasar.


"Terserah" Aku masih sesenggukan.


"KFC mau?"


Aku menggeleng.


"Mcd? Ada menu baru lho disana"


Aku juga menggeleng.


Bang Wildan mengetuk-ngetuk dagunya seperti berpikir keras "Pizza? Richees Factory?" Tawarnya lagi dan aku masih menggeleng.


"Trus adek maunya apa?"


"Martabakkk" cicitku hampir tidak terdengar. Tiba-tiba bayangan martabak yang di taburi keju dan lumuran kental manis membuat liurku mengombak.


"Martabak?"


Aku mengangguk semangat. Bang Wildan tertawa sambil menggeleng. Apanya sih yang lucu?


"Nih" bang Wildan menyodorkan kresek putih berisi kotak martabak saat kembali ke dalam mobil setelah berhenti disalah satu gerobak pedagang  kaki lima.


Aku menyambutnya dengan cepat dan membuka kotaknya. Aku ingin turun sendiri tadinya dan mengantri di antara orang-orang yang juga menunggu pesanan mereka, tapi bang Wildan tidak mengizinkan. Dia menyuruh ku untuk tetap diam di mobil dan akhirnya dialah yang turun dan mengantri.


Aku menggoyang-goyangkan kepala nikmat saat lumuran keju dan susu sudah menyatu dalam mulutku. Please siapapun yang ga suka martabak punya masalah apa sih?


"Abang mau?" Aku mengambil sepotong martabak dan memberikan kepadanya.


"Akkkk" bang Wildan membuka mulutnya. Aku kikuk.


"Suapin dek! Abang lagi nyetir ini" ujarnya saat aku belum juga menyuapinya.


"Kan nyetirnya bisa sebelah tangan"


"Stirnya berat. Cepetan" bang Wildan kembali membuka mulut.


Ragu-ragu aku pun mendekatkan tangan ku ke mulutnya.


"Aw sakit ihhh" aku memukul lengan bang Wildan dan menarik tissue kemudian membersihkan telunjuk ku yang sengaja digigitnya. Bang Wildan tertawa puas setelah itu. Dasar!! Kesal, namun tak urung bibir ku  tertarik juga saat mendengar tawanya.


Dia terlalu manis untuk di abaikan. Bang Wildan punya rahang yang tegas dan hidung yang sempurna. Rambutnya sering berantakan saat bangun  tidur. Sorot matanya berubah-ubah. Kadang tajam kadang teduh dan terkadang dapat meluluhkan.


Aku terpuruk dengan rasaku sendiri. Salahkah jika aku menyimpan rasa kepada bang Wildan? Aku mencintainya.


🍁🍁🍁