
31
"Kemarin siapa yang jawab telepone Momy?" Kalea masih penasaran, meskipun ia duduk tenang saat Rachel menguncir rambutnya tapi bibirnya tidak berhenti bertanya. "Momy pulang sama siapa?"
"Ibu, El ... bukan Momy," ralat Rachel. "Kenapa kamu penasaran? Bukannya kamu tahu kalau ibu pergi sama bos ibu?" Sama halnya dengan Kalea yang penasaran dengan dirinya ia penasaran juga kenapa putrinya memiliki insting sangat kuat seperti seorang detektif.
"Kalau Om itu memang bos Momy kenapa tanya Kalea siapa? Kan udah tahu Kal anaknya Momy, tapi kenapa tanya lagi!?" tuntut Kalea lagi.
Rachel tercekat mendengarnya, ia bingung harus menjawab apa. Ternyata anak dan ayah itu memang memiliki insting yang sama kuatnya.
"Sayang, Ibu buru-buru banget. Maaf, ya pagi ini ibu nggak bisa temenin kamu sarapan. Kalea sama bude, ya." Rachel meletakkan sisir di meja rias kemudian menggendong Kalea keluar kamar.
Kalea memghembuskan nafas lelah. Lelah berdebat dan lelah mendengar alasan ibunya yang terkesan selalu menghindar.
"Udah mau berangkat, El? Kamu masih ingat pesan kakak 'kan?" Ya, malam tadi ia telah memberikan peringatan keras untuk Rachel agar tidak mengulang kesalahan. Audy tidak akan memaafkan Rachel dan tidak akan terima kalau Rachel berhubungan dengan Kenzi lagi.
"Iya, Kak. Aku nitip Kalea, ya." Ia mencium pipi Kalea. "Ibu pergi ya, Sayang...."
"He'em. Ibu nggak lupain permintaan Kal 'kan? Kal masih nunggu!"
Hati Rachel terasa luruh, sungguh permintaan Kalea sangat sulit di wujudkan.
***
Belum bertarung tapi Lian merasa telah kalah, ia tidak bisa terima kalau Bara merupakan bagian dari masa lalu Rachel. Namun, meskipun ia marah karena Rachel dari awal tidak jujur padanya, namun Lian tetap menepati janji mengantar jemput Rachel.
"Maaf, ya..." Rachel kikuk melihat bekas luka telah mengering di sudut bibir Lian. "Karena aku kamu jadi korbannya Kenzi," cicitnya.
Lian mulai melajukan mobil membelah jalan raya. "Kamu sama dia memang sudah usai 'kan, El?" Rasanya Lian malas menyebut namanya.
"Sudah, tapi Kenzi nggak tahu kalau dia punya anak." Rachel menerawang jauh. "Kalau bisa nggak tahu selamanya. Aku bisa minta tolong kan, Lian? Please... biarkan aku egois."
"Aku tidak membenarkan sikapmu ini, El. Bagaimanapun juga dia berhak tahu tentang anaknya. Tapi, mengingat dia sudah bertunangan dan akan segera menikah aku pikir gak ada salahnya kalau kamu menunda memberitahunya sampai dia benar-benar menikah."
"Apa lagi ... om Abimana belum tentu mau mengakui anak kamu sebagai cucunya. Aku khawatir ... anak kamu nanti kecewa," tambahnya lagi.
Mengingat Kenzi akan menikahi wanita lain saja sudah mengoyak hati Rachel. Ditambah fakta bahwa Abimana adalah alasan Kenzi meninggalkannya dulu semakin menyincang perasaannya. Semua yang dikatakan Lian memang benar.
"Itu sebabnya aku mohon kamu tetap jaga rahasiaku ini," pinta Rachel lagi.
Lian melirik sekilas, ia tersenyum penuh arti kepada Rachel. Sementara Rachel juga melihatnya. Ttapi ada syaratnya, El...," ucapnya sebelum akhirnya melihat lurus ke depan lagi.
"Syarat apa...?" tanya Rachel penasaran bisa-bisanya dalam keadaan setengah panik memikirkan masalahnya, Lian malah menambah lagi. "Syarat apa, Lian?" Rachel mengulang pertanyaan yang sama, ia mengernyit bingung melihat wajah Lian yang menurutnya sedikit menyebalkan kali ini.
"Jadilah pacarku ...."
***
Hampir sepanjang malam Kenzi tidak bisa tidur. Penyebabnya bukan karena pertengkaran dengan papa, melainkan ia tidak bisa berhenti memikirkan bocah kecil yang pernah ia temui waktu itu memiliki suara yang sama persis dengan suara anak Audy.
Rasanya Kenzi tidak bisa percaya begitu saja kepada Rachel. Hingga ia memutuskan untuk mencari tahu fakta sebenarnya. Kenzi berharap Rachel sedang menipu dan berusaha menutupi kebenaran darinya.
Urusan kantor ia abaikan sejenak, urusan papa ia serahkan pada waktu, tentang Lian yang masih berusaha mendekati Rachel kali ini ia beri kelonggaran, ia yakin pelajaran yang ia berikan malam tadi pasti membuat Lian tidak berani lagi mendekati Rachel.
Kenzi melajukan mobilnya menuju apartmen yang ditempati Rachel, ia sengaja datang sepagi ini karena yakin Rachel pasti sudah pergi ke kantor. Itu artinya anak itu pasti ada di sana bersama Audy. Urusan Audy ... ia pasti bisa mengatasinya.
Setelah tiba di depan bangunan yang menjulang tersebut, Kenzi tidak membuang waktunya, ia bergegas mencari informasi dari satpam dan apa yang ia dengar dari satpam membuat rasa penasaran di dirinya semakin dalam. Satpam itu membenarkan jika wanita dan anak kecil yang ia sebutkan ciri-cirinya memang menetap di sana, tapi satpam tersebut bisa memastikan kalau tidak ada pria yang tinggal di sana.
"Apa-apaan ini? Harusnya suami istri tinggal di tempat yang sama 'kan? Aku semakin ragu kalau Audy sudah menikah."
***
Sambil menunggu Rachel dan Kenzi tamat, mampir dulu ke sini𤧠Maacih