My Boss My Ex

My Boss My Ex
23. Ba ku Han tam



23


Rachel sekilas memejamkan mata, sungguh ia telah kehabisan kata-kata dan hampir kehilangan akal menghadapi Kenzi. Wajah pias Lian menjadi pusat perhatiannya saat ini.


Lian menatap Rachel penuh tanya, berharap wanita itu menyangkal apa yang baru ia dengar. Tapi, diamnya Rachel menjelaskan semuanya. Hari Lian terasa seperti ditusuk belati saat menebak kemungkinan Bara adalah ayah dari putri yang dirahasiakan Rachel.


"El...," lirih Lian menuntut penjelasan. "Apa ini yang kamu takutkan?" tanya Lian, suaranya terdengar bergetar. Lian teringat percakapan mereka sebelumnya, pantas saja Rachel takut sekali jika Bara tahu tentang gadis kecil itu.


Rachel bergeming, bibirnya terasa keluh untuk berucap. Rachel dilema, ia takut semakin mengoyak perasaan Lian jika bicara, namun jika tetap diam, takut Lian dan Kenzi berfikir jika ia membenarkan pengakuan Kenzi.


Sementara Kenzi tidak bisa menahan diri lagi saat Rachel dan Lian saling menatap dalam. Tidak perduli hubungan apa yang dimiliki Lian dan Rachel. Satu hal yang pasti ia tidak akan biarkan siapapun mejalin hubungan dengan Rachel. Sontak saja, pria itu bergegas mendekati Rachel.


"Ayo, Ra ... kita pergi dari sini!" ajaknya setelah meraih tangan Rachel.


"Lepasin! Aku gak mau ikut sama kamu. Jangan paksa aku seenaknya!" pekik Rachel, ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kenzi. Tapi, nyatanya usahanya sia-sia.


"Kamu yang maksa aku melakukan ini, Ra. Kalau kamu gak mau aku bertindak lebih jauh dari ini, maka setelah ini aku harap kamu gak menghindariku lagi!"


Kenzi menarik tangan Rachel, hingga wanita itu terpaksa mengikutinya. Lian pun tidak tinggal diam, berontaknya Rachel menandakan jika wanita itu tidak mau ikut dengan Bara. Tanpa mau membuang-buang waktu, Lian bergegas menghadang jalan sahabat gilanya itu.


"Lepasin Rachel!" Lian berdiri di depan Bara, seketika Bara berhenti melangkah. "Gue yang jemput Rachel, jadi dia sudah tanggung jawab gue!" imbuhnya, ia cengkram tangan Bara.


Kenzi mendesahkan nafas di udara, matanya tidak lepas dari Lian. "Gue cowoknya, gue yang lebih berhak atas Rachel. Malam dan seterusnya, gue pastikan Rachel aman sama gue! Jadi, lo gak perlu pasang badan sok jadi pahlawan pelindung untuk cewek gue!" ujar Kenzi, tangannya yang bebas ia gunakan untuk menolak bahu Lian. "Minggir!!!" Kenzi berseru angkuh.


"Cukup Kenzi!!!" sentak Rachel, ingin sekali ia mengetok kepala Kenzi saat ini juga. "Kamu sudah sangat keterlaluan!!"


Kenzi mengangkat sebelah alisnya, tersenyum angkuh meremehkan Lian. "See ... Rachel masih fasih menyebut nama kesayangan itu, Kenzi!" ucapnya, semakin memamerkan hubungan yang ia miliki dengan Rachel.


Lian menatap nanar, batinnya semakin sakit tidak tertahan. Wanita yang ia sukai setulus hati ternyata sudah lebih dulu dimiliki sahabatnya sendiri. Mengapa ia tidak pernah tahu tentang ini. Kekecewaan terlukis jelas di wajahnya.


Kenzi cukup terkesiap mendengarnya, namun jangan harap ia akan diam saja. Di detik itu juga, ia meraih dagu Rachel kemudian mengecup bibirnya sekilas. Mata Rachel terbiak menatapnya.


"Masih semanis dulu, Ra...," ucapnya, ia raba bibir Rachel saat wanita itu masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Sementara Lian sudah mengepalkan tangan. Selama ini ia sudah mati-matian untuk menahan diri agar tidak sampai lepas kendali menyentuh Rachel, tapi Bara si setan ini malah mencium Rachel di depan wajahnya. Lian menarik Bara hingga sedikit menjauh dari Rachel.


Bug!!!!


"Brengsek, lo!" umpat Lian, setelah melepaskan tinjunya tepat mengenai wajah Bara.


Kenzi tidak mau kalah, ia menangkis tangan Lian yang hampir mengenai wajahnya lagi.


Bug!!!


"Jangan pancing emosi gue, mending lo pergi dari sini!!" teriak Kenzi, ia dorong tubuh Lian hingga terjatuh di aspal, beruntung mereka tidak berada di tengah jalan raya saat ini. "Pergi lo!!"


"Kenzi, stop!! Kamu jangan bertingkah di sini!" Rachel menghampiri Lian dan membantu Lian berdiri. "Maaf ...," ucap Rachel penuh penyesalan kepada Lian.


Kenzi semakin kesetanan saja, ia cemburu hingga akhirnya kembali menarik Lian dan melayangkan tinjunya.


Bug!!


Bug!!!


Kedua pria itu saling ba ku han tam di jalanan.