My Boss My Ex

My Boss My Ex
28. Cup



28


Bangku panjang terbuat dari kayu jati yang telah dipernis itu menjadi tempat duduk Kalea dan Audy. Cahaya temaram dari bohlamp di taman berbentuk mini menjadi penerangan mereka berdua. Kalea antusias memerhatikan setiap mobil yang datang, tapi berulang kali ia harus menelan kecewa karena bukan ibunya yang ke luar dari mobil tersebut.


Lima menit ....


Sepuluh menit....


Lima belas menit....


Hingga tiga puluh menit berlalu.


Kalea tidak bisa lagi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Audy, sebab matanya terasa semakin berat saja.


"Kita masuk, ya. Kal bisa tanya sendiri sama ibu nanti," bujuk Audy, ia dekap Kalea di pangkuannya ala koala. Wajah Kalea bersandar di bahunya, mata anak itu pun mulai terpejam, tapi Kal malah menggelengkan kepala menolak usulan Audy.


"Di sini dingin, nanti kamu masuk angin," ucapnya sembari mengelus punggung Kalea. Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir mungil Kalea, suara dengkuran kecil mulai terdengar pertanda Kalea sudah tidur dalam pangkuannya.


Audy memutuskan membawa Kalea kembali masuk ke dalam unit apartmen, namun ia mengurungkan niatnya kala melihat sebuah mobil warna hitam baru saja berhenti tidak jauh dari tempat ia duduk saat ini. Tiba-tiba darah di dalam dirinya mendidih melihat laki-laki yang baru saja turun dan mengitari mobil untuk membukakan pintu di sisi lain. Jantung Audy hampir luruh ketika melihat Rachel turun dari mobil tersebut, hingga Audy mengencangkan pelukannya terhadap Kalea.


***


Kenzi mematikan mesin mobil tepat di gedung tinggi yang menjadi tempat tinggal Rachel saat ini, ia lega karena Rachel berada di tempat yang aman. Sebenarnya, Kenzi tidak percaya perihal anak Audy seperti yang dikatakan Rachel sebelumnya, hingga Kenzi berusaha membujuk Rachel agar mengijinkan ia ikut masuk ke dalam sana.


"Buka pintunya, Ken!" Rachel berusaha membuka pintu yang dikunci otomatis oleh laki-laki yang menatapnya di balik bangku kemudi.


"Kamu gak mau nawarin aku kopi atau teh hangat, gitu?"


"Udah malam, ini bukan waktu yang tepat," jawab Rachel. "Lagian, aku gak yakin kamu mau ketemu sama kak Audy," decihnya.


"Mantan calon kakak ipar!" tegas Rachel. "Asal kamu tahu aja, kak Audy udah benci banget sama kamu dan gak mau ketemu sama kamu. Jadi, tolong jangan muncul di hadapan kak Audy dan jangan menambah beban pikiranku lagi."


Rachel tidak sedang berbohong, ia juga sedang berusaha mencegah Kenzi agar tidak ikut masuk dan bertemu dengan Kalea. Audy bisa diajak kompromi dan pasti mau bekerja sama mengakui Kalea sebagai anaknya. Tapi, tidak dengan Kalea. Anak itu pasti akan berkata jujur dan apa adanya.


"Ra, ak---


"Jangan paksa aku lagi, Ken. Aku lelah ... setidaknya biarkan malam ini aku tidur nyenyak," pungkas Rachel memohon, ia sengaja menakupkan kedua telapak tangannya di depan Kenzi.


Kenzi mengusap wajah gusar, ia benci keadaan ini, ia benci pada diri sendiri yang selalu harus memaksa Rachel. Tapi mau bagaimana lagi? Rachel sendiri yang minta dipaksa. Sepertinya tidak apa bila malam ini ia harus melepaskan Rachel, karena mereka baru saja menghabiskan waktu berdua. Tanpa banyak kata Kenzi menurut, mengitari mobil membukakan pintu untuk Rachel.


"Sampai ketemu besok, Ra," ucap Kenzi begitu Rachel berdiri di depannya.


"Siapa juga yang mau ketemu kamu lagi." Bibir Rachel ingin memaki saja, tapi hatinya selalu berdebar ketika mata pria itu mengunci manik matanya.


"Uhhhhh ... calon istriku semakin galak dan menggemaskan," ucap Kenzi sambil mencubit kecil pipi Rachel. "Happy nice dream, Ra...."


Cup!!!


Satu kecupan hangat ditinggalkan Kenzi di kening Rachel, ia pergi dari hadapan Rachel sebelum wanita itu protes dan mengamuk padanya.


Rachel masih mematung di temparnya, ia shock dengan apa yang dilakukan Kenzi. Matanya masih terbiak sempurna melihat mobil Kenzi menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Bukan hanya Rachel yang shock dengan apa yang baru saja terjadi. Audy yang masih bergelud dengan pikirannya bertambah sesak melihat perlakuan Kenzi kepada Rachel. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah ikatan mereka masih terlihat sangat kuat. Mengapa bisa seperti itu? Bukankah selama ini Rachel sudah sangat membenci Kenzi?


Sebenarnya ingin sekali Audy menemui Kenzi untuk memaki dan menghajar laki-laki itu, tapi ia tidak mau Kenzy dan Kalea saling bertemu dan berhadapan dengan Rachel. Apa jadinya bila semua itu terjadi? Mereka semua tidak akan bisa mengelak lagi, sebab ikatan Kalea dan Kenzy sangat kuat, buktinya feeling Kalea terbukti nyata. Ayah anak itu memang sedang bersama ibunya.